Hidden Girl

Hidden Girl
Tepar



Alice mengambil gelas yang di pegang oleh Rose, dia mencoba mengendus gelas itu. ''Sial, dia minum wine,'' ujar Alice kaget, dia langsung memapah Rose untuk pergi ke luar ruangan agar mendapatkan udara yang lebih segar.


''Uhhhh, ternyata Rose berat juga,'' celetuk Alice yang sedikit terhuyung saat tubuh gadis itu bertumpu pada badannya yang kurus.


''Nona cantik, aku semakin pusing,'' rengek Rose seperti anak kecil.


''Iya Rose, sabar.''


Dengan bersusah payah Alice terus memapah Rose yang dari tadi mengeluh sakit kepala. ''Isshhh, Felix dan Ken dimana sih?'' Gadis berusia 25 tahun itu terus menengok ke kanan dan ke kiri siapa tahu bertemu dengan Felix ataupun assisten Ken yang tiba-tiba menghilang entah kemana.


''Nona, sepertinya saya ingin tidur,'' ujar Rose pelan, mata indah itu hampir tertutup karena sudah tidak tahan dengan rasa berat di kepalanya.


''Rose, aku mohon jangan tutup mata mu, sadarlah.'' Alice berusaha menepuk-nepuk pipi Rose tapi sialnya gadis itu malah menutup matanya dengan sempurna.


''Aduh, gimana ini? Rose pingsan,'' panik Alice, sungguh rendah ketahanan Rose terhadap alkohol, baru minum satu gelas saja sudah tepar.


*


Kembali ke Felix dan Ana.


Assisten Ken mengecek semua toilet satu persatu. ''Tuan, anda di mana,'' teriak nya dengan sekuat tenaga.


''Itu suara Ken.'' ujar pria itu mendekat ke arah pintu.


Dukkk, dukkk, dukkk. ''Ken aku disini!'' teriak Felix dari dalam, dia


menggedor pintu dengan sekuat tenaga untuk memberikan kode ke Assisten Ken bahwa dirinya terjebak disana.


Ana hanya terdiam tidak menghalangi tindakan Felix, untuk apa lagi dia menghentikan pria itu, toh tenaganya tidak mungkin bisa menang melawan pria berbadan besar ini.


''Tuan Felix, apakah itu anda?'' tanya assisten Ken mendengar gedoran dari salah satu toilet, dia tidak terlalu mendengar suara Felix dengan jelas karena toilet itu kedap suara.


''Iya ini aku Ken, cepat buka,'' teriak Felix sekuat tenaga.


Ken menempelkan kupinya di pintu agar mendengar lebih jelas. ''Baik Tuan, saya akan berusaha mencari bantuan.'' Setelah memastikan bahwa itu Tuannya, dia pergi untuk mencari bantuan ke pihak hotel untuk membukanya.


Setelah beberapa menit akhirnya Ken datang dengan salah satu petugas hotel yang sudah siap dengan kunci cadangan.


''Yang ini pak,'' ujar Ken memberi tahu petugas hotel.


''Baik Tuan,''


Ceklek.


Assisten Ken segera masuk setelah pintu itu berhasil di buka. ''Tuan, anda baik-baik saja?'' tanyanya panik.


''Aku baik, terimakasih sudah datang dengan cepat,'' Felix menepuk bahu Ken, dia bangga assisten nya ini sangat bisa di andalkan.


''Kenapa anda bisa terjebak disini?'' tanya Ken heran, tidak mungkin kan hotel mewah seperti ini memiliki pintu toilet yang tidak berfungsi dengan baik.


''Ulah wanita itu,'' sarkas Felix menunjuk Ana yang sedang bersimpuh di lantai dengan mata yang begitu sembab.


Ken baru ngeh ada orang lain di tempat itu. ''Nona Ana bangunlah, tidak enak di lihat orang,'' saran Ken merasa kasian tapi di lain sisi dia juga kesal dengan Ana yang senang sekali menggangu bosnya.


''Jangan pedulikan dia, Ayo pergi,'' perintah Felix yang sudah tidak memiliki rasa hormat lagi ke wanita itu.


Sebelum keluar Felix sempat membisikkan sesuatu ke Ana. ''Jika kau berani melakukan ini lagi, akan ku buat kau di tendang keluar dari mansion keluarga Anderson,'' ancam Felix lalu beranjak pergi tanpa menolong Ana, sungguh tidak punya perasaan pria satu ini tapi itulah cara dia untuk mempermalukan orang yang berani mengusik ketenangan nya.


Felix hanya tersenyum miring mendengar teriakan mantan kekasih nya itu dan berlalu begitu saja.


Ana menjadi semakin frustasi akan sikap acuh Felix. ''Akkkhhhhh, kau pria jahat,'' teriak wanita itu keras sambil mengacak rambutnya dengan kasar. ''Hikss,Hikss, tapi gilanya aku masih sangat mencintaimu.'' Ia menangis pilu meratapi kebodohannya yang masih saja mencintai orang yang sudah jelas-jelas menolak untuk kembali lagi.


Kringgg, kringgg,


ponsel Felix berdering.


Dia mengangkat dengan malas setelah tahu siapa nama yang tertera di layar teleponnya. ''Halo, ada apa?'' tanya Felix ke musuh bebuyutan nya itu.


''Kau kemana saja sihh, cepat tolong aku, Rose tepar,'' teriak Alice dengan suara cempreng nya.


Felix menjauhkan ponsel itu dari telinganya karena genderang telinga pria itu hampir pecah oleh suara cempreng Alice. ''Dasar wanita bar-bar, kau hampir membuat ku tuli,'' protesnya kesal.


''Ini bukan waktunya menghinaku, cepat cari aku di depan ball room, Rose pingsan,'' jelas Alice yang sudah tidak tahan lagi dengan beratnya badan Rose.


Tutt, Felix langsung mematikan ponsel secara sepihak.


Felix menjadi panik saat mendengar bahwa Rose pingsan, dia langsung melebarkan langkahnya agar bisa melihat kondisi Rose.


Assisten Ken juga mengikuti tuannya yang terlihat panik setelah menerima panggilan telepon dari seseorang. ''Tuan, ada apa?''


''Rose pingsan,'' jawab Felix singkat sambil terus berjalan dengan tergesa-gesa.


''Perasaan tadi Nona baik-baik saja, kok bisa secara mendadak pingsan?'' pikir Assisten Ken, karena dari tadi dia tidak menerima keluhan apapun dari gadis itu, masak baru di tinggal beberapa menit sudah sakit aja.


*


''Huhh, akhirnya mereka datang juga, bahuku ini sudah hampir patah,'' ujar Alice yang merasa cukup lega karena sebentar lagi bebannya akan menghilang.


Felix dan Assisten Ken menghampiri Alice dengan napas yang ngos-ngosan. ''Kau apakan dia sampai seperti ini?'' omel Felix saat melihat Rose bersandar di badan Alice dengan kondisi lemas tak berdaya.


''Enak saja menuduh ku, Rose tidak sengaja minum white wine karena dia mengira itu air,'' bantah Alice yang tidak terima di salahkan, malah disini dia adalah orang yang menolong Rose.


''Ken, kerja mu memang tidak becus, kenapa kau membiarkan Rose minum, minuman beralkohol,'' marah pria itu ke Assisten nya yang dia anggap tidak bisa menjalankan tugas dengan baik.


Assisten Ken menarik napas dalam menahan amarah, kenapa dia harus di salahkan padahal sudah jelas-jelas dia terpaksa meninggalkan Rose untuk menyelamatkan pria yang sedang memarahinya saat ini. ''Saya kan pergi untuk nyelamatkan anda,'' ujar Asisten Ken dengan tangan terkepal menahan kekesalan.


''Ahh, Sorry, aku lupa,'' ujar Felix dengan entengnya, dia baru ingat kalau Assisten Ken harus pergi untuk membebaskannya dari jeratan wanita gila itu.


''Tiba-tiba anda lupa ingatan Tuan,'' dengus Assisten Ken yang masih kesal dengan tuduhan Felix.


''Berhenti saling menyalahkan, cepat gendong dia, tangan ku sudah hampir patah dari tadi memapahnya,'' protes Alice lalu menyerahkan tubuh Rose ke Felix.


Felix mengalungkan tangan Rose di lehernya lalu menahan pinggang gadis itu dengan erat.


''Ken, cepat pesankan kamar hotel, aku tidak akan membawa Rose pulang, bisa di bunuh aku oleh Mama jika dia tahu anak kesayangan nya mabuk sampai pingsan seperti ini,'' Pria itu sungguh takut dengan amukan mamanya, Rose adalah permata bagi wanita paruh baya itu.


''Baik Tuan.''


Happy Reading 🥰😘🙏😘


I LOVE YOU 3000♥️🥰🥰🙏🙏😘