
''Itu meraka sudah turun,'' ujar Luhan dengan gerakan dagu menunjuk ke arah tangga, terlihat Nayla membantu menuntun Rose untuk turun dari sana.
Dengan perlahan Felix mengikuti arah gerakan dagu Luhan, mata pria itu membulat melihat Rose yang begitu elegan dengan gaun yang di pilihkan oleh Nayla, dia tidak berkedip sama sekali, kali ini dia bener- bener terkesima dengan kecantikan dan pesona yang di miliki oleh gadis yang belum genap berusia 20 tahun bernama Rose.
''Luhan, apakah itu benar Rose yang kita kenal,'' ujar Felix, dia merasa tidak percaya dengan pengelihatannya.
''Iya lahTuan, siapa lagi?'' jawab Luhan.
Felix mengucek matanya dan kembali memperhatikan Rose dengan seksama tapi hasilnya tetap sama, gadis manis itu sangat cantik dan berkelas.
Rose terlihat anggun dan elegan dengan gaun renda hitam milik Nayla, kesan mewah terpancar saat Rose menggunakannya, di tambah lagi dengan high heels yang senada dengan tas mini yang di tengtengnya.
Ilustrasi
Semua serba hitam karena di undangan tercantum drescode pesta itu adalah warna hitam.
Dak, dik, duk.
Seketika jantung Felix berdetak kencang saat Rose mendekat ke arahnya, semakin Rose mendekat semakin detak jantung pria itu berdetak keras tak karuan seperti mau copot dari tempatnya.
Pria bernama lengkap Felix Emmanuel Amana itu memegang dadanya. ''Apa aku sedang jatuh cinta?'' itulah yang ada di pikirannya.
Sekarang Rose sudah tepat berada di depannya. ''Tuan, aku cantik, Kan?'' tanya Rose sambil sedikit berputar kecil tapi dalam hitungan detik seketika dia terhuyung karena tidak bisa menjaga keseimbangan disebabkan oleh belum fasih nya dia menggunakan high heels.
''Ahhh,'' teriak Rose, dia menutup mata membayangkan dirinya akan segera jatuh.
Hap.
Felix menahan punggung gadis itu dengan satu tangannya.
Rose membuka mata perlahan saat merasa tubuhnya di tahan oleh seseorang, di depan wajah nya sudah terpampang jelas wajah Felix dengan tatapan mata yang tidak biasa.
Rose hanya sedikit gugup dengan posisi canggung seperti ini tapi jantung Felix tidak sedang baik-baik saja, dia merasa jantung satu-satunya itu ingin lompat dari tempatnya.
''Maaf Tuan,'' ujar Rose.
Felix mengangkat tubuh Rose untuk menegakkan posisinya berdiri
seperti semula. '' Lain kali hati-hati,'' ujar pria itu singkat.
''Sayang, kaki mu tidak sakit, Kan?'' tanya Nayla mengecek keadaan calon mantunya yang hampir saja jatuh.
''Tidak ma, tapi sangat susah menggunakan sandal tinggi ini,'' jujur Rose.
''Lebih baik ganti daripada berbahaya,'' saran Felix yang sedikit khawatir, bisa-bisa terjatuh nanti Rose di pesta.
''Tapi dia terlihat sangat anggun menggunakan nya,'' ujar Nayla yang tidak rela merusak penampilan Rose yang sangat berkelas, ibu dari Felix ini padahal berencana ingin membuat Ana naik darah saat melihat pasangan baru Felix yang begitu cantik dan elegan.
''Keselamatannya lebih penting dari pada penampilan,'' ujar Felix yang lebih mementingkan kenyamanan Rose, baginya tidak perlu tersiksa untuk terlihat cantik.
''Rencana mama gagal donk membuat wanita ular itu cemburu,'' kesal Nayla.
''Ma, jangan gunakan Rose sebagai alat balas dendam,'' ujar Felix dingin.
''Luhan, carikan sandal yang nyaman untuk nya,'' perintah pria tampan itu.
''Baik Tuan.'' Pria baruh baya itu bergegas untuk melaksanakan tugas dari Tuanya yang terlihat sedang bad mood.
''Selamat malam semuanya,'' sapa Ken yang baru datang.
''Malam Ken,'' jawab Rose.
''Wahh, anda terlihat cantik Nona,'' puji Ken mengacungkan 2 jempol untuk Rose.
Gadis yang di puji itu tersenyum malu.
''Ken kau juga harus memuji stylish nya,'' celetuk Nayla.
''Siapa itu Nyonya?''
''Kau tidak peka sekali, ya jelas aku lah,'' bangga wanita paruh baya itu.
''Anda hebat Nyonya,'' puji Assisten Ken agar nyonya nya itu merasa senang.
''Siapa dulu, Nayla Orbeto,'' ujarnya mengibaskan rambut panjang nan sehat itu.
''Nona, ini sandal untuk anda.'' Luhan menyerahkan sepasang sandal selop tali berwarna hitam untuk Rose.
Ilustrasi
Felix mengambil kembali sandal itu dari tangan Rose. ''Berikan kepadaku,''
Tanpa banyak bicara pria itu berjongkok di hadapan Rose. ''Pegang bahuku,'' perintahnya.
''Iya Tuan,''
Felix membuka high heels itu dan mengganti nya dengan sandal yang di pilihkan oleh Luhan.
Nayla,Luhan, dan Assisten Ken saling lirik satu sama lain, meraka senyum-senyum tak jelas menyaksikan adegan romantis itu.
''Terima Kasih Tuan Felix,'' ujar Rose setelah pria itu selesai membatunya.
Felix berdiri sambil merapikan jasnya, ''Apakah ini sudah nyaman?'' tanya nya memastikan lagi.
Rose mengangguk pelan pertanda tidak ada masalah dengan alas kaki itu.
''Oke, Ayo kita berangkat, Ma aku berangkat ya,'' pamit Felix.
''Iya sayang, jaga Rose dengan baik.'' wanita paruh baya itu tidak pernah lupa untuk mengingatkan Felix untuk mengawasi gadis manis ini dengan baik.
''Hmm.'' Felix hanya berdehem.
Mobil meraka akhirnya beranjak meninggalkan garasi mansion menuju ke Hotel tempat di adakannya pesta.
''Ken kau sudah menyiapkan kado?'' tanya Felix.
''Sudah Tuan.''
''Bagus.''
Dalam 30 menit meraka sampai di hotel bintang lima yang ada di pusat kota.
Banyak undangan yang terlihat sudah masuk ke ball room hotel yang terletak di lantai 1.
Felix dan Rose berjalan berdampingan, tangan kokoh Felix dengan santai menggandeng tangan kurus Rose memasuki ruangan mewah yang sudah di dekor sedemikian rupa oleh sang pembuat acara.
seperti biasa di dampingi Assisten Ken dengan setia mengekor di belakang dua sejoli itu sambil sibuk membawa hadiah untuk sang pemilik hari spesial.
Rose melihat sekeliling memperhatikan ruangan itu sambil terus berjalan mengikuti Felix. ''Indah sekali,'' celetuk Rose mengangumi tempat ini.
''Malam Tuan Felix, terimakasih sudah meluangkan datang ke acara pesta ulang tahun istri saya yang sederhana ini,'' ujar Tuan Anderson yang di dampingi oleh istrinya Ana.
Wanita satu anak yang masih terlihat cantik dan seksi ini dengan setia berdiri di samping Tuan Anderson dan menggandeng tangan suaminya.
''Sama-sama, Tuan Anderson,'' balas Felix tersenyum palsu.
''Nyonya Ana, ini hadiah dari Tuan Felix, mohon di terima.'' Assisten Ken menyerahkan paper bag itu ke Ana.
''Terimakasih Tuan Felix, anda sebenarnya tidak perlu repot-repot seperti ini,'' ujar wanita itu basi-basi sambil tersenyum manis ke Felix, padahal dia sangat senang di berikan kado oleh mantan tunangannya itu.
Felix membalasnya dengan senyuman terpaksa, dalam hatinya pria tampan ini sudah sangat muak melihat wajah Ana, tapi dia harus berpura-pura ramah di depan Tuan Anderson. ''Siapa juga yang repot-repot, itu kan hadiah yang di beli Ken, pede sekali wanita ini,'' gumam Felix dalam hati.
Ana melirik Rose yang hanya terdiam di samping Felix, dia memperhatikan penampilan Rose dari ujung kepala sampai ujung kaki. ''Lumayan cantik, kayaknya dia dekat dengan Felix, ini pertama kali aku melihat nya membawa seorang wanita ke pesta,'' gumamnya dalam hati,
Beberapa kali dia bertemu dengan Felix di pesta sesama kolega, belum pernah dia melihat pria itu menggandeng wanita, biasanya hanya assisten Ken yang menemani.
''Haii Nona, siapa nama anda?'' sapa Ana yang ingin tahu siapa sih wanita yang di ajak oleh mantan tunangan nya ini.
''Saya Rose,'' jawabnya sopan.
''Nama yang indah, perkenalkan saya Ana,'' ujar wanita itu menjulurkan tangan nya.
Rose menerima jabatan tangan itu dengan senang hati. ''Senang berkenalan dengan anda Nyonya Ana,'' ujar nya tersenyum.
''Maaf Tuan Felix saya permisi, saya harus menyambut tamu yang lain dulu, selamat menikmati pesta,'' ujar Tuan Anderson.
''Tidak masalah Tuan Anderson,''
Happy Reading 🥰😘🙏😘
I LOVE YOU 3000😘🙏🥰♥️