
Zayden tertegun tak berkata apapun,sampai temannya Rain terkesima melihat Alena.Abigail yang tak sadar karna sedaritadi mengotak ngatik handphone nya aneh melihat Zayden dan Rain.
" Heeiii.. Heeiii.. Kalian ini melihat apa? Kenapa tertegun seperti itu? "
" Alena.. Itu Alena bukan? Ya tuhan,dia sangat cantik Zayden,dia sangat anggun,baru saja kemarin kita mencarinya di Bandara dan tak menemukannya.Sekarang dia datang dengan sendirinya "
" Hahh Alena? "
" Dimana? " Kata abigail
Alena dan Zara menuju pintu masuk,saat masuk semua mata tertuju pada Alena,
" Ohh tuhan siapa wanita itu?cantik sekali" Sahut salahsatu pengunjung Caffe.
Alena dan Zara duduk agak jauh dari Zayden,tapi Zayden tak melepaskan pandangannya sedetikpun pada Alena,Zara memanggil pegawainya untuk membawa makanan dan minuman.Merasa ada yang mengawasi Alena melihat sekeliling,tak terduga dia melihat Zayden yang sedang melihatnya.
" Ohhh tuhan,bukankah itu Zayden? Bagaimana bisa kebetulan sekali dia disini,aku harus bagaimana " Tanya nya pada Zara,Zara pun kaget melihat Zayden dan temannya di caffenya.
" Alena itu Zayden,ya tuhan itu Zayden " Kata Zara.
Saat sadar Alena melihatnya Zayden menghampiri meja mereka,Alena gugup jantungnya berdetak dengan kencang,pundaknya panas,mukanya merah merona..
" Ohh tuhan aku harus apa? Mengapa jantungku berdetak begitu kencang,tenang Alena.. Kau hanya boleh ingat apa yang telah dilakukannya padamu !?" Gumamnya..
" Alena " Sapa Zayden
Alena pura-pura Tenang saat Zayden menghampirinya
" Hallo Zayden.."
" Lama tak jumpa Alena. Apakabarmu? Kemana saja kamu selama ini?"
" Aku baik,kau sendiri apakabar?" Tatapan Alena begitu dingin. Merasa suasana tegang Zara mencoba mencairkan suasana.
" Zayden kau disini? Kenapa tadi aku tidak melihat kau masuk?"
" Kau terlalu senang menyambut Alena tadi Zara"
" Tak bisakah kita 1 meja saja? Seperti saat kita sekolah dulu,bolehkah? " Sambil menatap Alena.Alena membalas tatapan Zayden dengan tatapan dingin.
" Tuhan,tatapannya begitu dingin sekarang,tak ada tatapan hangat yang tersisa untukku " Gumamnya dalam hati.
Disisi lain Kenzo sibuk dengan segala berkasnya,sambil melirik foto Alena dan yang ada di mejanya..
" Istriku aku merindukanmu,jagoanku sedang apa kau disana,tak rindukah kau pada Daddy?" Sambil tersenyum,menyentuh fto mereka..
Teringat istrinya sedang bertemu sahabatnya,Kenzo menelponnya hanya untuk memastikan,karena memang kenzo sangat pemcemburu meskipun sikap pencemburunya tertutupi oleh sikap tenangnya.
Alena terkejut saat handphone nya berdering,dilihatnya Kenzo menelponnya,jantungnya tak karuan sedangkan didepan matanya ada Zayden,seperti orang yang sedang berkencan dengan selingkuhannya dan pacarnya menelponnya..
Dengan tenang Alena mengangkat telponnya dan menjauh dari mejanya.. Sambil menandakan pada Zara
" Hallo sayang,kau sudah bertemu Zara? "
" Iya sayang aku baru saja sampai di caffe Zara "
" Aku merindukanmu Alena ku " Hati alena berbunga" Mendengar ucapan suaminya itu..
" Sayang,jika kau rindu cepatlah kemari,aku pun begitu merindukanmu " Matanya berbinar sambil tersenyum
Zayden tentu saja melihat gerak gerik Zara..
" Dia terima telpon dari siapa? Dia tersenyum,matanya berbinar,apakah benar dia sudah menikah? Dan anak yang dikatakan Rain,mengapa dia tak membawanya jika itu anaknya? tak mungkin,aku disini menunggunya untuk menjelaskan padanya selama 4 tahun tak mungkin dia menikah dan melupakanku ?" Gumam Zayden dalam hati.
Alena melihat kearah mejanya,dilihat zayden memperhatikannya,Alena mengekerutkan alisnya.
" Sayang..sepertinya aku lapar dan mau makan,bolehkah aku tutup telponnya? "
" Tentu,makanlah yang banyak,agar saat aku kesana aku melihat badanmu yang semakin indah dan cantik " Gurau Kenzo
" Kau pandai bergurau sayang" Alena mematikan telponnya,dan kembali ke mejanya..
Zayden ingin sekali menanyakan tapi dia merasa tak enak menanyakannya disini.