
Pagi ini Kenzo tak berselera makan,dia hanya diam ditaman belakang tempat Julian biasa bermain bersamanya dan Alena.
" Alena.. Kau sekarang pergi kemana.. Emily bahkan tidak tahu kau pergi kemana,aku harus mencari kemana sekarang,apa aku harus ke Tianjin.. " Lalu membuka handphonenya dan menghubungi Jerry.
" Jerry apa kau sedang sibuk? "
" Ada apa Kenzo? "
" Ada sesuatu yang terjadi.. "
" Ada masalah apa? "
Lalu Kenzo menceritakan seluruhnya pada Jerry,Jerry memahami situasi itu.
" Alena tidak di Tianjin Kenzo,jika saja dia pulang kesini aku pasti akan memberitahumu.. "
" Terimakasih Jerry.. " Lalu menutup telponnya.
Kenzo menghembuskan nafasnya sambil tertunduk.
" Aku harus mencarimu kemana Alena? "
Kenzo tiba-tiba ingat tempat yang selalu dia dan Alena kunjungi,Kenzo pergi mengendarai mobilnya,dia menelusuri sepanjang tempat yang biasa dia kunjungi dengan Alena,tapi hasilnya tetap nihil. Telpon Kenzo berdering,dilihatnya Dori menelpon.
" Ada apa? "
" Tuan ada yang mengirimkan surat,aku menaruhnya di mejamu sepertinya surat resmi.."
" Ok aku kesana.. "
Setibanya dikantornya Kenzo membuka surat itu,dia terkejut,matanya membelalak melihat surat yang berisi gugatan cerai yang diberikan Alena. Dia mencoba menelpon Alena,tapi Kenzo lupa nomor Alena sudah tidak aktif sekarang,dia menelpon Emily tapi Emily tetap bungkam.
" Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikanmu Alena,sampai kapanpun.. " Sambil merobek surat itu.
Disisi lain Alena yang telah sampai di Shenzen dengan Zayden dan Julian tengah menikmati kota Shenzen.
" Daddy aku mau permen itu.. !? "
" Baiklah akan Daddy belikan,kau tunggu dengan Mommy.. "
Julian duduk bersama Alena menunggu Zayden membelikan permen itu. Sebuah mobil berhenti didepan mereka.
" Ayo naik,paman sudah menunggu.. ?! "
" Yuzan,tunggu Zayden sebentar.. "
" Apa? Apa aku tidak salah dengar Alena? "
" Kau terlalu bawel Yuzan,kau sibuk dengan pendidikanmu di irlandia jadi kau ketinggalan berita tentangku,setelah sampai aku akan menceritakan semua.. " Sambil masuk kedalam mobil bersama Julian
" Kau masih bisa bercanda Alena.. " Jawab Yuzan.
" Mommy,itu Daddy.. "
" Disini Zayden.. " Sambil melambaikan tangannya.
" Rupanya kau Zayden,kau tidak banyak berubah ya.. Kau masih sama seperti dulu.. "
" Ini permennnya sayang.. " Sambil memberikannya pada Julian.
" Wawww banyak sekali,terimakasih Daddy.. "
" Ahh aku jadi ingat beberapa tahun lalu,ketika kalian masih berpacaran saat aku mengunjungi Tianjin aku selalu ikut kemanapun saat kalian berpacaran.. "
" Dan kau hanya mengganggu kami.. " Ucap Zayden sambil tertawa.
" Kalian itu pasangan teraneh.. " Sahut Yuzan sambil tertawa.
" Itu dulu Yuzan,ayolah jangan mengungkitnya lagi.. " Ucap Alena dengan wajah dinginnya.
" Ahh aku lupa maaf,lalu Zayden kenapa kau ikut kemari? "
" Apa kau lupa Jian Company juga ada di Shenzen.. Dan juga setiap libur aku akan menemui Julian.. "
" Ahh iya aku sampai lupa perusahaanmu ada dimana-mana.. Kau sudah tahu Julian anakmu? "
" Sudah jika bukan aku yang menyelidikinya sendiri selamanya Alena akan bungkam,begitu juga denganmu Yuzan.. " Mereka hanya diam pura-pura tak mendengarkan Zayden.
Alena hanya diam dan tertidur selama perjalanan kerumah pamannya.
" Mommy bangun sudah sampai.. " Alena turun dari mobil melangkah masuk kedalam rumah pamannya,paman dan bibi nya sudah sudah menuggunya sedaritadi.
" Apa kabar keponakanku yang cantik.. ?" Sambut bibinya sambil mencium pipi Alena.
" Cucuku yang tampan.. "
" Aku baik bibi,paman.. Bagaimana kabarmu? "
Bibi dan pamannya tertegun melihat Zayden yang datang dari belakang Alena.
" Nanti aku akan jelaskan semuanya.. " Lalu mereka masuk kedalam.
Alena dan Zayden menjelaskan semuanya,bibi dan pamamnya mendengarkannya dengan baik.
" Aku merasa sedih Alena,aku harap kau akan tetap bahagia setelah apa yang terjadi.."
" Terimakasih paman,bibi.. "
" Lalu Tuan Zayden apa kau disini untuk menangani perusahaanmu? "
" Ya.. Kebetulan ada trouble diperusahaanku ini jadi aku mungkin akan mengurus anak cabang perusahaanku disini.. Mungkin ketika hari libur aku akan berkunjung kemari untuk Julian,itupun kalau paman dan bibi tidak keberatan.. "
" Tentu saja tidak,bagaimanapun Julian adalah anakmu Tuan Zayden.. "
" Paman,bibi panggil saja aku Zayden.. "
" Baiklah Zayden.. " Sahut pamannya sambil meneguk tehnya.
Mereka berbincang-bincang cukup lama,seperti selayaknya keluarga bahkan Zayden bisa tertawa lepas dengan paman dan bibi nya Alena,ya siapa yang tak tahu Zayden,dia pandai sekali merebut hati seseorang,dia pandai sekali bergaul dan tahu cara memperlakukan seseorang.