Hidden Girl

Hidden Girl
Meminta hubungan berakhir.



Pria itu menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara. "Sayang ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ujar Felix mendekat ke arah Rose ingin memeluk gadis itu.


"Stop!" ujar Rose mengangkat tangannya untuk menghentikan pria itu. "Jangan sentuh aku, jangan memberikan penjelasan, jika benar kamu tidak melakukannya tunjukan bukti kepadaku," ujar Rose tak mau mengulur waktu untuk berdebat dengan Felix.


Felix menatap Rose dengan sayu, yang ada di hadapannya saat ini seperti bukan Rose yang dia kenal, mata indah itu menatapnya penuh kebencian.


"Aku tidak bisa menunjukkan bukti nya sekarang tapi aku bisa jamin bahwa aku tidak mengkhianati cinta kita , ini hanya salah paham," ujar Felix berusaha menyakinkan Rose.


"Kesalahpahaman apa lagi yang kamu maksud? sudah jelas-jelas kamu bercumbu dengan wanita lain di belakang ku, Hikss, Apa itu yang namanya salah paham?" tanya Rose dengan air mata yang terus mengalir begitu saja.


Felix terdiam tidak bisa menjawab apapun, dia tidak bisa membongkar kejahatan Mala tanpa bukti, jika dia mengatakannya sekarang pasti tidak akan ada yang percaya, itu malah akan memperkeruh masalah.


"Kenapa diam?" pekik Rose dengan emosi yang sudah mulai meletup-letup tak terhentikan. "Tenangkan dirimu Rose, akhiri sudah semua ini," gumam gadis itu dalam hati.


Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam untuk mengendalikan emosi. "Aku mau hubungan kita selesai sampai disini, jangan cari aku lagi, sekarang kamu bebas melakukan apapun sesuka hati mu," ujar Rose dengan suara bergetar, gadis itu sudah pasrah dengan nasib hubungannya bersama Felix, ia lebih baik menyerah agar pria itu bisa bahagia dengan pilihannya.


Deg.


Hati pria itu terasa sangat sakit saat mendengar Rose dengan yakin menggaungkan kata perpisahan.


Tanpa peduli dengan penolakan yang akan di lakukan oleh Rose, Felix langsung memeluk gadis itu.


Yang ada pikirannya sekarang adalah jangan sampai hubungan ini kandas begitu saja. "Tidak, tidak, jangan pergi dari hidupku." ujar Felix dengan nada ketakutan.


"Lepaskan aku, lepaskan!" teriak Rose histeris sambil memukul- mukul dada Felix dengan brutal, kali ini kesabarannya sungguh-sungguh sudah habis.


"Pukul lah aku sepuasnya, luapkan semau kekesalan mu tapi aku mohon jangan tinggalkan aku, jangan meminta perpisahan dariku, itu adalah hukuman yang sangat berat, aku mohon jangan hukum aku seperti ini," ujar Felix dengan air mata tak terasa jatuh begitu saja tanpa permisi, pria itu benar-benar ketakutan akan kehilangan Rose.


"Hikss, kenapa kamu melakukan itu jika kau tidak ingin kehilangan ku, apa salah ku hingga kamu tega melakukan hal yang begitu menyakiti ku, katakan apa salahku, katakan," ujar Rose dengan suara yang melemah dalam dekapan Felix, ia sungguh sudah lelah dengan semua ini.


Alice dan Assisten Ken tak berani ikut campur dalam urusan 2 sejoli itu, meraka hanya menyaksikan tidak berniat melerai karena Alice ingin memberikan kesempatan keduanya untuk menyelesaikan masalah sendiri.


"Nona, ini pertama kalinya saya melihat Nona Rose semarah itu, saya tidak menyangka Nona Rose akan sangat menakutkan jika sedang marah," bisik Assisten Ken ke Alice.


"Aku juga tidak menyangka adik ku bisa berubah menjadi pemberani seperti ini jika sedang di kuasai amarah, mungkin begitu lah marahnya orang sabar," bisik Alice balik, ia saja merinding melihat aksi Rose yang berani membentak dan memukul penguasa sekelas Felix Emmanuel Amana.


Jelas meraka kaget dengan perubahan sikap gadis itu karena Rose yang mereka kenal adalah gadis lemah lembut, penyabar, baik hati, ceria, lucu, polos, sedikit konyol, dan memilki pemikiran yang dewasa serta bijaksana.


Mendapati pelukan pria itu melemah, Rose mengambil kesempatan untuk mendorong Felix sekuat tenaga hingga tubuh pria itu terhuyung ke belakang.


"Menjauh dariku, Aku sangat membenci mu" Setelah mengatakan itu Rose segera berlari menjauh dari sana, ia sudah tidak tahan lagi melihat wajah pria itu.


Melihat kekasihnya pergi Felix dengan segera ingin mengejar tapi di hentikan oleh Alice.


Alice menarik tangan Pria itu dengan kasar. "Jangan dekati adik ku lagi," ujar Alice dengan suara tertahan, jujur Alice ingin sekali menghajar pria yang sudah menyakiti adiknya ini tapi dia berusaha menahan untuk menghargai Rose.


"Kau juga tidak percaya ke padaku?" ujar Felix dengan frustasi.


"Bukti sudah terlihat jelas, untuk apalagi aku percaya padamu? jujur aku sangat kecewa dengan perbuatan mu dan Ana," ujar Alice sebelum pergi dari sana.


Bukkkk, terdengar suara keras dari luar ruangan Felix.


"Itu pasti Rose," panik Alice dengan segara keluar dari ruangan Felix.


"Rose bangun," teriak Alice sambil menepuk pipi gadis itu pelan.


Tanpa pikir panjang, Felix langsung mengangkat tubuh Rose. "Jangan sentuh adikku," ujar Alice marah.


"Alice ini bukan waktunya kita berdebat, aku harus segera membawa dia ke rumah sakit," ujar Felix lalu berjalan tergesa-gesa menuju lift.


Alice dan Assisten Ken langsung mengekor di belakangnya.


Di rumah sakit.


Disana sudah ada Tuan Bayu, Alice dan Felix serta Assisten Ken menunggu dengan cemas di luar ruang UGD.


Setelah beberapa saat akhirnya dokter keluar. "Dok, bagaimana keadaan anak saya?" ujar Tuan Bayu bertanya dengan panik.


"Tenang Tuan kondisinya baik-baik saja, Nona hanya sedikit kecapean, hari ini pun sudah di ijinkan pulang," ujar sang dokter.


Semua bernapas lega saat mendengar penjelasan dari dokter itu. "Terimakasih dok," ujar Tuan Bayu.


"Tapi ada satu yang harus di perhatikan, seperti nya Nona dalam kondisi mental yang tertekan, itu yang menyebabkan kondisinya seketika drop, saya harap anda harus menjauhkan Nona dari segala sesuatu yang membuatnya stres," lanjut dokter menjelaskan hasil pemeriksaannya.


"Baik dokter," jawab Tuan Bayu.


"Apa dia sudah sadar dok?" tanya Felix.


"Nona sudah sadar.


ada yang di tanyakan lagi?" tanya sang dokter.


"Tidak, terimakasih dok," jawab Felix.


"Kalau begitu saya permisi dulu, saya harus memeriksa pasien yang lain," Dokter itu seketika beranjak dari sana setelah menjelaskan segalanya.


"Kau dengar kan apa kata dokter, lebih baik kau pergi dari sini sekarang juga," usir Alice dengan kasar.


"Alice jaga bicara mu dengan Tuan Felix," ujar Tuan Bayu.


"Papa tidak tahu apa-apa, dia yang sudah membuat Rose seperti ini," ujar Alice penuh emosi, sampai dia tidak sadar nada bicaranya seketika meninggi.


"Alice turunkan suaramu, ini rumah sakit," ujar Tuan Bayu menenangkan putri sulungnya itu.


"Maaf, Alice tidak bisa menahan emosi." Alice terdiam menyadari diri nya sudah melakukan keributan di tempat umum.


"Tuan Bayu, saya minta maaf karena sudah menyakiti putri anda, tapi saya janji akan segara menyelesaikan kesalahpahaman diantara kami," ujar Felix menunduk di hadapan Ayah kekasihnya.


Tuan Bayu menepuk pundak calon mantunya itu. "Aku percaya padamu, selesaikan dengan segara, jika tidak aku yang akan turun tangan sendiri," ujar Tuan Bayu seolah-olah dia tahu apa yang sedang mereka hadapi.


Happy Reading ♥️😘😘🙏😘


I LOVE YOU 3000,♥️🥰😘♥️😘