Hidden Girl

Hidden Girl
sebentar lagi



Di tempat lain Felix sedang menerima panggilan dari seseorang.


"Tuan Felix saya sudah berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan bartender yang di curigai mencampur obat itu di minuman anda," ujar Tuan Alex dari sambungan panggilan telepon.


Karena Felix meminta bantuan Alex selaku pemilik bar untuk membantu menyelidiki masalah ini, semua juga demi keamanan dan nama baik bar tersebut.


"Makasih sudah mau membantu, informasi ini sangat berharga bagi saya."


"Jangan berterimakasih, saya sangat malu menerima ucapan itu, Saya yang seharusnya meminta maaf kepada anda, karena saya teledor dalam mengawasi pegawai saya sendiri."


"Anda tidak bersalah, kita tidak bisa mengatur pikiran orang untuk berbuat apa, yang terpenting dia sudah ketemu."


"Terimakasih atas kebaikan anda Tuan."


"Iya Tuan Alex, kalau begitu saya tutup dulu telepon nya karena masih ada pekerjaan yang harus saya kerjakan."


"Baik Tuan, kalau ada masalah tolong segera hubungi saya."


"Dengan senang hati Tuan Alex."


Tutt, panggilan terputus.


Setelah panggilan terputus Felix duduk dengan tenang di kursi yang ada di balkon kamarnya.


Dia menyesap teh Hijau kesukaannya untuk membantu tubuh yang sudah berhari-hari tegang karena berpikir keras bisa lebih merasa relax.


Dia merasa lebih tenang karena pelaku yang sempat hilang tanpa jejak akhirnya bisa di temukan, Ternyata setelah menerima uang dari Mala, orang itu memutuskan selesai bekerja di club Tuan Alex.


"Rose, aku sangat merindukanmu tapi tenang sayang sebentar lagi kita akan kembali bersama, tolong lebih kuat lagi, tunggu aku."


*


"Kak, kita mau kemana?" pekik Rose yang di tarik paksa agar keluar dari kamar oleh Alice.


"Kau tidak boleh diam di kamar terus, kita akan mencari solusi supaya membantu mu untuk bangkit lagi."


"Kak, aku baik-baik saja."


"Diam!" bentak Alice.


Tak peduli Rose setuju atau tidak, ia terus menarik paksa gadis yang tubuhnya mulai mengurus itu, Rose kehilangan banyak berat badan karena kehilangan nafsu makan.


"Alice kamu mau bawa Rose kemana," ujar Mala mencegat putrinya.


"Rumah sakit," jawab Alice singkat.


"Untuk apa? toh Rose nggak sakit."


"Mama tidak usah ikut campur, kalau kalian tidak peduli, aku yang akan membawanya dan mengurus kesehatan mentalnya."


Dengan keras kepala Alice ingin terus melanjutkan langkahnya tapi itu terhenti karena Mala menahan tangan gadis cantik itu.


"Alice Berhenti!" bentak Mala yang tak tahu apa lagi yang harus di lakukan untuk menghentikan gadis itu.


"Lepaskan!"


Tanpa peduli dengan bentakan Mamanya, Alice langsung menghempaskan tangan wanita paruh baya itu lalu kembali menarik tangan Rose dengan paksa.


"Kenapa kakak kasar dengan Mama, itu tidak baik kak," ujar Rose di tengah langkah kakinya yang harus di percepat karena di tarik paksa oleh Alice.


Alice tidak menjawab keluhan Rose, entah itu baik atau tidak, tak ada yang bisa menghentikan nya untuk menyembuhkan Rose, dia mau adiknya yang dulu bisa kembali.


"Sial, Alice sudah berani membentak ku karena membela anak sia..lan itu." gerutu Mala yang malah menyalahkan Rose dengan sikap kasar putrinya. "Aku harus mencari cara lain untuk menghentikan Alice."


"Akhhhh." pekik Mala kesakitan.


Dia memegang kepalanya berpura-pura sakit untuk menghentikan Alice.


Langkah kaki Alice langsung berhenti mendengar suara jeritan kesakitan dari belakang. "Mama!" panik Alice yang melihat Mamanya meringis sakit sambil memegang kepala.


Alice menahan tubuh mamanya yang hampir terjatuh. "Rose bantu aku!"


"Iya kak," Rose mengalungkan tangan Mala di lehernya agar bisa memapah wanita yang hampir ambruk itu, lebih tempatnya pura-pura hampir ambruk.


"Mama, kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Alice.


"Seperti nya darah tinggi Mama kumat, kepala Mama sakit banget."


Mala terus bersandiwara di depan Alice.


"Alice akan telepon Dokter."


"Tidak sayang, Mama hanya perlu istirahat dan minum obat," tolak Mala.


"Baiklah, Ayo kita ke kamar."


Akhirnya rencana Alice untuk membawa Rose ke rumah sakit gagal, dia dan Rose sekarang sibuk memapah wanita yang bernama Mala itu untuk istirahat ke kamar.


Dengan wajah tanpa berdosa Mala tersenyum miring di balik wajah khawatir kedua gadis yang sedang memapah dirinya. "Untung saja ada alasan untuk mengehentikan Alice, ternyata penyakit ini berguna juga, Tak akan pernah aku biarkan Alice membawa Rose ke rumah sakit."


*


"Ini minum dulu obatnya Ma," ujar Alice menyerahkan obat dan air untuk Mamanya.


"Makasih sayang."


Dalam hitungan detik Mala berhasil meminum obat itu.


Dengan perlahan Alice duduk di tepi ranjang lalu menggenggam tangan Mamanya lembut. "Maaf, Alice sudah membuat Mama marah dan jadi begini, Alice lupa tentang kesehatan Mama dan hanya mementingkan keinginan Alice."


Mala mengusap rambut putrinya dengan lembut. "Sayang, Mama selalu memaafkan kamu, jangan ulangi lagi ya, Mama sedih jika kamu kasar seperti tadi."


Dengan wajah sedih Mala kembali berakting di hadapan Alice dan itu berhasil membuat Alice merasa sangat bersalah.


Alice menunduk lesu merasa dia adalah anak yang sangat durhaka ke wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Sekali lagi Maafin Alice karena telah menyakiti perasaan Mama, Alice janji nggak akan buat Mama seperti ini lagi."


"Terimakasih sayang, Mama bangga padamu."


"Kalau begitu sekarang Mama istirahat, panggil Alice atau Rose jika Mama merasa sakit lagi."


Mala mengangguk pelan mengiyakan wejangan anaknya.


"Selamat istirahat Ma," ujar Rose.


"Iya, Makasih Nak."


Setelah Alice dan Rose keluar.


Mala mengeluarkan sesuatu dari mulutnya, obat kapsul yang sempat dia masukkan ke mulut tadi di keluarkan lagi olehnya, ternyata dia menyimpan obat itu di bawah lidahnya agar tidak tertelan karena baru 2 jam lalu dia sudah minum obat, tidak mungkin kan dia mengonsumsi lagi, bisa mati overdosis dia.


"Mama harus berbohong untuk menyadarkan mu sayang, ini juga demi keutuhan keluarga kita agar terlepas dari anak har..am itu, supaya kamu tidak terus terpengaruh dan memberikan segalanya padanya."


Mala sungguh egois selalu ingin mendapatkan segalanya, dia selalu serakah dalam segala hal, bahkan tidak segan untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, sungguh sifat yang tak pernah berubah dari wanita bernama Mala itu.


*


Setelah selesai meeting.


Felix dan Assisten Ken makan siang di salah satu Restaurant dekat kantor.


Saat sedang makan Felix tak sengaja melihat seorang wanita yang tengah menikmati makanannya dengan menggoyangkan kepala dengan senang hati, Dia memperhatikan wanita itu dengan intens lalu tersenyum tipis teringat akan seseorang. "Dia bertingkah seperti Rose, sangat lucu." Melihat hal tersebut membuat dia teringat dengan Rose, dia sangat merindukan tingkah lucu dan manis yang sering Rose tunjukkan.


Happy Reading guys ♥️😘😘🙏♥️


I LOVE YOU 3000♥️😘🥰🥰🙏😘