
1 bulan berlalu,Alena semakin sibuk dengan segala pekerjaannya,Kenzo masih sibuk keluar masuk rumah sakit merawat Betric. Terkadang Kenzo seperti lupa jika dia suami Alena. Alena hanya bisa pura-pura seperti tak curiga sedikit pun.
" Emily,tolong atur keberangkatanku ke Shenzen.." Ucapnya lalu meminum teh dicangkirnya.
" Apa anak cabang perusahaan kita ada masalah Alena? lagipula bukannya ada Yuzan yang mengurusnya? "
" Aku yang akan memimpin disana,kau bisa mengurus perusahaan disini,aku akan mengurus cabang kita disana.. " Ucapnya sambil menatap jendela diruangannya.
" Apa kau sudah gila? Apa kau mau pergi menghindari Kenzo? Apa kau akan pergi seperti 4 Tahun lalu? Jika kau meninggalkan Kenzo,Betric akan merasa senang .. "
" Aku tidak peduli Emily,jika dia benar benar mencintaiku.. Hatinya akan membawanya padaku.. " Ucapnya sambil tersenyum pahit.
" Baiklah jika itu keputusanmu aku menghargainya,tapi kalau ada kesulitan apapun hubungi aku,aku akan segera menyusulmu kesana.. "
" Terima kasih Emily,aku beruntung punya sahabat sepertimu.. " Ucapnya sambil memeluk Emily.
" Tapi apa kau yakin dengan ini? Maksudku apa sejauh ini Kenzo belum jujur padamu? "
" Emily apa kau tahu? Kebohongan itu tidak mematikan,hanya rasanya sangat menyakitkan.. Dia masih belum jujur,dia masih belum berkata apapun,biarlah Emily mungkin nanti kepergianku akan menyadarkannya.. " Ucapnya sambil menatap kosong.
" Apa Julian akan pergi denganmu? "
" Tentu,tapi Zayden akan menjenguknya setiap minggu.. "
" Apa?? Zayden sudah tau? Kenapa kau tidak bilang ini padaku,kau curang sekali Alena.. " Ucapnya dengan kaget.
" Aku lupa Emily,terlalu banyak pikiran dalam otakku ini.. "
" Sebenarnya 2 minggu lalu saat kau sedang cuti,Zayden datang kesini dia meminta maaf atas segala kesalahannya,dan dia mendesakku untuk berkata jujur tentang Julian,aku tak bisa berbohong Emily.. Aku tak bisa menjauhkan Julian darinya,karena bagaimanapun Zayden adalah ayah kandungnya.. Aku sedang mencoba memaafkannya dan mencoba membuang rasa benciku padanya.. "
" Apa kau serius?lalu apa Kenzo tahu?"
" Tidak,dia belum tahu ini.. Biarlah nanti waktu yang akan memberitahunya.. " Jawabnya dengan lirih
" Ok tak apa,tapi jangan sampai kau kembali pada Zayden.. "
" Kau gila,mana mungkin aku kembali padanya. Lagipula mungkin aku sudah tidak punya perasaan apapun,aku hanya menganggapnya sebagai teman,tak lebih.. "
" Aku akan berpamitan dengan Kenzo dan Betric.."
" Kau benar benar Alena.. " Sambil membulatkan matanya.
" Sudahlah ikut denganku saja.. " Ucapnya sambil melangkah keluar ruangannya.
Alena sudah menyiapkan semuanya dengan matang,tekadnya sudah bulat meninggalkan Kenzo dan memilih tinggal di Shenzen.
Dalam perjalanan telpon Alena berdering,Alena mengangkatnya tanpa melihatnya.
" Ya paman,mungkin besok aku akan berangkat.."
" Katakan pada Yuzan untuk menjemputku nanti.." Sambungnya.
" Baiklah hati-hati.. " Lalu menutup telponnya
" Siapa? " Tanya Emily
" Pamanku.. "
Alena mengotak ngatik telponnya dan menunjukan beberapa bukti kebersamaan Kenzo dan Betric setiap harinya.
" Kau bisa lihat mungkin cintanya lebih besar dariku dan Kenzo masih mencintainya,aku bisa merasakan itu.. " Ucapnya sambil memandangi jalanan
" Emily,mungkin ini sudah jadi takdir kisahku.. Setelah ini aku akan pergi meninggalkan cintaku disini.. " Ucapnya dengan nada lirih.
" Kau terlalu baik Alena,kuharap ini bukan keputusan yang salah,kuharap kau bisa bahagia suatu hari nanti.. "
" Terimakasih Emily.. " Ucap Alena dengan mata yang berkaca-kaca.
Sesampainya dirumah sakit Alena dan Emily langsung pergi ke kamar rawat Betric.
Setiap orang melihat dengan tatapan terheran-heran,beberapa orang tahu bahwa Alena adalah istri Kenzo,tapi Kenzo sering keluar masuk rumah sakit ini untuk menemui Betric.