
"mmh!" ia membuka kelopak matanya.
"tempat apa ini" bingungnya.
tempat itu sedikit gelap ia terkulai lemas, bibirnya tidak sanggup untuk mengeluarkan suara sedikitpun.
"sudah bangun ya?" tanya seseorang,dia mendekati sofia.
"kau, siapa..."bahkan suaranya tidak setinggi yang ia harapkan.
"emm, siapa ya?"ia tersenyum jahil.
"kau ingat aku?"
sofia menerka nerka wajah itu, ya! itu orang yang kemarin ia beri uang.
"k-kau!"
"oh, sudah ingat?"ia berjalan mendekat.
"m-mau apa kau!" takutnya, sofia memundur hingga ia menyentuh tembok.
"tidak ada, hanya ingin memberi sebuah pelajaran" raut wajahnya berubah menjadi datar.
ia mengambil botol bir yang berada di sekitar sana.
*pyarr!!
sofia memejamkan matanya.
"lihat!"bentaknya.
sofia tetap memejamkan matanya, sedikitpun ia tidak membukanya sampai dimana orang tadi memegang dagu sofia.
"lihatlah" ia membuka penutup matanya.
"ini semua karna mu!"
bola mata sofia membulat, ia melihat darah yang menetes dari jarak yang sangat dekat.
darah itu keluar dari mata orang tersebut, dan pastinya itu sudah tidak bisa digunakan untuk melihat lagi.
"i-itu" gelagapnya dengan nada rendah.
"ya! itu semua karna kesalahanmu!" ia berdiri.
"kesalahan apa?!"
namun perkataan sofia tidak di dengar oleh orang itu, malahan sofia di tarik kasar.
lalu ia di hempaskan ke lantai, yang sudah di hiasi pecahan botol bir tadi.
"argghhh!!!"
ia merasakan rasa sakit luar biasa di bagian tangannya dan bagian tubuh lainnya yang terkena pecahan juga.
"hiks!... hiks..." ia meneteskan air matanya sebanyak mungkin.
saat sofia ingin beranjak kepalanya di tahan oleh orang yang sama.
"ha, mau pergi?"
"disini kau harus melayani ku segenap jiwa bukan?"
"aku... hiks!.. tidak mau..."
"kau menolak?"
"baiklah kalau begitu kau harus merangkak di atas api, mau?"
sofia tidak berkata apapun, namun air matanya terus mengalir.
"ku anggap kau tidak menginginkan itu" ia tersenyum.
"kalau begitu merangkak lah"
sofia menurut, ia tidak tau harus bagaimana lagi, hanya tangisan yang ia bisa lakukan.
*cklek!
sebuah pintu terbuka, menampakkan sosok gadis yang sofia mungkin kenal.
"kau!"
"tolong aku!... hiks... kumohon!..." ucapnya.
namun orang itu malah menunduk mengambil kaca mata hitam beserta tongkat milik sofia.
ia berbalik hendak pergi.
"tolong! kita kan teman!" mohon nya.
orang yang hendak pergi itu menoleh.
"teman?"
mata sofia berbinar binar saat ia merasa ada peluang untuk kabur.
"ya, ya! kita adalah teman!" ia mengangguk hebat.
"teman ya?..."
"kalau begitu kau harus merasakan apa yang aku rasakan" katanya.
"ha?" bingung sofia.
"ya, seorang teman harus berbagi"
"kau harus merasakan kepedihanku, dan aku merasakan ke bahagiaan mu, bukan?" jelasnya.
"apa!"
"tunggu-"
*cekrek!...
suara jebretan kamera.
"selamat tinggal,teman"ia berbalik lalu menutup pintu itu rapat rapat dengan mulusnya.
"sialan!"
...---...
"uhuk!.. uhuk.." ia terbangun disaat ia merasa ada sebuah cahaya yang menyentuhnya.
sofia berusaha duduk, badannya benar-benar lemas, sekujur tubuh nya berbalut darah yang mulai mengering dan menempel.
ia melihat kesemua sudut tempat itu, tempat yang mungkin saja menjadi trauma beratnya di hari esok.
"ini... sudah pagi?"
"ouch!.. aku harus segera pergi dari... tempat terkutuk ini!"
dan tak sengaja ia menemukan jubah yang mampu menutupi dirinya.
dengan cepat ia mengambil jubah tersebut tanpa memedulikan tasnya yang tertinggal.
--
ia sampai di lingkungan rumahnya.
sofia berlari menuju gerbang, beberapa petugas ingin menghentikan sofia, namun belum sempat petugas itu berjalan, sofia sudah terlebih dahulu masuk dengan tergesa gesa.
ia membuka pintu rumah itu dan langsung berteriak sekeras mungkin.
"mah, pah! sofia pulang, kemarin sofia di cu-...lik... " suara nya terdengar serak.
begitu terkejutnya ketika orang tuanya turun bersama dengan... dirinya?!.
"hah? sofia?"
sofia terdiam bungkam melihat sosok yang sangat mirip dengannya.
"penjaga! kenapa kalian membiarkan orang gila yang mengaku ngaku menjadi putriku masuk begitu saja!" teriaknya.
"m-maaf t-tuan!" ia membungkuk lalu dengan sigap ia menggenggam tangan sofia.
"mah, pah aku anak kalian!" belanya saat melihat tangannya yang sudah di pegang penjaga.
"berani beraninya kau mengaku menjadi putriku tersayang!"
"pah! dia orang yang sebenarnya gila, aku putri-"
"diam!"
"anak ku tidak pernah sama sekali kasar terhadap orang, dan juga ia buta"
"a-aku..."
"cukup!sekarang pergi atau aku yang menyuruh petugas untuk menyeretmu!" usirnya.
"apa-apaan ini! dia juga pasti berakting! pasti dia tidak buta, ya! hanya seseorang yang tingkat beraktingnya rendah!"
ia menghentakkan tangannya dan membuat petugas tadi melepas genggamannya.
sofia dengan cepat berlari, ia menjulurkan tangannya untuk melepas kaca mata hitam orang tersebut.
"apa!!" kagetnya saat melepas kaca mata itu.
"k-kau buta?!" ia menggigit kukunya.
"benar benar tidak sopan!" tegas mama sofia,dan langsung memeluk putri nya yang bukan sofia sebenarnya.
"mah! aku sofia yang asli!" belanya lagi.
"t-tapi... aku sofia yang asli..."
"hey, jelas jelas aku ya!"
"maaf menyela"
"saya tau benar nona seperti apa,dan juga nona pulang malam tadi,karna kata nona ia ada tugas bersama temannya"ucap pembantu secara tiba tiba.
"ha! siapa yang bilang aku ada tugas bersama teman-teman ku?!"
"n-nona bukan seseorang yang kasar" ia menunduk, ia merasa takut karna bentakkan tersebut dan juga wajah sofia yang tergores gores.
"ah! kalian tidak percaya ya sepertinya, kalau begitu kalian boleh tanyakan sama supir kepercayaan ayah!" ia tersenyum miring.
semua pasang mata menuju lelaki yang berprofesi menjadi supir rumah itu.
merasa di perhatikan, ia membuka suara.
"kami" "pergi ke rumah teman nona, seperti yang di katakan bibi" ucapnya tanpa ekspresi.
"ha?!"
"jelas-jelas kau baru saja menjemputku, kemarin!"
"ah ya, kau kemarin hanya berdiam diri saat melihatku pingsan!"
"apa kau juga terlibat?!" ia sudah tidak mempedulikan nada bicaranya,jika terus berakting itu pasti gagal.
"saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu kepada nona"
"kau!"
"penjaga! seret dia!" perintahnya ayah sofia.
"t-tunggu!"
"aku anak kalian!"
"hah!" ayah sofia mengusap wajahnya dengan kasar.
"ayah"
"ayah percaya a-aku kan?"
"tentu saja, anak ayah tidak mungkin kasar bukan?" ia mengelus kepala sofia.
sofia palsu itu tersenyum manis.
"sayang, kau pasti kaget tadi, ayo ke kamar" ajak mama sofia.
"emm, aku bisa kok" ia tersenyum kecil.
"tapi-"
"ada bibi mah~" ia memasang ekspresi cemberut.
"ya, kau memang anak yang tidak menurut" ia mencium kening sofia lalu pergi.
di situ hanya ada seorang supir bibi dan kembaran sofia.
sofia palsu itu berjalan menuju pembantu tadi.
"terimakasih bi" ia melepas kontak lensa nya.
"hmm, maaf jika wanita tua ini tidak bisa melakukan apa apa..." ia menunduk.
"bibi melakukannya dengan benar kok" ia menepuk bahu wanita yang lebih tua darinya.