Hidden Girl

Hidden Girl
Marah besar



Brakk,


Mala menggebrak meja dengan keras. "Sialan! apa yang di gunakan anak ha...ram itu untuk mempengaruhi Alice," Kemarahan wanita itu seketika memuncak sampai ubun-ubun nya memanas.


Rahang wanita paruh baya itu mengeras menahan amarah. "Aku akan segera menghancurkan mu anak har...am," ujar Mala dengan suara tertahan.


*


*


Besok harinya.


Ana dan Alice sedang memilih gaun yang cocok untuk Alice kenakan, karena gadis cantik itu akan menghadiri pesta acara ulang tahun temannya.


"Rose kamu serius nggak mau ikut dengan ku?" tanya Alice sambil sibuk memilih-milih.


"Aku belum mendapatkan jawaban dari Felix, apa dia mengijinkan ku atau tidak," jawab Rose yang tak mau pergi jika tanpa ijin kekasihnya, ia tak mau sampai membuat pria itu marah.


"Kan sama aku, nggak sama orang asing," rengek Alice yang ingin sekali pergi berdua agar dia bisa memamerkan adik perempuannya itu kepada seluruh temannya. "Rose aku mohon hubungi dia sekali lagi," mohon Alice bergelayut di lengan Rose seperti anak kecil.


Melihat Alice yang merengek seperti itu, sampai lupa mana yang Kakak dan mana yang adik.


"Iya kak, aku akan telpon Felix sekarang juga," Rose dengan mudah mengiyakan permintaan kakaknya itu.


Rose menggeser layar handphonenya untuk mencari kontak Felix.


Ting, pesan tiba-tiba masuk seolah-olah orang itu tahu Rose sedang menggunakan telepon genggamnya. "Siapa ini yang mengirim pesan?" tidak ada nama pengirim," gumam Rose.


Dengan rasa penasaran yang tinggi Rose membuka isi pesan itu. "Vidio?" gumam Rose.


Dibawah vidio itu terdapat pesan yang bertulisan. "Kekasihmu sudah bermain api dengan wanita lain kalau tidak percaya lihatlah rekaman yang ada di atas tulisan ini," Rose membaca pesan itu dengan seksama.


"Kakak," ujar Rose.


Alice yang sedang fokus memilih gaun menoleh kesamping karena di panggil oleh Rose. "Ada apa?" tanya Alice.


"Bacalah ini," Rose menyerahkan telepon genggam nya ke Alice.


Alis Alice mengkerut saat membaca pesan tersebut. "Apa maksud semua ini? siapa yang berani-berani meneror adik ku seperti ini?" marah Alice saat melihat pesan tidak masuk akal itu.


"Aku juga tidak tau kak, dia juga mengirim video tapi aku tidak berani untuk melihatnya," ujar Rose.


"Ayo kita lihat bersama," ujar Alice lalu mengklik tombol on agar mereka menyaksikan bersamaan-sama isi rekaman video itu.


Hanya sebuah lelucon yang di buat oleh orang jahil saja atau memang benar membuktikan pernyataan bahwa Felix telah berkhianat.


Vidio di putar, terlihat lah adegan bergairah antara 2 insan manusia beda gender dengan latar suasana kamar hotel.


Rose dan Alice membeku melihat adegan singkat dua orang yang sedang bercumbu mesra itu. "Felix dan Ana?" pekik Alice terkaget, dia sampai menutup mulut saking terkejutnya.


Sedangkan Rose melorot kebawah hingga bersimpuh di lantai karena tiba-tiba kaki Rose menjadi lemas seperti orang lumpuh setelah melihat rekaman yang menyayat hatinya itu. "Kak, apa semua ini mimpi?" ujar Rose dengan suara yang bergetar menahan tangis yang hampir keluar, pikiran gadis itu seketika kosong sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.


Alice langsung berjongkok saat melihat adiknya sudah bersimpuh di lantai dengan keadaan yang tak berdaya. "Rose tenangkan dirimu, bisa saja ini adalah video lama saat mereka masih menjadi sepasang kekasih," ujar Alice yang masih berusaha berpikir positif.


Alice langsung memeluk adiknya yang tengah menangis histeris karena mendapati kekasih hati yang selama ini ia kagumi ternyata bermain api dengan sang mantan kekasih. "Menangis lah, aku tahu itu pasti sangat sakit," ujar Alice sambil mengelus punggung adiknya untuk sedikit menenangkan gadis malang itu.


"Hikss, Kenapa dia melakukan ini padaku kak? Hikss, hikss" lirih Rose dengan pilu, suara gadis itu membuat orang yang mendengarnya pasti merasa ikut tersayat.


Tak terasa air mata Alice ikut terjatuh mendengar adiknya yang begitu terpukul. "Sabar Rose, aku ada disini." Sebagai kakak Alice sangat mengutuk perbuatan Felix dan Ana, ia tidak menyangka dua teman baiknya itu melakukan hal yang sungguh jahat.


Dengan kasar Rose melepaskan pelukan kakaknya. "Aku tidak bisa sabar lagi kak, aku harus mencari Felix sekarang juga," ujar Rose langsung berdiri dari keterpurukannya.


"Rose jangan gegabah, kau tidak boleh pergi dalam keadaan seperti ini," ujar Alice cemas.


"Aku tidak peduli kak, semuanya harus selesai hari ini juga," ujar Rose yang berlari keluar.


"Rose tunggu aku!" teriak Alice dengan panik sambil mengajar adik kesayangannya itu, ia khawatir takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan kepada Rose, apalagi gadis itu tengah di pengaruhi oleh api kemarahan.


*


"Selamat datang Nona Rose," sapa Assisten Ken yang bertemu dengan Rose di lobby.


Tapi gadis itu tidak menghiraukan sapaan Assisten Ken, Rose berlari dengan cepat melewati dirinya. "Ada apa dengan Nona Rose?" gumam Assisten Ken.


Setelah kepergian Rose datanglah Alice yang juga berlari dengan panik. "Nona Alice ada apa?" Assisten Ken berusaha menghentikan Alice.


"Tidak ada waktu Ken, ayo kita kejar Rose, sebelum terjadi perang dunia ketiga," ujar Alice yang menarik tangan Assisten Ken.


Saat sudah ada di lantai atas, Rose berjalan dengan cepat langsung membuka pintu ruangan Felix dengan sangat kasar tanpa permisi, diikuti oleh Alice dan Assisten Ken yang ada di belahan gadis itu.


Plak.


Rose menam...par pipi Pria itu dengan sekuat tenaga, dia menatap Felix dengan kilatan kebencian, dadanya naik turun menahan amarah yang sebentar lagi siap meledak seperti bom waktu.


"Uhhh, itu pasti sangat sakit, Nona Rose begitu sadis saat marah," gumam Assisten Ken yang untuk pertama kalinya melihat kemarahan gadis polos itu.


"Sayang apa yang kamu lakukan?" pekik Felix yang di landa kebingungan sambil memegang pipinya yang memanas akibat ulah Rose.


"Berhenti berpura-pura seakan kamu tidak melakukan kesalahan apapun!" teriak Rose dengan kerasa, air matanya sudah mulai jatuh lagi saat berhadapan dengan Pria yang telah mengkhianati cintanya.


Felix semakin bingung karena meraka tidak memiliki masalah sebelumnya. "Aku tidak mengerti, apa maksud kamu?" ujar pria itu tidak mendapatkan clue sama sekali.


Rose masih menangis histeris tidak mampu merespon pertanyaan dari Pria itu.


Felix menatap Ken dan Alice secara bergantian untuk mencari penjelasan, dia bisa melihat jelas wajah khawatir kakak dari kekasihnya itu. " Alice Apa yang terjadi? " tanya Felix.


"Lihat video ini" Alice menyerahkan handphone Rose ke pria itu.


Kening Felix mengkerut menyaksikan video singkat itu. "Sial, dia sudah menyerang duluan sebelum aku menemukan bukti," gumam Felix dalam hati, ia memejamkan mata sesat untuk mengendalikan emosi, tangannya terkepal kuat ingin sekali mengajar Mala sekarang juga dengan tangan nya sendiri.


Happy Reading ♥️😘😘🙏😘


I LOVE YOU 3000😘🙏♥️🥰🙏