Hidden Girl

Hidden Girl
Harus ijin



Pagi pun tiba.


Felix menggeliat mulai membuka matanya perlahan sambil meregangkan badan, beberapa saat dia sempat guling-guling di kasur karena males untuk bangun.


''Kok, kosong?,'' ujar Felix saat tersadar Rose sudah tidak ada di kasur, dia langsung loncat bangun lalu turun dari kasur, padahal nyawa di tubuhnya belum seratus persen terkumpul. ''Rose!'' teriak Felix panik.


Dia ngecek di kamar mandi tapi juga tidak ada, Felix semakin takut apalagi kemarin meraka membicarakan perpisahan menambah rasa parno pria itu.


''Rose! kamu dimana?'' teriak Felix mencari keluar kamar, dia mencari ke meja makan juga tidak ada, di sana hanya ada pelayan sedang menyiapkan sarapan. ''Kalian melihat Rose?'' tanya Felix.


''Kami belum melihat Nona Rose,'' jawab pelayan serentak.


Felix segera beranjak pergi ke tempat lain tapi hasilnya nihil, sudah hampir semua tempat dia cek tapi belum juga ada tanda dimana keberadaan Rose. ''Tinggal kamar mama,'' ujar Felix, dia segera berlari menuju kamar mamanya.


Brakkk, Felix membuka pintu mamanya dengan kasar, terlihat dia sedikit ngos-ngosan.


Mama Nayla, Luhan dan Rose terlonjak kaget dan otomatis menoleh ke arah pintu. ''Sayang ada apa? mengagetkan saja,'' tanya Mama Nayla tapi Felix tidak menjawab dan langsung menuju ke arah Rose lalu memeluk gadis itu secara mendadak sehingga membuat tubuh mungil Rose sedikit terhuyung mundur.


''Ternyata kau disini, kenapa tidak bilang sih, membuat khawatir saja,'' omel Felix, tapi ada rasa lega dalam dirinya, nyawanya yang tadi sempat hilang sekarang kembali lagi.


''Maaf Tuan,'' hanya itu yang keluar dari mulut Rose karena dia tidak mengerti kenapa Felix tiba-tiba memeluknya sambil mengeluarkan kemarahan. ''Apa salah ku?'' gumam Rose dalam hati.


Mama Nayla dan Luhan saling menoleh satu sama lain. ''Ada apa dengan mereka?'' bisik Mama Nayla ke Luhan.


''Saya juga tidak tahu, Tuan kelihatan panik,'' jawab Luhan berbisik.


Felix melepaskan pelukan itu. ''Kenapa kesana kemari, kau kan masih sakit,'' marah Felix kepada Rose, ada raut kekesalan di sana, Rose bisa melihat itu.


''Saya sudah membaik kok, anda tidak perlu khawatir,'' ujar Rose tersenyum untuk menenangkan pria itu.


Felix mengusap rambut Rose dengan lembut. ''Tapi tetap saja kau itu masih belum pulih sempurna, kalau mau pergi bilang ke aku oke,'' ujar nya dengan suara yang serendah mungkin, tatapan matanya berubah begitu hangat.


''Hmmmm, hmmmm,'' Mama Nayla berdehem. ''Kamu itu main nyelonong kamar mama, nggak ngucapin salam dan juga malah mesra-mesraan di depan kami,'' kesal Mama Nayla dengan kelakuan putra semata wayangnya ini.


''Pagi Mama ku yang cantik,'' ujar Felix males.


''Kamu kenapa sih gawat sekali, orang Rose baik-baik saja, lagipula dia kan di rumah ini saja nggak kemana-mana, masak cuma ke kamar mama minta ijin, lebay sekali,'' ejek Mama Nayla yang heran dengan Felix yang terlalu overprotektif, padahal dengan pacar sebelum-sebelumnya nggak gini amat.


''Mama kok marah ke aku, ini kan salah mama yang nggak ijin sebelum ngajak Rose, lagipula ngapain juga berkumpul di kamar Mama, kau juga Luhan bukannya kerja malah ngerumpi disini, aku kan jadi panik semua orang menghilang,'' omel balik Felix tidak mau kalah.


''Tuan tenang, saya sendiri yang melarang untuk membangun anda karena anda pasti lelah sudah menjaga saya semalaman, kami disini hanya melihat album photo sewaktu anda kecil, Lihat ini,'' ujar Rose menunjukkan album phone tebal itu.


''Tuh dengar, kamu aja yang terlalu panikan, orang cuma di rumah saja,'' seloroh Mama Nayla.


''Anda sangat tampan sewaktu kecil, Luhan bilang anda sering menangis jika kalah dalam permainan, lihat ini photo anda waktu menangis sangat lucu,'' ujar Rose dengan semangat, senyuman manis tercetak di wajah Rose saat membicarakan tentang masa kecil Felix yang dia dapat dari cerita Luhan.


''Menurut mu aku tampan dan lucu?'' tanya Felix mengulang ucapan Rose, ini pertama kalinya Rose memuji ketampanannya.


''Tentu Tuan, semua orang pasti mengakuinya,'' puji Rose.


Rose berhasil membuat Felix kembali tersipu malu. ''Terimakasih, kau bisa saja sih,'' ujarnya senyum-senyum tak jelas.


Mama Nayla dan Luhan kembali saling toleh satu sama lain, mereka kaget dengan perubahan sikap Felix yang signifikan jika bersama Rose.


Mama Nayla dan Luhan hanya bisa melongo melihat dua sejoli itu pergi begitu saja. ''Luar biasa,'' gumam Mama Nayla.


''Nyonya hubungan meraka apa sebenarnya?'' tanya Luhan.


''Aku juga tidak tahu, yang pasti kita harus segera mencari tahu,'' jawab Mama Nayla.


Di meja makan.


''Sayang kamu tidak kerja?'' tanya Mama Nayla yang melihat Felix masih mengenakan baju rumah.


''Tidak Ma, Rose masih sakit,''


''Saya sudah sehat,'' seloroh Rose tidak setuju dirinya dianggap masih sakit.


Felix menatap Rose yang ada di depannya dengan lembut. ''Rose, tidak ada orang yang baru satu malam istirahat sudah sembuh, dirimu saja kemarin tidak sadar bahwa sedang sakit,'' ujar Felix berusaha berbicara selembut mungkin, sekarang dia belajar untuk menahan amarah saat bicara dengan Rose.


''Rose, Felix benar, kalian juga perlu istirahat yang cukup, jangan hanya memikirkan pekerjaan,'' kali ini Nayla setuju dengan Felix.


''Iya Ma,'' jawab Rose.


''Mama ngomong baru nurut,'' gerutu Felix dalam hati.


*


*


*


Di ruang kerja Felix.


Tok tok tok.


''Iya, masuk,'' teriak Felix dari dalam. ''oh, Mama, aku kira Luhan.'' Felix menghentikan pekerjaannya karena dia tahu pasti Mama Nayla mau membicarakan sesuatu.


''Sayang bisa Mama bicara?'' tanya Mama Nayla basa basi padahal dia tahu jika Felix sudah mengerti apa tujuannya, setiap datang ke ruang kerja anaknya dia pasti membicarakan hal yang serius.


''Iya, Ma.''


''Sebenarnya bagaimana hubungan kamu dan Rose, kalian pacaran?'' tanya Mama Nayla Ragu.


Felix menghembuskan napas kasar, dia membenarkan duduk sebelum berbicara. ''Felix juga nggak tahu Ma, kita belum ada omongan untuk menjalin hubungan serius, tapi Felix mulai mencintai Rose,'' ujarnya jujur tidak ingin menutupi perasaan yang sesungguhnya terhadap Rose.


Nayla menggenggam tangan putra tunggalnya itu dengan lembut. ''Sayang, jika kamu mencintai Rose, ungkapkan lah perasaan mu padanya, kalian harus memperjelas hubungan kalian dan memberikan kepastian untuk Rose,'' saran Mama Nayla.


''Felix tahu Ma, tapi aku masih bingung untuk mengungkapkan perasaan kepada Rose, Felix takut dengan tanggapan dari Rose, mama kan tahu sendiri dia kadang tidak mengerti apapun, Felix belum siap menerima penolakan,'' ujar pria itu, ada rasa takut di setiap katanya, dia masih trauma dengan kata penolakan, Ia masih ingat betul bagaimana sakit di campakkan oleh Ana begitu saja, baginya di campakkan sama saja dengan di tolak.


Happy Reading 🥰😘🙏😘🙏


I LOVE YOU 3000😘🥰♥️🙏