I Truly Love You Endlessly

I Truly Love You Endlessly
36. Aku akan membuktikannya..



2 minggu telah berlalu Alena dan Yuzan memilih untuk tak memberi siapapun terkecuali paman dan bibinya.


" Alena hari ini jadwal cek kandunganmu.. "


" Hampir saja aku lupa Yuzan.. " ucap Alena sambil tersenyum.


" Bagaimana rasanya hamil yang ke 2 ini? "


" Kau bisa lihat,aku selalu mual saat bangun tidur.. apalagi ketika gosok gigi.. "


" kau akan merasakannya ketika kau nanti menikah dan hamil.. " Ucap Alena sambil tertawa.


" Antar aku setelah kita selesai meeting.. " Sambungnya lagi.


" Baik.. "


Mereka berbincang bincang kesana kemari,membicarakan masa kecil mereka dan pendidikan Yuzan di Irlandia,tak ada pembahasan tentang Zayden ataupun Kenzo.


" Ini sudah waktunya meeting.. " Ucap Alena sambil melirik jam tangannya.


" Ayo kita pergi.. " Ucap Yuzan sambil melangkahkan kakinya.


Disisi lain Zayden sibuk dengan setumpuk berkasnya,memeriksa beberapa berkas mencari kendala yang menjadi permasalahan anak perusahaannya itu.


Dia mengambil handphonenya melihat foto Julian dan memandanginya,dia tersenyum melihat foto anaknya itu.


" Kau memang mirip sepertiku,tapi bibirmu lebih mirip Mommy mu.. "


" Aku rindu mereka,apa Alena belum pulang sekarang.. aku telpon atau aku langsung menemuinya dikantornya.. " Ucapnya sambil menggaruk ujung alisnya.


" Jadi bagaimana cara menaikan harganya Mrs? Saya rasa ini sedikit sulit,bahkan tidak sesuai dengan harga pasaran karena mereka belum mengetahui kualitas dari kita.. "


" Kita akan adakan pameran akhir pekan,kita undang seluruh relasi juga pemegang saham.. "


" Baiklah meeting selesai sampai disini,kita lanjutkan besok.. selamat beristirahat.. " Ucap Alena sambil berdiri dari kursinya.


" Yuzan antar aku sekarang,setelah selesai kita makan siang.. "


" Baiklah.. " Jawab Yuzan


" Aku akan mengambil tas dan handphoneku terlebih dulu.. "


Yuzan hanya mengangguk.


" Ahh perutku.. Alena sepertinya aku sakit perut,bolehkah aku ke toilet sebentar? "


" Tentu,aku menunggumu disini.. " Ucapnya sambil melihat lihat handphonenya.


Tok.. Tok.. Tok..


" Masuklah.. " Jawab Alena.


Alena sedikit terkejut melihat Zayden yang datang,Zayden datang dengan senyumannya.. Alena menatapnya,tanpa sadar bibirnya menampakan sedikit senyumnya.


" Apa aku bermimpi melihat senyuman wanita cantik hari ini? "


" Maksudmu? "


" Tentu senyumanmu.. "


" Kau salah melihat.. " Kilah Alena.


" Kau akan pergi? "


" Mmm.. ya,aku akan pergi makan siang dengan Yuzan,kau ada apa kemari? "


" Aku hanya ingin tanya apa paman dan bibi ada dirumah? aku ingin bertemu Julian.. "


" Paman dan bibi ada dirumah,hari ini mereka tidak kemanapun.. "


" Baiklah,terimakasih.. aku akan pergi menemui Julian.. " Ucap Zayden sambil tersenyum..


" Ya.. Hati-hati.. " Ucap Alena tanpa sadar.


Zayden tersenyum mendengarnya.


" Terimakasih.. "


" Alena.. sepertinya aku tidak bisa mengantarkanmu cek kandungan hari ini.. perutku sangat sakit,sepertinya aku salah makan.. " Ucapnya dengan polos,Yuzan tidak menyadari Zayden ada dalam ruangan Alena.


Langkah kaki Zayden terhenti lalu kembali berbalik menghampiri mereka.


" Maksudmu Alena akan cek kandungan? Apa Alena hamil? " Tanya Zayden sambil menatap Yuzan


" Kau salah mendengarnya Zayden,maksudnya aku akan pergi ke dokter obgyn,karna akhir-akhir ini perutku sering sakit.. " Ucap Alena dengan gugup.


" Yuzan,apa itu benar ? Apa pendengaranku bermasalah? "


Yuzan menggelengkan kepalanya tanpa sadar karena melihat tatapan penasarannya Zayden.


Alena menatap Yuzan dan mengerutkan Alisnya,bermaksud memberi kode pada Yuzan.


Zayden menarik tangan Alena,membawanya pergi.


" Yuzan,kau diam dikantor.. jangan ikuti kami.. " Ucap Zayden sambil melangkahkan kakinya.


" Zayden kau mau membawaku kemana? lepaskan tanganku ini sakit..!! "


" Kita akan pergi ke Dokter kandungan.. "


" Lepaskan !! Zayden kau pikir kau ini siapa? Lepaskan tanganku sekarang.. !! " Teriak Alena,tapi Zayden tidak menghiraukannya sama sekali.


Mereka masuk kedalam mobil Zayden,Alena hanya diam merasa kesal dengan tindakan Zayden.


" Kenapa kau tidak bilang ini padaku? "


" Zayden,ini bukan anakmu.. "


" Aku tahu ini bukan anakku,ini anak Kenzo.. aku hanya mengantarmu melihat bayi ini.. "


Alena hanya diam mendengar itu.


" Alena,apa kau masih membenciku sekarang?


Alena.. izinkan aku menebus seluruh kesalahanku dimasalalu.. kumohon buka kembali hati yang sudah kau tutup untukku,aku akan membuktikan aku pantas berasa disampingmu lagi.."


Alena masih diam tidak menjawabnya,dia hanya menatap kearah jendela mobil.


" Apa kau tidak takut orang akan bergosip,kau mengantarkanku ke dokter kandungan. Semua orang akan tahu,bahkan mungkin akan afa mefia disekitar kita.. " Tanya Alena.


" Kau tidak jawab pertanyaanku.. baiklah.. kau tidak usah hawatir,aku selalu membawa kacamata hitam juga masker,kau bisa memakai masker itu dan aku akan pakai yang ini.. " Sambil memberikannya pada Alena. Mereka keluar dari mobilnya,menunggu giliran Alena.


" Mrs. Alena.. " Alena masuk sendirian.


" Suaminya diharapkan ikut masuk.. "


Zayden tertegun dan langsung masuk tanpa membantah.


Dokter mulai melakukan pemeriksaan.


" Bayinya sehat.. lihatlah dia bergerak,detak jantungnya bagus Tuan.. "


Wajah kebahagiaan nampak dari wajah Zayden,Alena melihat kebahagiaan itu diwajah Zayden.. Alena memejamkan matanya,terbayang senyuman Kenzo jika dia tahu Alena mengandung saat ini.


" Tuan mulai saat ini kau harus menjaga istrimu baik-baik,jangan membuat dia marah.. karena itu akan membuat bayi kalian stress dan itu tidak baik untuk kesehatannya.. "


Zayden hanya mengangguk mendengarnya.


" Apa dokter ini tidak pernah melihat media? kenapa dia tidak tahu aku bukan suaminya.. " Gumam Zayden dalam hati.


pemeriksaan selesai dan mereka segera pergi karena hawatir tertangkap media.


Didalam mobil Alena hanya tersenyum sambil memegang perutnya.


" Alena.. mulai sekarang dan seterusnya,izinkan aku mengantarmu memeriksakan kandunganmu.. jangan membantahku,jangan menolak.. "


" Tapi kau bukan.. "


" Aku Daddynya Julian dan kau adalah Mommynya Julian.. beri aku kesempatan.. " Ucapnya sambil menatap Alena.


" Ahh tatapan itu mematikan.. " Gumam Alena dalam hatinya.


" Terserah kau saja,bukan aku yang meminta.. " Jawab Alena sambil memalingkan wajahnya.