
Kenzo melihat telponnya,dilihatnya 6 panggilan dari Alena.
" Ahhh kenapa aku sampai tidak sadar ada telpon dari Alena,apa yang harus aku katakan sekarang.." Gumamnya sambil mengotak ngatik handphonenya.
" Lucy ini sudah hampir malam,aku akan pulang.. Lucy kau jaga Betric,mungkin besok aku akan datang lagi jika tidak sibuk.. "
" Baiklah,kau hati hati.. Biarkan saja Betric tertidur,setelah dia bangun aku akan bilang kau pulang dan besok kau akan datang lagi.. "
Kenzo melajukan mobilnya,dia menelpon Alena tapi tak ada jawaban,Kenzo menambah kecepatannya,sesampainya dirumah didapatnya Alena sedang mengajarkan Julian menulis,dia tersenyum menghampiri mereka.
" Maaf sayang,aku sedikit terlambat... "
Alena hanya diam tak menjawab dia hanya fokus pada Julian.
" Sayang kau marah? " Tanyanya sambil memegang bahu Alena.
" Aku tidak marah.. " Sambil melepaskan tangan Kenzo dari bahunya.
" Aku tidak enak badan,aku akan pergi tidur.. "
" Julian Mommy akan tidur lebih awal,kau bisa belajar dengan Daddy.. " Alena pergi tanpa melihat Kenzo. Melihat itu Kenzo merasa ada kejanggalan,tidak biasanya Alena seperti ini,bahkan ketika sedang marah pun dia masih suka menatap Kenzo,tapi hari ini apa yang terjadi,pertanyaan terus berputar di kepala Kenzo. Alena pergi kekamarnya,dia duduk dikursi balkon,menatap langit yang gelap tanpa bintang.
" Kenapa hidupku seperti ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? bahkan aku tidak bisa menatapnya sekarang.." Ucapnya dengan lirih sambil mengelus perutnya.
Kenzo menyusul ke kamarnya,dilihatnya Alena duduk dikursi balkon.
" Sayang,maafkan aku.. Kau marah karna kita tidak jadi makan siang bersama?"
" Tidak.. Aku hanya tidak enak badan,kau sudah selesaikan urusanmu?" Tanya Alena dengan tatapan dinginnya.
" Sudah selesai.. Maafkan aku,jangan seperti ini " Bujuk Alena. Alena mencoba pura-pura tersenyum menanggapi itu.
" Kenzo,aku akan pergi melihat apartemenku dulu,rasanya aku rindu ingin melihatnya.. "
" Kenapa mendadak sekali? Bukankah itu akan kau jual? "
" Mmm mungkin tidak jadi,aku merasa sayang sekali untuk menjualnya,biar bagaimanapun disana banyak kenangan saat aku masih berjuang sendirian.. "
" Tak apa,aku akan terbiasa sendiri.. "
" Maksudmu? " Sambil menatap Alena dengan tatapan penuh tanya.
" Tidak ada,ayo kita tidur.. Aku lelah sekali.. "
Lalu Alena pergi tidur,dia membelakangi Kenzo tak seperti biasanya.
" Apa mungkin Alena tahu tentang aku dan Betric? Tapi aku rasa tidak mungkin.. "
Alena terbangun ditengah malam,dia tidak bisa memejamkan matanya kembali dalam pikirannya hanya ada tentang Kenzo dan Betric.Alena turun kedapur untuk mengambil air minum,dia bangun membawa handphonenya.
Kenzo yang menyadari Alena terbangun,ikut bangun dan menyusulnya.
" Sayang,kau terbangun?" Sambil memeluk Alena dari belakang.
" Ahh Kenzo.. Kau membuatku kaget.. "
" Mmm.. apa yang kau lihat? " Sambil melirik handphone Alena.
" Kenzo,aku baru membuka berita diinternet Betric mengalami kecelakaan kemarin,katanya kakinya dinyatakan lumpuh,aku kaget melihat itu.. Padahal baru kemarin dia melenggang di dalam acara launching designku.. Aku tidak menyangka ini akan terjadi.. " Jawabnya dengan pura-pura kaget.
Memdengar itu Kenzo hanya bisa diam tak berkomentar apapun.
" Kenzo aku akan menjenguknya besok,apa kau bisa ikut denganku? Bagaimanapun dia pernah menjadi modelku meskipun hanya sekali.. "
" Mmmmm ba..baiklah,kita lihat besok apa aku sibuk atau tidak.. " Sambil menaikan alisnya.
" Ayolah sayang,ini hanya sebentar saja.. Kumohon,berbaik hatilah sedikit padaku.. " Ucapnya dengan pura-pura memohon.
" Baiklah,jika itu pintamu aku tak bisa menolak.. "
" Terimakasih.. " Ucapnya sambil memeluk Kenzo,matanya berkaca-kaca Alena tidak ingin Kenzo melihatnya,itu sebabnya dia menyembunyikannya dengan memeluk Kenzo.