
Felix menarik napasnya dalam dan menghembuskan dengan kasar. "Uhh, dia pasti marah, aku harus mencari cara untuk membujuknya," gumam Felix sambil berjalan menuju mobil.
*
*
Rose termenung malas sedang menunggu Felix yang sedang bekerja, tidak ada pekerjaan gampang yang bisa dia lakukan untuk hari ini, seperti yang kita tahu Felix mengajak Rose ke kantor hanya karena menuruti permintaan Mama Nayla, makanya Rose tidak pernah di perkenalkan sebagai pegawai disana karena memang sebenarnya Rose tidak pernah tercatat di daftar karyawan, Rose juga tidak pernah menerima gaji, bahkan gadis itu tidak pernah meminta gaji ke Felix, dia memang sangat naif tidak tahu apa-apa.
"Halo, My besti Rose," ujar Alice yang tiba-tiba masuk ke ruangan Felix tanpa ijin, Alice memang sering mengunjungi Rose ke kantor agar mereka dapat berbincang.
Rose tersenyum senang teman baiknya datang untuk berkunjung, ini salah satu momen yang dia tunggu. "Nona cantik," ujar Rose lalu berlari beranjak dari meja kerjanya untuk memeluk teman satu-satunya itu.
"Saya merindukan anda," ujar Rose yang begitu semangat akan kedatangan Alice.
"Aku juga merindukanmu, aku membawa cat kuku terbaru yang baru kemarin aku beli, kayaknya kamu akan cocok dengan warna ini," ujar Alice yang juga sama-sama bersemangat, ia selalu menyempatkan waktu setiap minggunya bertemu dengan Rose, bahkan dia sudah menceritakan tentang Rose ke mamanya.
"Benarkah? Ayo kita duduk," ujar Rose mengajak Alice duduk di sofa.
Disaat dua gadis muda itu sibuk mewarnai kuku, Felix datang karena meeting sudah selesai. "Kantor ku bukan salon," ujar Felix dengan judes.
"Aku sih sangat ingin ke salon bersama Rose tapi kau sendiri yang nggak pernah ngasih kami untuk jalan berdua, dasar posesif," dengus Alice mengejek Pria itu.
"Tuan jangan menganggu kami," ujar Rose yang memang sudah terlanjur kesal dengan Felix.
Felix langsung ciut dan duduk di kursinya tanpa berdebat lagi dengan Alice.
Secara diam-diam Alice menjulurkan lidahnya ke arah pria itu menandakan kemenangannya.
"Menyebalkan," dengus Felix kesal, ia sungguh tidak berdaya jika dua gadis itu bersatu.
*
*
*
"Tuan, Tolong!" teriak Rose histeris.
"Ada apa sayang," jawab Felix panik, tanpa pikir panjang dia langsung keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang terlilit di pinggangnya, tidak ada waktu lagi untuk membalut tubuhnya dengan pakaian lengkap.
Rose berlari ke arah Felix dan meloncat ke tubuh kekar itu lalu memeluknya erat, dengan kaki yang melilit pinggang Felix seperti anak panda. "Hup," untung saja pria itu bisa menangkap tubuh Rose dengan baik, jika tidak mereka berdua mungkin sudah jatuh tersungkur di lantai. "Ada apa, kenapa kamu ketakutan,?" tanya Felix dengan serius.
"Tuan ada benda aneh yang mengejar saya," pekik Rose ketakutan seperti anak kecil.
"Benda aneh apa maksud mu? aku tidak mengerti," tanya Felix bingung, perasaan dia tidak pernah menyimpan sesuatu yang aneh di kamarnya.
"Itu Tuan," ujar Rose menunjuk ke lantai.
Mata Felix mengikuti arah tangan Rose karena penasaran dengan benda aneh yang di maksud oleh gadis manis ini.
Zonk
Felix tertawa ngakak saat tahu benda aneh yang ditakuti oleh Rose. "Hahahahaa, Sayang itu bukan benda aneh, itu namanya robot vaccum cleaner, dia berjalan secara otomatis untuk membersihkan debu di lantai," jelas Felix sambil tidak henti menahan tawa.
"Oke sayang, turun dulu, aku akan mematikan alat itu," ujar Felix ingin menurunkan tubuh mungil Rose.
"Tidak mau," rengek Rose malah semakin mengeratkan pelukannya, dia tetap nyaman di dalam dekapan Felix walaupun badan pria itu sedang basah, bahkan tanpa dia sadari baju kemejanya ikut basah akibat menempel di tubuh Felix.
"Jika kamu tidak turun bagaimana aku bisa menghentikan benda yang kamu sebut aneh itu, kamu mau terus di kejar olehnya?" bujuk Felix.
"Turunkan saya di kasur," ujar Rose ogah turun di lantai, ia masih trauma dengan alat yang masih asing baginya.
Dengan mode pasrah Felix berjalan menuju kasur lalu meletakkan tubuh gadis itu di kasur. "Terimakasih," ujar Rose malu.
"Hmm." Felix langsung menantikan alat pembersih tersebut agar tidak membuat kerusuhan lagi.
Rose akhirnya mau turun setelah melihat alat pembersih tersebut mati benar-benar tak bergerak.
Cup.
"Terimakasih Tuan, anda memang selalu jadi penyelamat saya," ujar Rose setelah memberikan kecupan mesra di pipi Felix sebagai hadiah tanda terimakasih.
Felix tersenyum malu saat mendapat pujian dari Rose. "jangan terlalu berlebih, kau ini semakin manis jika mengatakan hal semacam itu, aku jadi tidak bisa menahan diri," ujar Felix sambil menahan tangannya untuk tidak meremas gemas pipi Rose.
Rose hanya tersenyum sambil menatap Felix dengan rasa kagum.
"Tolong jangan tatap aku seperti itu, hati ku lemah melihatnya," ujar Felix semakin salah tingkah, pria ini benar-benar sudah jatuh terlalu dalam ke Rose. "Tuhan aku tidak bisa menahan lagi,"
Dengan cepat Felix menarik pinggang gadis itu lalu mencium mesra bibir manis Rose yang langkah demi langkah menjadi ******* lembut yang memabukkan, saat ciuman semakin memanas tangan Rose semakin erat memeluk leher Felix, mereka terus melakukan kegiatan menyenangkan itu sampai hal yang tak terduga terjadi.
Set.
Handuk yang di gunakan Felix terlepas dari pinggangnya, sehingga Rose bisa merasakan benda kenyal yang menyentuh perutnya.
Felix langsung sedikit mendorong tubuh Rose untuk melepaskan tautan meraka "Ahhhh, tutup matamu" pekik Felix yang menyadari kain yang di gunakan untuk menutup area pribadinya terlepas begitu saja.
Rose terbengong melihat Felix yang telanjang bulat di hadapannya, melihat tatapan Rose yang aneh, pria itu langsung menutup asetnya yang berharga dengan kedua tangannya, karena terlalu malu dia langsung lari dengan cepat untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa itu tadi?" gumam Rose yang melihat sekilas aset milik Felix, walaupun kaget tapi dia tampak tenang, tidak seperti Felix yang begitu gelagapan.
Di dalam kamar mandi Felix sibuk merutuki diri. "Aduh, kenapa harus seperti ini, Rose melihat punyaku sebelum waktunya," gerutu Felix tidak terima Rose melihat miliknya lebih dulu.
Kali ini Felix keluar dari kamar mandi sudah mengenakan baju lengkap. "Aku sudah selesai sekarang kamu bisa mandi," ujar Felix kaku, ia masih belum bisa melupakan kejadian yang baru saja terjadi, bahkan pria itu tidak berani bertatapan mata dengan Rose.
"Iya Tuan," Rose segera masuk tanpa banyak bicara.
"Huhh, rasanya berat sekali, aku sungguh tidak sanggup melihat wajah Rose," gumam Felix pelan.
Beberapa menit kemudian.
Selesai mengeringkan rambut, Rose naik ke kasur untuk beristirahat, badan Felix seketika kaku saat Rose berada di sampingnya, ia segera pura-pura tidur untuk menghindari percakapan dengan Rose.
Happy Reading 🥰😘♥️🥰
I LOVE YOU 3000🥰♥️😘🥰