
" Apa Alena kau menceraikan Kenzo? " Tanya Emily dengan terkejut
" Iya Emily,bisakah kau tidak berteriak kupingku sakit sekali dengar teriakanmu itu.. "
" Maaf,aku kaget mendengarnya,pantas saja Kenzo menelponku berkali-kali lalu dia datang kekantor sore tadi,wajahnya muram sekali Alena.."
" Benarkah? "
" Dia menanyakanmu pergi kemana,tapi aku tidak memberitahunya.. Ahh iya apa kau tahu Kenzi sudah pulang dari Jerman? "
" Apa? Kenzi sudah pulang? "
" Iya,baru saja dia pulang dari rumahku Alena,dia juga menanyakanmu.. Ahh dia itu seperti pria gila,dia menanyakan istri saudara kembarnya.. "
" Mungkin dia hanya ingin bertemu Julian.. "
" Bukan Alena aku yakin sekali,wajahnya seperti menghawatirkanmu.. "
" Ya bukankah wajar,dia itukan iparku.. " Kilah Alena.
" Aku tutup telponnya Emily,aku akan tidur sekarang.. "
" Baiklah,kau jaga kesehatanmu ok.. "
" Ok.. " Lalu Alena menutup telponnya.
Ketika akan tertidur Yuzan datang ke kamar Alena.
" Alena apa kau sudah tidur? " Tanya Yuzan dibalik pintu.
Alena membukakan pintunya.
" Alena apa kau sudah akan tidur sekarang? "
" Belum,lagipula aku belum ngantuk.. "
" Bisakah kau ceritakan padaku semuanya? "
" Baiklah kita ke teras kolam belakang saja.. " Jawab Alena.
Sesampainya disana Alena menceritakan sedetailnya,Yuzan memahaminya bahkan ikut emosi mendengarnya.
" Hahh pantas saja kalau seperti itu,Alena jika aku jadi kau aku akan menghajar si model itu habis-habisan.. "
" Sudahlah Yuzan,lagipula itu bukan tindakan berkelas.. " Ucap Alena sambil bercanda.
" Kau tidak usah pura-pura setegar itu Alena,aku tahu sifatmu.. Kita tumbuh bersama.. "
Tiba-tiba mimik wajah Alena berubah menjadi muram.
" Yuzan,aku tidak tahu sebenarnya apa yang aku lakukan ini benar atau salah, dan aku kecewa dengan Kenzo yang tidak mau jujur.. "
" Aku memahami itu,tapi seharusnya kau tidak melepaskan Kenzo begitu saja.. "
" Aku tahu mungkin tindakanku melepas Kenzo sungguh disayangkan,terlebih lagi dia amat menyayangi Julian,tapi kau tahu kan aku paling tidak bisa mentolelir masalah seperti ini.. "
" Baiklah,sekarang semua sudah terjadi.. Lebih baik kau memperbaiki hidupmu dan berjuang untuk bahagia.. "
" Tunggu disini aku akan membawa sesuatu.. " Ucap Yuzan sambil berlari kedalam rumah.
Alena hanya diam dipinggir teras kolam itu,dia hanya memandang langit yang penuh bintang.
" Taaarrraaaaaaaa... Lihat ini,sepertinya kau membutuhkan ini sekarang.. " Kata Yuzan sambil membawa beberapa botol minuman.
" Ahhh Yuzan,apa kau masih suka minum sampai sekarang? Apa kau tidak waras mengajak wanita yang sudah punya anak untuk minum? Apa paman dan bibi tahu kebiasaan burukmu ini masih ada? Lagipula dimana kau menyimpan minuman itu? "
" Hahh kau sungguh bawel sekali Alena,bukankah dulu kita sering minum jika aku datang ke Tianjin.."
" Tapi itu dulu,sekarang aku sudah tidak minum lagi.. "
" Ayolah rasanya enak,kau cium wanginya anggur ini enak sekali.. "
Alena mencium bau anggur itu tidak seperti biasanya dia mual mencium bau anggur itu..
" Apa apaan anggur ini wanginya tidak seperti biasanya,aku mual sekali mencium baunya.. "
" Ahh apa hidungmu bermasalah Alena,ini wangi sekali.. " Ucap Yuzan sambil menghirup aroma anggur itu.
" Ya ampun.. Alena apa kau sedang sakit? Apa hidungmu benar-benar bermasalah? "
" Aku tidak sakit dan hidungku juga tidak bermasalah.. "
" Apa jangan..jangan.. Kau... "
" Aku rasa aku benar-benar hamil.. " Gumam Alena dalam hatinya.
Mereka saling bertatapan mata mereka membelalak.
" Ahh tidak mungkin,bagaimana bisa.. "
" Apa kau tidak waras Alena,kau meninggalkan Kenzo baru kemarin... Apanya yang tidak mungkin,kapan terakhir kau mendapatkan menstruasimu? "
" Aku sudah tidak mendapatkannya saat bulan lalu,saat aku ke Tianjin,tapi seingatku saat kembali ke Makau aku dan Kenzo jarang melakukannya.. " Ucap Alena sambil mengingat-ngingat.
" Hahh Alena,sudah kuduga kau itu benar-benar ya.. Sudahlah aku akan membeli alat tes untukmu.. Kau tunggu disini.. "
" Ok terimakasih Yuzan.. "
Yuzan pergi mengendarai skuternya untuk membelikan tes kehamilan,Alena panik dan menelpon Emily.
" Emily.. gawat.. Ini gawat.. "
" Kau kenapa? Apa yang gawat? "
" Emily 2 bulan ini aku tidak mendapatkan mentruasiku.. "
" Apa... ? Maksudmu kau hamil? "
" Sepertinya begitu.. " Ucap Alena dengan nada senang.
" Kenapa kau begitu senang? Kau lupa kau sudah menceraikan Kenzo? Bagaimana nasib anakmu nanti? " Tanya Emily.
Mendengar pertanyaan Emily,Alena jadi terdiam kesedihannya muncul kembali.
" Tak apa Emily,bukankah saat aku mengandung Julian keadaannya sama seperti ini bukan? Aku yakin bisa menghadapinya lagi.. " Jawab Alena dengan nada lirih.
" Aku akan membesarkan anak-anakku dengan tanganku sendiri meskipun tanpa Kenzo.. " Sambung Alena dengan mata berkaca-kaca.
" Alena.. Ini kau coba alat tes nya.. " Ucap Yuzan sambil berlari kearah Alena.
" Ok.. Kau berbincanglah dulu dengan Emily,aku akan ke toilet sebentar.. " Lalu menyerahkan telponnya pada Yuzan dan berjalan menuju toilet.beberapa menit berlalu Emily dan Yuzan berbincang-bincang membicarakan perusahaan.
Alena datang dengan mata berkaca-kaca,ada kebahagiaan dan kesedihan diwajahnya.. Alena menghampiri Yuzan dan memeluk Yuzan.
" Yuzan.. Aku benar-benar hamil.. Aku hamil.. " Ucap Alena sambil menangis memeluk Yuzan.
" Bagaimana hasilnya.. " Sahut Emily dalam telpon.
" Alena hamil Emily.. Hasilnya positif.. "
" Kita akan punya keponakan lagi Yuzan.. " Ucap Emily.
Yuzan mematikan telponnya dia memeluk Alena yang tengah menangis.
" Alena.. Tak apa,kau adalah wanita kuat kau bisa menghadapi ini,seperti dulu saat kau mengandung Julian kau wanita yang hebat.. " Ucap Yuzan sambil menepuk pundak Alena.
" Yuzan,ini rasanya berbeda dari sebelumnya.. Jika dulu mungkin aku bisa menerima aku meninggalkan Zayden,entah kenapa sekarang kesedihanku lebih dari saat itu.. Yuzan rasanya aku.. aku.. " Alena menangis tak melanjutkan perkataannya.
" Apa sebaiknya aku beritahu Kenzo? "
" Jangan Yuzan,aku sudah menceraikannya.. Biarkan dia hidup tenang dengan Betric.. Aku tidak mau mengganggunya lagi.. " Sambil mengusap air matanya.
" Baiklah jika itu yang kau mau.. Kau harus kuat,kau punya aku,paman,bibi dan Julian kau tidak sendirian sekarang.. " Ucap Yuzan sambil terus memeluk Alena.
" Apa kau akan memberitahu Leya dan Jerry? "
" Mmm.. Sebaiknya tunggu waktu yang tepat.. "
" Baiklah terserah kau saja,ini sudah larut sebaiknya kita istirahat sekarang dan tenangkan dirimu.. "
Lalu Alena dan Yuzan kembali ke kamarnya masing-masing. Alena hanya melamun menatap tes kehamilannya.
" Tak apa nak.. Mommy akan membesarkanmu sendiri,kau harus sehat dan menguatkan Mommy.." Ucapnya sambil menangis dan memgelus perutnya.