
"Kenapa kamu tegang seperti itu? santai saja, aku sudah memaafkan mu dari jauh hari, tak akan ada yang berubah kamu akan selalu jadi teman ku," jawab Ana dengan candaan, senyum wanita itu merekah saat mengingat tingkah gugup Alice saat minta maaf kepadanya.
"Jangan menertawakan ku," rengek Alice.
"Nona Ana, saya juga mau minta maaf dan terimakasih atas semuanya, titip salam untuk Denis ya," seloroh Rose dengan senyuman manisnya.
"Iya Rose, salam mu pasti akan tersampaikan.
Byee, aku pulang dulu, kapan-kapan kita mungkin bisa bermain di taman bersama Denis."
Alice tersenyum lega menatap kepergian temannya.
Rose berjalan pelan menghadap Felix dengan gugup.
"Maaf aku telah menuduh kamu dan nggak mau mendengar penjelasan kamu terlebih dulu, Maaf," ujar Rose menundukkan kepalanya.
Dia merasa sangat bersalah karena tidak percaya dengan Felix.
"Seperti nya aku belum mengenal mu dengan baik, sikap ku yang belum dewasa memang tidak cocok bersama mu,"
Penyesalan memang selalu datang belakangan, Rose hanya bisa tertunduk lemas di hadapan Felix dan orang tua kekasihnya itu, apa yang akan di pikirkan oleh orang tua Felix tentang dirinya apalagi Mama Nayla wanita paruh baya itu pasti kecewa dengannya.
Felix tersenyum sambil menahan tawa melihat wajah penyesalan yang begitu lucu itu, baginya apapun yang di lakukan Rose selalu lah menggemaskan, dia tak mungkin bisa marah dengan Rose, gadis manis, polos, dan sangat baik.
"Jangan mengatakan hal seperti itu, untuk apa meminta maaf, ini bukan kesalahan mu."
Dengan lembut Felix menarik tangan Rose dan menggenggamnya dengan erat. "Sayang jangan pernah berpikir kamu tidak pantas untuk ku, hanya kamu yang harus mendampingi hidupku untuk selamanya.
Apa kamu mau mendampingi hidupku untuk selamanya?"
"Tapi aku sudah memutuskan hubungan kita," ujar Rose dengan lesu.
"Aku tidak pernah berpikir kalau hubungan kita sudah berakhir tapi jika kamu berpikir seperti itu.
Mari kita mulai hubungan ini dari awal."
Setelah mengatakan itu Felix mengeluarkan sebuah box kecil dari saku celananya lalu dia menekuk lututnya dan membuka box kecil yang berisi cincin berlian yang berkilau.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rose bingung melihat Felix yang tiba-tiba berlutut di hadapannya dengan mata yang berbinar.
"Rose, aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakannya dan ini juga jauh dari kata romantis, tapi aku tidak bisa menahan lagi untuk tinggal bersama mu untuk selamanya.
Rose, maukah kamu menikah dengan ku?"
Deg, hatinya bergetar mendengar kata terakhir yang di lontarkan oleh mulut pria yang sangat dia cintai itu.
Rose terdiam sejenak mencerna kata-kata demi kata yang di ucapkan Felix, matanya membulat masih tak percaya mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Felix.
Dengan air mata yang bahagia Rose mengangguk pelan menerima lamaran Felix. "Tentu saja aku mau menikah dengan mu," ujar Rose sambil tersenyum haru.
Felix mengembuskan napas lega.
"Huh, Akhirnya kamu akan segera jadi milik ku."
Dia mengambil cincin itu dari tempatnya dan memakaikannya ke jari manis Rose.
"Sangat cocok untuk mu," ujar Felix sambil tersenyum tipis.
Dengan pelan Felix berdiri lalu memeluk Rose dengan erat. "Terimakasih sayang."
Air mata pria itu akhirnya jatuh juga,
Ini adalah kebahagiaan yang tak terkira untuk dia.
Kedua keluarga itu terharu saat menyaksikan putra putri Meraka bersatu.
Saking bahagianya tak sadar air mata mereka ikut terjatuh begitu saja.
Di tengah kesedihan yang cukup menguras perasaan, meraka bisa terobati dengan kebahagiaan melihat dua sejoli itu akhirnya bisa bersama lagi.
"Hikss Pa, Mama sangat bahagia saat ini, akhirnya setelah penantian cukup lama, anak kita bisa menemukan cinta sejatinya," ujar Nayla dengan tangisan bahagia.
"Papa juga, sudah nggak sabar punya cucu hehehe,"
"Ayah senang akhirnya kamu menemukan kebahagiaan mu, semoga kamu terus berbahagia seperti ini."
"Rose selamat kamu bakal jadi seorang istri," ujar Alice.
Setelah mengatakan itu tiba-tiba wajah gadis cantik itu cemberut. "Tapi aku sedikit kesal, kamu melangkahi aku duluan, saat kamu menikah aku sendirian donk, aku kan belum puas menghabiskan waktu bersama mu.
Semua tertawa kecil mendengarkan celotehan Alice.
"Tenang, akan ku carikan kamu jodoh," jawab Felix sedikit tertawa.
"Tidak usah mengasihani ku, aku bisa cari jodoh ku sendiri, suatu saat pangeran pasti datang ke hidup ku."
"Menghayal saja terus," ejek Felix.
"Biarin!" balas Alice tak mau kalah.
Kedua anggota keluarga itu hanya bisa tertawa menyaksikan pertengkaran antara calon kakak ipar dan calon adik ipar itu.
1 Minggu kemudian.
"Sayang, kenapa harus tutup mata sih," rengek Rose saat Felix menuntunnya menuruni tangga sambil matanya di tutup kain.
"Ikuti saja sayang, ada kejutan untuk mu,"
Dengan pasrah Rose mengikuti arahan Felix.
Setelah sudah sampai di ruang tamu Felix membuka penutup mata itu dengan perlahan.
"Sekarang bukalah matamu," perintah Felix.
Deg.
Mata Rose langsung berbinar melihat orang yang ada di hadapannya.
"Bik Anum!" pekik Rose.
Wanita paruh baya itu menyapa Rose dengan senyuman lebar.
"Iya sayang, ini bibik."
Rose langsung memeluk orang yang sudah merawatnya selama 19 tahun ini, dia sudah menganggap bik Anum seperti ibunya, hanya wanita itulah yang sangat mengerti dirinya.
"Rose rindu banget sama bik Anum."
"Bibik juga sayang, kamu tambah cantik saja," ujar bik Anum tertawa kecil.
"Ahh, bibik bisa saja, ngomong-ngomong siapa yang mengantar bibik kemari?"
"Assisten Tuan Felix yang menjemput, sekarang bibik tinggal di Rumah Tuan Bayu."
"Bibik kok nggak bilang sih," rengek Rose.
"Kalau di kasi tahu kan bukan kejutan namanya sayang," sahut Felix.
"Aaaa, iya juga ya."
"Sayang, kamu berbincang lah bersama bik Anum, aku tinggal dulu karena masih ada kerjaan," ujar Felix pura-pura, dia ingin memberikan ruang untuk Rose bisa bicara berdua dengan wanita yang sudah di anggap ibu sendiri oleh calon istrinya.
"Iya, sayang."
"Bibik ayo duduk, Rose ingin bercerita banyak dengan bibik," ujar Rose setelah kepergian Felix.
Dengan semangat Rose menceritakan kejadian yang terjadi setelah dia kabur dari tempat tinggal nya yang dulu sampai saat ini dia akan menikah dengan Felix.
"Rose minta maaf sudah meninggalkan bibik sendirian disana, Rose melakukannya karena terpaksa karena Rose ingin tahu siapa sebenarnya keluarga Rose," ujar gadis manis itu dengan penuh penyesalan.
"Bibik sangat mengerti apa yang kamu rasakan, jangan merasa bersalah, jika kamu bahagia bibik juga ikut bahagia, lihatlah sekarang kamu akan menjadi seorang istri."
"Aku juga tidak menyangka bik, di umurku yang belum genap 20 tahun akan mempunyai keluarga baru," ujar Rose tersenyum bahagia.
"Kamu berhak bahagia Sayang, Tuhan menebus segala penderitaan mu dengan kebahagiaan yang melimpah."
"Ini juga pasti berkat doa bibik."
Dia bersyukur selalu di pertemukan oleh orang-orang yang baik.
END
Happy Reading 😘🥰♥️🥰😘
I LOVE YOU 3000😘🥰♥️🥰🥰🥰