
"Rose!" teriak Alice.
Mendengar teriakkan kakaknya Rose berbalik dan menunduk lemas, dia sudah siap jika Alice akan memarahi dia habis-habis.
Tapi semuanya berbeda dari khayalan Rose, kakaknya itu malah berlari kecil ke arahnya dan memeluk adiknya dengan begitu erat. "Rose jangan tinggalkan kakakmu ini!" ujar Alice menangis di pelukan adiknya itu.
Badan Rose membeku, bahkan dia sampai lupa menerima pelukan kakaknya. "Hikss, Maaf Rose, aku tidak pernah membenci mu, Hikss aku tidak mau menemui mu karena aku merasa bersalah," sambung Alice yang menjelaskan semuanya dengan tangisan yang memilukan hati.
Tangis Rose kembali pecah mendengar tangisan kakak tirinya itu, tangan Rose mulai terangkat lalu mengusap punggung Alice secara lembut. "Hikss, anda tidak melakukan kesalahan apapun Nona," ujar Rose mengeratkan pelukannya.
Ternyata adik kakak itu saling menyalahkan diri mereka masing-masing karena terlahir dengan cara yang salah, meraka sama-sama memiliki hati yang lembut yang tak ingin menyakiti satu sama lain, walaupun mereka tidak di besarkan bersama tapi ikatan batin keduanya sangatlah kuat, bahkan sejak hari pertama bertemu,
Alice ingin dekat dengan Rose.
Tangan Alice mendorong pelan badan Rose melepaskan pelukan mereka. "Berhenti menangis, kau jadi jelek," ujar Alice menghapus air mata adiknya.
Dengan candaan Alice, adiknya sampai tertawa kecil. "Anda juga jangan menangis Nona," ujar Rose ikut menghapus air mata Alice yang membasahi pipi kakaknya.
"Adik nakal,Jangan panggil aku Nona, panggil aku kakak mengerti!" omel Alice yang di panggil begitu formal oleh Rose.
"Iya ka...kak," ujar Rose yang masih kaku saat mengucapkan satu kata yang selama ini tidak pernah dia gunakan sebelumnya.
"Gitu donk," senyum manis Alice keluar saat dia berhasil menjadi seorang kakak, selama ini dia selalu menjadi anak tunggal yang selalu kesepian tapi sekarang sudah ada Rose yang akan mengisi kekosongan gadis lajang itu.
Felix ikut senang melihat adik kakak itu bisa menyelesaikan masalah
dengan baik dan mau menerima masa lalu orang tua mereka yang buruk.
*
Sebelum pulang, Rose dan Felix menyempatkan diri sarapan di apartemen Alice. "Rose apa Papa sudah menceritakan semuanya?" tanya Alice ke adiknya itu.
"Sudah kak," jawab Rose.
"Kau menerima semuanya?" tanya Alice lagi.
"Semua yang terjadi biarlah berlalu, saya sudah memaafkan semua orang, yang terpenting sekarang kita bisa berkumpul bersama dan saling menyayangi satu-sama lain," jawab Rose sambil tersenyum manis.
"Terimakasih sudah menjadi adik yang bijaksana, kakak janji akan menebus semua hal yang tidak kamu dapat selama jauh dari kami," ujar Alice.
"Kakak tidak harus melakukan itu, bersama dengan kalian saja sudah membuat aku bahagia, aku hanya ingin memiliki keluarga." Setelah mengatakan itu Rose berdiri dari kursinya dan memeluk Alice dengan penuh kasih sayang.
"Adikku ini sungguh baik, aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi," ujar Alice mengusap punggung adiknya.
"Hkmmm,hkmmm," Felix berdehem keras. "Sibuk berdua saja, Rose apa kamu nggak ingat ada aku disini?" rengek Felix berpura-pura ngambek
Rose melepaskan pelukan kakaknya lalu beralih memeluk Felix yang sedang ngambek. "Rose, kau ingin membunuh ku ya!" pekik Pria itu karena susah bernapas akibat ulah gadis yang bernama Rose.
Rose sengaja memeluk Felix dengan erat untuk mengerjai pria itu. "Ini hadiah kepada orang yang suka iri," ujar Rose tertawa kecil.
"Sayang aku mohon lepaskan, aku nggak bisa bernapas," rengek Felix lagi.
"Ada syarat nya jika kamu ingin lepas," ujar Rose tersenyum miring.
Sebenarnya Felix bisa saja melepaskan diri dari pelukan itu tapi karena pria yang bernama Felix ini bucin jadi apapun akan dia lakukan demi supaya ayang Rose senang, berpura-pura lemah pun tak masalah.
"Apa syarat nya?" tanya Felix pasrah.
"Rose, biarkan aku memberikan syarat," ujar Alice bersuara.
"Iya kak, silahkan," Rose dengan suka rela membiarkan Alice memberikan syarat karena sejujurnya dia tadi hanya bercanda kepada Felix.
"Jangan mengancam kakak ku!" tegur Rose yang tidak terima saudara nya di ancam.
"Iya maaf sayang, kamu kok jadi galak gini sih," ujar Felix manyun.
"Alice cepat katakan syaratnya, jangan membuang-buang waktu ku," ujar Felix judes.
"Hari ini biarkan aku dan Rose menghabiskan waktu bersama."
"Aku tidak setuju, kau tidak bisa menjaga Rose dengan baik," ujar pria itu tidak setuju, ia pernah memberikan kesempatan kepada Alice untuk mengajak Rose pergi tapi apa hasilnya, dia malah membuat orang yang dia cintai terluka.
"Kami tidak akan pergi kemana-mana, hanya di apartemen ku ini saja, aku ingin mengobrol banyak hal dengan Rose," ujar Alice berkompromi.
"Mengobrol lah, aku akan menunggu kalian disini," kekeh Felix tidak mau meninggalkan meraka berdua bersama.
"Tidak ada privasi donk antara kami berdua, lagi pula dia kan adikku, kalian juga belum menikah jadi dia masih hak keluarga kami," ujar Alice yang mengklaim miliknya.
Felix terdiam karena omongan Alice ada benarnya, tidak ada status dalam hubungan meraka, hanya ada kata saling mencintai dari mulut masing-masing, jadi Felix tidak memiliki hak atas Rose. "Oke baiklah, tapi kau harus janji tidak akan mengajak Rose keluar apartemen ini," ujar Felix yang tau diri atas statusnya, keluarga Rose lah yang paling berhak atas Rose.
"Thank you Tuan Felix, jadi sekarang anda boleh meninggalkan kami, aku yang akan mengantar Rose pulang ke Mansion mu," ujar gadis itu berani mengusir seorang Felix.
Felix berdiri dengan kasar sambil menatap Alice dengan tatapan mematikan, terdapat kilatan permusuhan di antara keduanya.
"Sayang, kamu marah?" tanya Rose lembut saat melihat ekspresi kesal Felix.
"Sayang mana mungkin aku marah, aku sangat senang, senang sekali, saking senangnya aku ingin menghajar seseorang," ujar Felix dengan senyum palsunya sambil terus menatap Alice dengan tajam.
Alice memutar bola matanya malas. "Sok manis, pingin muntah aku melihatnya," gumam Alice malas sekali melihat tingkah Felix.
Untuk mengindari perdebatan yang lebih panjang, akhirnya Rose mengantar Felix keluar.
"Sayang, aku ke kantor dulu, jaga dirimu baik-baik," pamit Felix dengan ekspresi tak rela meninggalkan Rose.
"Jangan sedih seperti itu, aku disini kan cuma satu hari," ujar Rose melihat wajah sedih Felix.
"Aku tidak sedih tapi aku nggak bisa lama-lama jauh darimu," rengek Felix.
Cup.
Tanpa aba-aba Rose mengecup pipi Felix dengan mesra supaya menghilangkan sedih pria itu.
Felix tersenyum senang. "Kamu tahu betul cara menghiburku, tapi itu belum cukup, disini belum," ujar Felix menunjuk bibirnya.
"Aku tidak bisa melakukannya disini," ujar Rose malu.
"Tumben dia malu, biasanya dia senang melakukannya," gumam Felix dalam hati. "Jika kamu nggak mau aku yang akan melakukannya." senyum jahil Felix tiba-tiba muncul.
"Tapi saya_"
Cup.
Pria itu langsung berlari kecil setelah melakukannya. "Bye Rose, terimakasih hadiahnya," teriak Felix di kala dia sudah menjauh.
Rose hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah kekanakan Felix yang selalu muncul saat bersamanya.
Happy Reading guys ♥️♥️🥰😘
I LOVE YOU 3000 🥰😘🙏😘🥰🥰