
Felix sebenarnya tidak menyangka dengan respon gadis itu karena awalnya dia yang tidak bisa menahan hasrat nya terhadap Rose tapi gadis ini malah menikmati nya juga. ''Baguslah jika dia juga suka,'' gumam Felix dalam hati.
Felix melepaskan sit belt yang masih bertengger di badan gadis itu, dia mengulurkan tangan nya untuk membantu Rose keluar.
Pria itu menggenggam tangan Rose lalu mengajaknya berjalan berdampingan. ''Sial, benar kata Alice, aku sekarang sedang berkencan, lihatlah tangan kami menyatu,'' gumam Felix dalam hati sedikit melirik tangan mereka yang bertautan.
''Wahhh,'' ucap Rose dengan pandangan lurus sedang mengangumi sesuatu yang ada di depannya.
Di hadapan mereka terlihat jelas hamparan pasir yang luas berpadu dengan birunya air laut di tambah cuaca cerah yang semakin membuat siapapun yang melihat nya pasti tidak mau mengalihkan pandangan meraka.
Felix dan Rose terdiam menikmati pemandangan indah itu, meraka berdua terhanyut dalam ketenangan saat deru ombak terus menghantam batu karang yang kokoh yang ada di tepi pantai.
Bahkan meraka tidak peduli dengan teriknya sinar matahari yang menembus kulit putih mereka yang begitu sensitif dengan sinar matahari.
''Kau merasa tenang, Kan?'' tanya Felix setelah beberapa saat bungkam.
''Iya,Tuan,'' jawab singkat Rose.
Gadis manis itu bisa mengerti kenapa Tuan penyelamat nya mengunjungi tempat ini saat dia merasa sedih karena Rose juga merasakan ketenangan saat menatap hamparan laut yang indah itu.
''Lebih baik kita berteduh, aku nggak bawa sunscreen nanti kulit mu melepuh,'' saran Felix yang tidak mau Rose terpanggang di bawah teriknya sinar matahari.
Meraka berdua akhirnya berteduh di salah satu pohon kelapa yang rindang itu, Felix dengan sigap membuka jaketnya untuk di gunakan Rose sebagai alas duduk.
''Duduklah,'' perintah Felix.
Dengan patuh Rose duduk di samping pria tampan itu.
''Rose, jika kau sedih dimana kau akan menenangkan diri?'' tanya Felix yang juga ingin tahu tempat favorit Rose saat gadis itu sedang sedih.
''Hmmm, hanya di kamar,'' jawab gadis manis itu.
''Bukankah di kamar akan semakin membuat kita tambah sumpek,'' ujar Felix.
''Ya mau gimana lagi hanya kamar yang bisa saya jadikan tempat yang paling aman untuk meluapkan kesedihan saya, jika keluar rumah ada banyak binatang buas,'' ujar Rose jujur.
''Benar juga, kenapa tidak terpikir oleh ku ya,'' ujar Felix sambil mengangguk-angguk, merasa omongan Rose masuk akal juga gadis itu kan tinggal hutan, mau pergi kemana lagi dia.
''Ini sangat indah, selain indah apa yang membuat anda sangat suka tempat ini saat anda merasa sedih?'' tanya Rose.
''Disini aku merasa tenang dan bisa berpikir dengan jernih, banyak solusi yang aku dapat kan dari masalah yang aku punya setelah menyendiri disini, bagiku pantai
menggambarkan pikiran yang bebas,'' jawab Felix menatap lurus ke depan menikmati ciptaan tuhan yang begitu indah ini.
''Saya pikir anda tidak punya masalah karena anda memiliki keluarga yang lengkap, rumah megah, kantor bagus, teman yang baik'' ujar Rose yang merasa sedikit iri dengan kehidupan sempurna yang dimiliki oleh pria tampan ini.
''Di dunia ini tidak satupun orang yang hidupnya sempurna tanpa mempunyai masalah, setiap orang memiliki masalah yang berbeda dan juga cara penyelesaian yang berbeda,'' jelas pria itu, dia mengingat dengan jelas bagaimana hidupnya hancur saat di kecewakan oleh orang yang sangat ia cintai.
''Uhmmm,'' Rose menarik napasnya dalam lalu menghembuskan dengan kasar, ''Semoga saya bisa cepat ketemu dengan ayah,'' harap gadis itu.
Felix menoleh ke samping melihat Rose. ''Sebenarnya ada rasa tidak rela jika harus berpisah dengan teman sebaik dirimu, kau membuat hidupku berwarna setelah sekian lama hitam, Rose aku harus berterima kasih padamu karena kau juga membawa cahaya yang menerangi hidupku,'' gumam pria itu dalam hati sambil terus menatap Rose.
*
*
*
1 Minggu kemudian.
''Mama dengar, malam ini kamu akan datang ke pesta ulang tahun wanita ular itu,'' cerca Nayla ke putranya yang sedang duduk di balkon.
''Aku hadir bukan untuk nya, Tuan Anderson adalah kolega kita jadi aku datang untuk hubungan bisnis kita,'' jawab cuek Felix lalu menyeruput tehnya sambil memperhatikan hamparan bunga dari balkon kamarnya.
''Aku bisa menjaga diriku sendiri, jangan bawa Rose dalam masalah masa lalu kita,'' ujar Felix.
''Tapi Mama tidak mau kau di hina oleh wanita itu karena belum mendapatkan pasangan setelah berpisah darinya sedangkan dia hidup bahagia dengan selingkuhan nya itu,'' ujar Nayla dengan suara yang meninggi.
Felix berdiri dari duduknya, dengan kedua tangannya terkepal menahan emosi . ''Ma, hentikan, dia cuma masa lalu,'' ujar pria itu lalu pergi meninggalkan ibu yang telah melahirkan nya itu, dia memilih pergi untuk mengehentikan perdebatan, dia tidak mau emosinya tumpah dan menyakiti mamanya.
''Anak itu tidak pernah bisa di kasi tahu,'' ujar Nayla kesal.
Di kantor.
''Berhenti,'' perintah Felix saat gadis itu ingin masuk ke ruangan kerjanya.
''Ahh, maaf saya mendahului anda,'' ujar Rose, tapi tidak biasanya Felix keberatan jika dia berjalan duluan.
''Bukan itu, tutup mata, ada kejutan untuk kamu,'' ujar Felix.
Rose mengerutkan alisnya.'' Kejutan?'' tanya nya.
''Iya, pokok cepat tutup matamu,''
Felix yang tidak ingin menunggu lama langsung menutup mata Rose dengan satu tangannya dan tangan lainnya di gunakan untuk membuka pintu.
''Ayo jalan,'' perintah nya.
Dengan perlahan Felix mengarahkan Rose. ''Sudah Tuan?'' tanya Rose.
''Belum, selangkah lagi,''
''Sekarang bukalah matamu.'' Felix melepaskan tangannya yang tadi menutupi mata gadis manis itu.
''Ini kejutan untuk saya?'' tanya Rose.
Di depannya terdapat satu meja yang di lengkapi dengan kursi yang sangat nyaman, di atas meja lengkap ada komputer dan alat tulis menulis.
''Iya, supaya kamu sama dengan Ken, punya meja kerja sendiri,'' jawab Felix tersenyum ke gadis itu.
Felix sengaja menambah satu meja kerja lagi di ruangannya khusus untuk Rose, agar gadis itu bisa lebih semangat lagi dalam bekerja.
''Ini untuk mu juga,'' Felix menyerah kan sebuah smartphone keluaran terbaru berwarna hitam untuk Rose.
Rose menerima benda pipih itu. '' Wahh, Ini adalah ponsel, bik Anum menggunakan alat ini untuk menghubungi ayah, tapi tuan saya tidak terlalu bisa menggunakan nya,'' sedihnya lalu menunduk lesu.
''Aku akan mengajari mu cara menggunakan nya,'' hibur Felix.
''Benarkah?'' semangat Rose.
''Hmmm'' pria itu berdehem.
''Terimakasih Tuan,''
Felix mengambil ponsel itu dan menunjukkan kepada Rose bagaimana cara menggunakan nya.
''Geser ini, lalu masukkan password nya, kau harus mengingat password nya,'' jelas pria tampan itu dengan sabar.
Rose pun dengan seksama menyimak penjelasan dari Felix.
Rose terus melontarkan pertanyaan kepada pria tampan itu, Felix menjawab dengan senang hati, dia sampai meninggalkan pekerjaan demi gadis manis ini.
Happy Reading 🥰😘🙏
I LOVE YOU 3000🙏😘♥️🥰