
Pagi ini langit sangat cerah,seperti biasa mereka sibuk dengan aktivitasnya.
Alena sibuk didepan layar laptopnya,mencari tahu beberapa informasi tentang Han Company.
" Sepertinya aku tidak asing mendengar nama Han Zhou ini.. " Ucap Alena sambil memejamkan matanya.
" Apa aku mengenalnya? Ahh ingatanku buruk.. Apa karna usiaku tidak muda lagi.. " Gerutu Alena.
" Xian bisakah kau keruanganku sekarang.. "
" Baik Mrs.. " Lalu Alena menutup telponnya.
" Yuzan,bisakah kau keruanganku sekarang.. " Panggilnya lagi pada Yuzan.
Beberapa menit Xian dan Yuzan datang keruangan Alena.
" Aku ingin menanyakan soal Han Company,apa saja yang ditawarkan didalam kontrak kerjasama itu jika kita menerimanya? "
" Disini tertulis jika kita menerima kerjasama dengan mereka,keuntungan yang mereka berikan pada kita sekitar 75% dan masih ada beberapa yang kita dapat dari kerjasama ini.. " Ucap Xian dan menutup kembali berkasnya.
" Yuzan,apa kau pikir ini ada suatu kejanggalan,aku mengerti ini menguntungkan tapi kenapa mereka sampai mau memberi kita 75% dari hasil keuntungan,bukankah mereka hanya akan mendapat 25% saja,apa itu tidak aneh? "
" Aku pikir juga begitu Alena.. " Jawab Yuzan sambil menggaruk keningnya.
" Jika seperti itu,aku ingin bertemu dengan Han Zhou secara langsung.. " Pinta Alena.
" Baiklah kita akan mengurusnya.. " Jawab Yuzan.
" Kenapa sepertinya aku mengenalnya.. " Gumam Alena dalam hati.
Disisi lain Zayden sibuk dengan telpon yang masuk berkali-kali.
" Ok terimakasih.. Baiklah informasi ini cukup jelas.. " Lalu Zayden menutup telponnya.
" Alena harus tau soal ini,ternyata ini tidak cukup aneh.. Pantas saja aku seperti pernah mendengar nama Han Zhou ini.. "
Zayden mengambil Handphonennya dan memanggil Alena.
" Alena,bisakah kita bertemu sekarang? Ada beberapa hal yang ingin aku katakan.. "
" Baik... Dimana kita bertemu? "
" Di Caffe Lavender.. "
" Baiklah.. "
" Aku tunggu.. " Lalu Zayden menutup telponnya dan bergegas menuju Caffe Lavender.
" Kau sudah lama menunggu Zayden? "
" Tidak baru 5 menit yang lalu aku disini.. "
Alena hanya tersenyum dan duduk berhadapan dengan Zayden.
" Lalu kau ingin bicara tentang apa? "
" Maaf Zayden tapi aku kan sudah... "
" Maaf.. Maaf aku bercanda Alena,aku tahu meskipun aku bilang padamu berkali-kali jawabanmu tetap akan sama kecuali jika ada suatu keajaiban.. " Ucapnya memotong pembicaraan Alena.
Alena hanya diam mendengarnya.
" Aku ingin membahas soal Han Company,Alena apa kau ingat temanmu saat kita masih Sekolah Menengah Kejuruan? Kau bilang kau punya sahabat yang selalu menempel kemanapun,tapi saat dia tau kau pacarku dia mulai menjaga jarak denganmu.. "
" Mmm lalu.. ? "
" Aku punya kecurigaan kalau itu adalah dia,meskipun aku dulu belum bertemu dengannya tapi aku rasa itu dia.. "
Alena mengernyitkan dahinya dan berusaha mengingatnya.
" Apa mungkin Han Zhou yang itu? "
" Zayden jika dia aku masih tidak percaya jika itu dia Han Company ini sungguh bukan perusaan main-main,bahkan ini perusahaan terbesar ke 3 setelah perusahaan Kenzo dan juga kau.. " Ucap Alena sambil terus berusaha mengingatnya.
" Apa kau tidak memeriksa latar belakang mereka? "
" Aku tidak ingat akan hal itu,aku akan mencari tahunya.. "
" Tidak perlu,aku sudah mencari tahu.. "
" Coba lihat ini.. " Sambil membuka laptopnya.
Alena membacanya,matanya membelalak melihat foto Han Zhou.
" Ya ampun.. Ini benar-benar dia,dia berubah banyak sekali.. Lihat dia jadi tampan.. " Ucap Alena sambil tersenyum lebar.
" Heyy aku lebih tampan.. " Ucap Zayden dengan wajah kesalnya.
" Menurutku dia lebih tampan darimu.. " Ucap Alena sambil tertawa.
Zayden hanya menatap Alena,senyum kecil nampak dari wajahnya.
" Alena,tawa yang sama ini yang selalu nampak saat kita bersama.. Tapi sekarang persaanmu tak sama denganku,tawa itu adalah milikku dulu,rasanya aku ingin sekali memelukmu seperti dulu saat kita sering bercanda seperti ini..tapi sekarang kau cukup tangguh menelan semua bebanmu sendiri bahkan tak membiarkan aku mengobati luka hatimu.. " Gumam Zayden dalam hatinya.
" Bagaimana tidurnya Hanna semalam? apa dia nyenyak? " Tanya Zayden sambil menutup laptopnya.
" Nyenyak sekali,dia mengigau terus memanggilmu.. Daddy.. Daddy.. sampai berulang ulang,kau terlalu memanjakannya Zayden.. jika dia tahu kau bukan ayah kandungnya... "
" Aku rasa seiring berjalannya waktu tak apa,bukankah dulu Julian pun begitu? "
" Mmm ya.. " Jawab Alena sambil mengangguk.
" Aku rindu anak-anak,setelah pulang dari kantor aku akan kerumah bertemu mereka.. "
" Baiklah kita bisa pulang bersama nanti.. " Ucap Alena.
" Aku rasa akan indah jika saja aku menikah dengan Alena.. istri yang cantik anak yang tampan dan cantik menanti dirumah,rasanya kebahagiaanku akan lengkap,tapi sudahlah kenyataannya aku tak bisa memilikinya.. biarkan hati Alena yang memilih.. aku hanya bisa terus berusaha.. " Gumam Zayden dalam hatinya.