Hidden Girl

Hidden Girl
Papa



Sesuai permintaan mamanya, hari ini Felix pulang lebih awal dari biasanya, bahkan jam 5 sore dia sudah sampai di Mansion, dia memutuskan mengerjakan pekerjaan nya di rumah saja.


Ceklek.


Nayla memasuki ruang kerja Felix.


Terganggu oleh suara dari arah pintu, pria itu menoleh sesaat.


''Ohh Mama,'' ucapnya.


Nayla duduk dengan anggun menyilangkan kakinya di sofa.


''Mama mau bicara sesuatu.''


Felix yang masih sibuk dengan layar laptopnya hanya berdehem saja.


''Hmmm.''


''Dengernya Mama dengan baik donk,'' sebal Nayla.


'' Iya Ma, Felix bakal dengerin,


Mama mau bicara tentang apa?''


''Berikan Rose pekerjaan,'' ucapnya singkat.


''Jadikan aja dia pelayan di rumah, dia kan bisa masak,'' jawab Felix.


''Sembarangan, masak anak perempuan Mama di jadikan pelayan, Mama maunya dia kerja di kantor mu.''


''Kerja apa di kantor ? dia kan bodoh , naik lift saja dia takut.''


''Apa aja , bersih-bersih ruangan mu kek , atau jadi asisten untuk


membantu Ken, kamu kan juga perlu ada assisten perempuan, masak sama Ken terus nanti kalian di kira penyuka sesama jenis loh.''


'' Aku tidak perlu pendamping perempuan, Mama kan tahu sendiri Ken sudah punya tunangan, jangan ngomong sembarangan ah.''


''Mama tahu tapi yang lain belum tentu tau kan, kamu mau di gosipin kayak gitu, sekarang lagi marak bromance lo , orang jaman sekarang pada jodoh-jodohin sesama jenis tau'' ucap mama nya menakut-nakuti.


''Aku nggak peduli Ma,'' jawab Felix cuek, pria itu tidak pernah peduli dengan omongan orang lain.


Nayla manyun setelah mendengar itu. ''Aku harus memutar otak,'' gumam nya dalam hati.


''Kalau kamu nggak mau, mama bakal bilang ke papa,'' ancam Nayla ke putranya.


''Bilang aja, papa juga bakal nggak setuju menerima orang yang tidak kompeten bekerja di perusahaan kita,'' ucap Felix dengan percaya diri yang tinggi .


''Oke, kalau kamu menantang Mama,'' balas Nayla.


Nayla mengeluarkan handphone nya, mencari nama suaminya di layar ponsel itu.


''Halo sayang apa kabar?'' ucap Tuan Hima mengangkat sambungan telepon dari istri tercinta nya.


''Hikss, hiksss, pa,'' tangis Nayla.


Lebih tepatnya berpura - pura menangis.


''Ada apa sayang?'' jawab Tuan Hima panik , Kenapa istrinya yang biasanya ceria itu bisa menangis, setahunya Nayla adalah istri yang jarang sekali menangis.


''Felix membantah ucapan ku, dia berani melawan mama, aku sangat sedih Hikss, Hikss.''


Felix menghela napasnya dengan kasar melihat kelakuan Mamanya.


''Sungguh akting yang bagus, tuhan tolong berikan mamaku piala Oscar,'' gumam Felix kesal.


''Sayang tenanglah, apa Felix ada di sana?'' Tanya tuan Hima lembut.


''Hikss, ada pa.''


Nayla segera menyerahkan ponsel nya, dengan pasrah Felix menerimanya.


Dengan lesu dia mengangkat ponsel itu. ''Iya pa,'' jawab Felix pelan.


''Kamu apakan mama mu? sampai menangis seperti itu,'' ucap tuan Hima dengan nada suara yang tiba-tiba berubah tegas.


''Mama ingin aku melakukan hal yang melanggar aturan kantor pa,'' ucap Felix membela dirinya.


''Papa tidak peduli, kau harus menghormati apapun keputusan Mamamu, tidak mungkin mama mu melakukan hal yang buruk, aku lebih mengenal istri ku daripada kamu!'' bentak Papa Hima, yang sama sekali tidak mau mendengar kan alasan Felix sama sekali, Felix lupa jika papa nya itu bucin akut dengan mamanya ini, apapun permintaan istrinya pria paruh baya itu pasti akan berusaha memenuhi walaupun itu melanggar aturan sekalipun.


Nayla menjulur kan lidahnya ke arah Felix mengejek putra nya itu .


''*I*tu lah akibat meremehkan kekuatan ku '' gumam Nayla dalam hati.


Dia tahu betul suaminya itu lebih menyayanginya daripada Felix putranya, walaupun Felix anak tunggal bukan berarti papanya lebih mengutamakan nya.


''Selalu seperti ini, selalu membela Mama, aku anak papa satu-satu nya lo,'' rengek Felix.


''Papa nggak mau tahu, pokoknya jangan buat mama sedih jika kau berani buat istriku menangis lagi, jabatan CEO akan segara aku cabut darimu,'' ancam pria paruh baya itu.


''Iya pa, aku akan menuruti omongan mama,'' jawab Felix lesu.


''Bagus, kalau cepat berikan kembali ponselnya ke mama.''


Dengan muka di tekuk Felix memberikan kembali ponselnya ke Nayla yang tengah tersenyum miring, itu berhasil menambah kekesalan Felix.


''Papa terimakasih,'' ucap Nayla dengan lembut.


'' Iya ma, Papa mau lanjut kerja dulu ya, nanti telepon lagi.''


''Iya pa, byee, muachhh.''


Tut, sambungan telepon terputus.


''Masih berani meremehkan mamamu ini?'' ucap Nayla dengan bangga.


''Mama nggak adil, lapor papa terus'' ucap Felix cemberut.


''Ya mau gimana lagi, inilah hidup,'' jawab Nayla enteng.


Waktu makan malam tiba, meraka sudah duduk di kursi masing - masing menikmati hidangan yang tersedia, Felix diam bisu tidak berbicara sedikit pun karena masih kesal dengan mamanya.


''Rose sayang, Mama punya kabar gembira untuk mu'' ucap Nayla membuka pembicaraan.


''Apa ma?'' jawab gadis itu dengan antusias.


''Kamu ingin bekerja kan?''


Rose mengangguk cepat.


''Mulai besok kamu bisa kerja di kantor Felix,'' ucap Nayla menunjukkan senyum kemenangan sambil melirik ke arah Felix sebentar.


Terlihat jelas pancaran binar kebahagiaan dari mata indah gadis itu. '' Kantor tuan Felix yang besar itu?'' tanya nya dengan rasa tidak percaya.


''Iya Sayang,'' jawab Nayla yang ikut merasakan senang .


Saking senangnya Rose langsung berdiri menghampiri Nayla, memeluk hangat wanita paruh baya yang tengah duduk itu.


''Hikss terimakasih Ma,'' ucap Rose sambil menangis haru.


''Sama - sama Sayang,'' Nayla mengelus lembut punggung gadis itu.


Happy Reading 🥰😘♥️🥰


I LOVE YOU 3000 🥰♥️😘🙏