
''Ana,'' ujar Felix terkejut setelah orang yang mendorong nya tadi membuka masker, jelas Felix tidak mengenalinya karena Ana sudah berganti pakaian untuk mengelabuhi banyak orang.
''Haii, sayang,'' ujar wanita itu sendu, dia ingin meraih wajah Felix tapi dengan cepat di tepis oleh sang pemilik wajah.
''Jangan sentuh aku, ingat kau sudah punya suami jadi tidak usah mengganggu kehidupan ku, sekarang minggir.'' Felix mendorong Ana kesamping karena menghalangi pintu.
Felix meraih gagang pintu mencoba membuka pintu itu tapi setelah beberapa kali mencoba hasilnya tetap sama pintu ini tidak mau terbuka. ''Kau yang merencanakan ini?'' dengus pria itu membalik badanya dan menatap Ana dengan tatapan kebencian.
Bukannya takut, Ana malah tersenyum saat di berikan tatapan mengerikan oleh Felix. ''Kali ini kamu tidak bisa menghindar untuk bicara dengan ku.'' ujar Ana.
''Apa maumu, katakan,'' ujar Felix dengan nada dingin, sedingin kutub utara.
''Aku ingin kita kembali seperti dulu,'' ujar Ana dengan tidak tahu malunya.
''Apa kau gila, kau sudah mempunyai suami dan anak, jika tuan Anderson tahu dia akan membunuhmu!'' ujar Felix berusaha sabar agar Ana tidak mengambil tindakan gegabah.
''Aku tidak peduli, aku masih mencintaimu, sangat mencintai mu, maafkan aku,'' suara Alice bergetar saat mengatakan nya, gadis itu berusaha menahan agar air matanya tidak jatuh. ''dulu aku tidak berniat meninggalkan mu, kakek menjodohkan ku dengan Anderson, aku tidak bisa menolak karena kakek dalam keadaan sekarat, maafkan aku, Hikss, Hikss,'' akhirnya air mata nya tidak bisa terbendung lagi, dia menangis penuh penyesalan.
''Kenapa kamu menyetujui pertunangan kita jika kamu sudah di jodohkan? kenapa kamu tidak memberi tahuku tentang masalah ini, pada saat itu aku bisa saja memohon kepada kakekmu untuk membatalkan perjodohan itu, tapi kamu memilih untuk berbohong dan meninggalkan ku dengan begitu saja tanpa alasan, apakah kau tahu betapa sakitnya aku,'' dada Felix sesak saat mengingat masa lalu yang begitu kelam.
Ana memeluk Felix. ''Hikkss, hiks, aku akui itu memang kesalahan ku tapi saat itu aku sangat bingung antara memilih cintaku atau permintaan kakek, Anderson sangat berjasa di keluarga ku maka dari itu aku mengerti kenapa kakek memintaku untuk menikah dengannya, kejadiannya begitu cepat, aku tidak mengerti keputusan yang aku ambil itu baik atau salah, maafkan aku, aku masih sangat mencintai mu,'' ujar Ana panjang lebar sambil menangis di pelukan Felix.
Felix mengurai pelukan itu. ''Semuanya sudah berlalu, kau sudah bahagia dengan keluarga mu dan aku sudah bisa Move on dari masa lalu jadi aku sudah memaafkan mu, tapi untuk kembali bersama, itu tidak mungkin karena aku sudah tidak mencintai mu lagi,'' ujar Felix dengan tegas, dia tidak mau Ana menyimpan harapan untuk nya.
Deg.
Jantung Ana begitu sakit bak tertusuk pisau saat Felix mengatakan bahwa pria itu tidak mencintai nya lagi, padahal cintanya masih sama seperti dulu walaupun sudah 5 tahun berlalu. ''Tidak mungkin, ini tidak mungkin Hikss,Hikss,'' Ana melorot jatuh ke lantai, shock dengan kenyataan yang sangat pahit ini.
''Mulai lah cinta tuan Anderson, dan lupakan aku,'' ujar Felix yang melihat Ana terpuruk akibat penolakan nya.
''Tidak, jangan katakan itu, aku yakin kamu masih mencintai ku, Apa karena wanita bernama Rose itu, yang membuat perasaan mu berubah? aku ingatkan kau tidak mencintai nya tapi hanya penasaran,'' ujar Ana membawa-bawa nama Rose.
''Jangan libatkan dia, aku sudah melupakan mu jauh sebelum aku bertemu dengan Rose,'' ujar Felix tidak suka mendengar teman kesayangan nya di libatkan dalam hal ini.
Ana bangkit dari keterpurukannya lalu mendorong tubuh Felix ke tembok. ''Taukah kamu sudah berapa kali aku mencoba mencintai suamiku? tapi tidak pernah bisa, yang aku cinta hanya kamu, sekarang aku ingin membuktikan bahwa kau benar-benar sudah melupakan ku atau belum,'' Ana mengatakan dengan penuh emosi yang campur aduk.
Ana berjinjit mendekatkan wajahnya ke Felix dan mencium bibir pria itu dengan lembut.
Di ball room semua pengawal Tuan Anderson sedang sibuk mencari nyonya mereka yang tiba-tiba menghilang tapi nyarinya secara diam-diam, tidak mungkin kan memberi tahu tamu undangan bahwa sang pemilik acara menghilang.
Disini lain Rose, Alice dan assisten Ken sedang asik menyaksikan pertunjukan dance. ''Rose, aku ke toilet dulu ya, kau mau iku?'' teriak Alice tepat di telinga Rose karena suaranya kalah dengan suara musik yang sangat keras.
''Iya Nona cantik, maaf saya tidak ikut,'' jawab Rose.
''Oke, aku pergi dulu,'' Alice meninggalkan Rose bersama assisten Ken.
Drett, ponsel Ken bergetar.
''Nona, Saya mengangkat panggilan telepon dulu, Nona diam disini jangan kemana-mana, Oke'' ujar assisten Ken mengajukan jempolnya.
Assisten Ken pergi ke pinggir agar bisa mengangkat panggilan dan terhindar dari suara musik yang keras.
Dan tersisa lah Rose sendirian disana. ''Uhh, haus banget, aku harus mencari minum,'' gumam Rose merasa tenggorokan nya kering.
''Boleh, aku minta minumannya?'' tanya Rose yang melihat seorang pelayan membawa minuman berwarna bening yang dia kira adalah air.
''Silahkan Nona.''
''Termakasih'' ujar Rose tersenyum.
Rose dengan cepat menengguk minuman itu. ''Kenapa rasa airnya berbeda ya?,'' gumam gadis itu heran. ''Ahh, mungkin begini air di pesta,'' gumam nya kembali menengguk minuman itu sampai tandas.
Kembali ke Felix dan Ana.
Felix membeku, tidak membalas ciuman itu dan juga tidak menolak, dia sangat familiar dengan bibir yang sedang menyentuh bibirnya saat ini.
Ada rasa senang di hati Ana karena Felix tidak menolak, tapi sepersekian detik kemudian Felix mendorong tubuh Ana hingga terjatuh tersungkur di lantai.
''Beraninya kau mencium ku, jika kau tidak peduli dengan suami mu pikiran lah anakmu, gimana perasaan nya jika melihat ibunya seperti ini,'' ujar Felix menahan kesal.
''Hikkss,Hikss,'' tangis Ana.
Felix sudah tidak peduli dengan tangisan wanita itu, dia menelepon Ken untuk membebaskan nya dari jebakan sialan ini.
''Halo Tuan,'' sahut Assisten Ken dari lewat panggilan telepon.
''Cepat cari aku di toilet, aku terkunci disini,'' ujar Felix.
''Baik Tuan,''
Tutt, telepon tertutup
Assisten Ken bergegas menuju ke toilet untuk membebaskan tuannya.
Di sisi lain Rose sudah mulai sempoyongan, dia merasakan kepala nya sangat berat seperti tertimpa sesuatu. ''Ahhh, sakit sekali,'' ujarnya masih setengah sadar.
Rose berusaha menegakkan badannya, dia mencoba berjalan untuk mencari Alice dan Assisten Ken, gadis itu memegang meja untuk menuntun jalannya, dia berhenti sejenak karena merasakan kepalanya semakin berputar.
''Rose kamu kenapa?'' tanya Alice yang melihat Rose memegang kepala sambil tertunduk.
''Kepala saya sakit setelah meminum air,'' Rose menunjukkan gelas yang dia bawa.
''Masak air membuat kepala pusing sih'' pikir Alice bingung.
Happy Reading 🥰😘🙏♥️
I LOVE YOU 3000🥰♥️♥️😘😘🙏