Hidden Girl

Hidden Girl
Panas



''Rose kamu mau makan siang apa? assisten Ken akan memesankan nya,'' tanya Felix, dia sadar bahwa sebentar lagi jam makan siang.


''Apa saja terserah anda,'' jawab Rose.


''Oke, kalau begitu kami berangkat''


''Iya, Byee.''


Di dalam mobil.


''Tuan, anda pacaran dengan Nona Rose?'' tanya Assisten Ken yang sudah tidak tahan lagi dengan rasa penasarannya.


''Tidak,'' jawab Felix singkat.


''Tapi anda melakukan itu dengan Nona,'' ujar assisten Ken ragu.


''Sudah aku bilang hentikan pikiran liar mu, aku tidak melakukan sejauh itu, lihat lah Rose dia bisa melakukan aktivitas seperti biasa, sama saja seperti mama selalu berfikiran mesum,'' dengus Felix, padahal dia juga sering berpikiran mesum tapi pada saat bersama Rose saja.


Assisten Ken berpikir sejenak. ''Benar juga kata Tuan, mana mungkin Nona bisa melakukan aktivitas seperti biasa jika habis melakukan itu, pasti sudah tidak bisa berjalan jika di gempur oleh Tuan,'' gumam Assisten Ken dalam hati.


*


*


*


Kring,kring, telepon Rose berdering.


''Halo, ada apa Ken?'' jawab Rose.


''Nona pesanan makanan anda sudah di bawah, silahkan di ambil,''


''Baik, Terimakasih.''


''Iya Nona, selamat makan siang.''


''Anda dan Tuan sudah makan?'' tanya Rose yang juga memikirkan meraka.


''Tenang saja Nona, kami akan makan siang bersama rekan bisnis Tuan Felix,''


''Baguslah, Bye Ken, aku akan mengambil makanan dulu.''


''Bye Nona.''


Tutt, sambungan telepon terputus.


Rose langsung bergegas turun ke bawah, sekarang dia sudah berada di luar kantor untuk mencari orang yang mengantarkan makanan. ''Atas nama Nona Rose,'' tanya seorang pria pengantar makanan.


''Iya, itu saya.''


''Ini pesanan anda,'' ujar nya memberikan pesan itu ke Rose.


''Termakasih.''


''Iya, kalau begitu saya permisi,'' pria pengantar makanan itu meninggalkan Rose.


''Rose!'' panggil seseorang saat dia hendak masuk ke dalam.


''Nona Ana,'' ujar Rose mengingat betul dengan wajah yang dia lihat saat ini.


''Kau mengingat ku?''


''Tentu saja Nona, baru kemarin kita bertemu,'' ujar Rose tersenyum manis ke Ana.


''Tidak bersama Felix?'' tanya Ana sambil tengak-tengok melihat situasi.


''Tuan sedang meeting di luar bersama assisten Ken,'' jawab Rose tidak menaruh curiga sedikitpun.


''Boleh aku bertanya sesuatu?''


''Silahkan Nona.''


''Ada hubungan apa kamu dengan Felix?'' tanya Ana to the point.


''Hubungan? saya tidak mengerti maksud anda,'' jawab Rose dengan ekspresi bingung.


''Seberapa dekat hubungan mu dengan Felix?'' tanya Ana lagi tidak mau menyerah.


''Tentu dekat karena saya bekerja dengan Tuan,'' jawab Rose.


''Hanya bekerja?''


''Iya Nona''


''Bye, Nona,'' Rose langsung masuk setelah mengakhiri percakapan dengan Ana.


Sekitar jam 6 sore, Felix kembali ke kantor setelah menyelesaikan pekerjaan di luar, selain meeting dia juga memeriksa projek yang lain, makanya memakan waktu yang cukup lama.


Felix masuk ke ruangan kerjanya mendapati Rose sudah tertidur pulas di sofa dengan posisi bersandar. ''Kenapa harus tertidur seperti itu, nanti punggungnya sakit baru merengek, dasar gadis nakal'' omel Felix lalu duduk di samping Rose.


Dia memperhatikan wajah polos itu dengan seksama. ''Tapi kau begitu lucu kalau tidur seperti ini,'' ujar pria itu tersenyum gemas, penatnya menjadi hilang setelah melihat wajah Rose, gadis ini bagaikan obat untuk Felix. ''Uuuu, rasanya aku ingin menggigit pipi mu yang cabi ini,'' Tangan Felix otomatis terangkat mengelus pipi Rose yang sangat merah.


''Kenapa panas?'' ujar Felix, dia kembali memastikan dengan menyentuh dahi Rose. ''Benar panas, pantas saja pipinya memerah.''


Rose terbangun saat merasa ada yang menyentuh wajahnya. ''Tuan,kenapa lama sekali?'' ujar Rose lalu memeluk Felix dengan manja.


''Maaf ada banyak pekerjaan mendadak, kenapa tidak bilang bahwa kau sakit?'' tanya Felix dengan nada suara khawatir.


''Saya tidak sakit,'' ujar Rose, karena seingatnya dia tidur sebentar sebab merasakan ngantuk yang luar biasa.


''Tidak sakit bagaimana, badanmu panas gini,'' ujar Felix sambil terus memeriksa panas badan Rose. ''Sudah aku bilang untuk pulang masih saja kekeh ke kantor,'' omel Felix, dia mengeluarkan teleponnya untuk menghubungi assisten Ken.


''Ken, datang ke ruangan ku,'' ujar Felix lewat sambungan telepon.


Assisten Ken dalam hitungan detik sudah ada di ruangan Felix. ''Nona, kenapa?'' tanya Assisten Ken melihat Rose memeluk bosnya dengan mata yang terpejam.


''Badannya sangat panas, antar aku pulang dan telepon dokter untuk memeriksa kesehatannya,''


''Baik Tuan,''


Tanpa pikir panjang Felix langsung menggendong tubuh Rose ala bridal style. ''Mau kemana?'' lenguh Rose.


''Kita akan pulang.'' Dia terus berjalan dengan cepat tidak ingin menunda waktu.


Beberapa karyawan jelas melihat pemandangan itu, meraka melongo melihat bos yang mereka anggap tak tersentuh menggendong seorang perempuan.


''Wahh, Siapa itu yang di gendong tuan Felix? dia terlihat terburu-buru'' ujar salah satu karyawan.


''Dia adalah karyawan baru, tapi selalu datang dan pulang bersama tuan Felix,'' jawab yang lainya.


''Apa jabatannya? bisa sedekat itu dengan Tuan Felix,'' celetuk lagi karyawan yang lain dengan tingkat ke kepoan yang tinggi.


''Tidak tahu, status pekerjaannya tidak jelas,'' jawab yang lainnya terus bergosip tentang bos meraka.


*


*


''Ada apa dengan Nona?'' tanya Luhan melihat gadis itu di gendong oleh Felix.


''Dia sakit, cepat ambilkan kompres, dan buatkan makanan untuk nya,'' perintah Felix, Setelah mengatakan itu dia segera membawa Rose ke kamar.


Mama Nayla menerobos masuk ke kamar Rose setelah mendengar calon mantunya sakit, terlihat disana Felix tengah meletakkan kompres di dahi gadis itu. ''Rose sakit apa?'' tanya Nayla panik. ''Mama akan telepon dokter,'' ucapnya berturut-turut.


''Badanya panas, Mama jangan panik, Ken sudah menelpon dokter sebentar lagi sampai,'' ujar Felix.


''Kamu gimana sih, baru satu hari pergi sudah buat Rose sakit, Kenapa biarkan Rose bekerja setelah melakukan itu,'' omel Nayla.


''Mama, aku mohon hentikan, aku tidak melakukan sejauh itu.'' rengek Felix yang sudah lelah menjawab pertanyaan seperti itu.


''Terus ini apa?'' Nayla menunjuk leher Rose yang syalnya sudah di lepas oleh Felix sendiri.


''Hanya sampai sana tidak lebih,'' jawab Felix malas, kenapa sih Mamanya ini selalu ikut campur urusan pribadi seperti itu.


''Yah, nggak jadi deh punya cucu,'' ujar Nayla mendengus lemas.


''Tuan, dokter sudah datang'' ujar Assisten Ken.


''Silakan dok,'' Felix bangun dari tepi kasur membiarkan dokter memeriksa Rose.


Dokter segera mengecek kondisi Rose. ''Nona hanya kecapean, dengan istirahat yang cukup Nona akan segera pulih, saya sudah memberikan obat juga,'' ujar sang dokter setelah memeriksa Rose.


''Baik dokter, Terimakasih,'' ujar Felix.


''Iya Tuan, saya permisi,'' pamit dokter itu.


Dokter itu beranjak pergi di temani oleh asisten Ken.


''Felix, kamu mandi dulu, biarkan mama yang menjaga Rose.''


''Iya Ma.''


Happy Reading 🥰😘♥️😘


I LOVE YOU 3000😘♥️♥️🥰