
"Hikss, hiksss, hiksss." Rose mengeratkan pelukannya sambil menangis sepuas-puasnya di dekapan sang kakak.
"Bagus Rose, maaf kakak mu ini sempat melarang mu untuk menangis dan mencoba memaksamu untuk kuat dengan masalah seberat ini, pasti sangat sakit menahan semuanya sendiri."
Alice mengelus lembut punggung yang bergetar itu. "Aku ada disini untukmu, jangan khawatir."
*
"Sayang, kamu ingin membawakan Rose air, Kan?" ujar Mala yang sedang menyusun lauk pauk di piring. "Aku sudah menyiapkan makanan untuk Rose, kasian dia seharian tidak makan."
Mala berpura-pura prihatin dan khawatir dengan keadaan Rose, pintar sekali wanita paruh baya itu berakting baik di hadapan semua orang.
"Terimakasih kamu sudah peduli dengan Rose."
"Iya sayang, ayo kita segera ke atas, Rose dan Alice pasti sudah menunggu lama," ujar Mala yang sudah selesai menyusun makanan dan minuman di atas nampan.
"Iya, sini aku yang bawa nampannya, ini pasti berat." Tuan Felix mengambil alih nampan itu.
"Makasih sayang."
"Aku yang makasih karena kamu sudah peduli dengan Rose."
"Jangan berterimakasih, dia juga anakku," ujar Mala berpura-pura tersenyum. "Cihh, mana sudi aku mengakui anak har...am itu sebagai anak, sudah tercemar mulut ku ini mengakui dia anak, cuihhh."
.
Sesampainya di kamar Tuan Bayu mendapati putri sulungnya tengah menghapus air mata adiknya, sungguh pemandangan yang menyejukkan hati.
Berbeda dengan Mala, dia sudah mengumpat dalam hati merutuki Rose. "Pintar sekali mengambil simpati anak sia..lan itu, Alice terlalu menyayangi nya."
"Kalian baik-baik saja?" tanya Tuan Bayu.
"Kami baik-baik saja Pa.
Iya, Kan Rose?" Alice tersenyum memberikan kekuatan untuk adiknya.
"Iya, kami baik." jawab Rose membalas dengan senyum tipis.
Pria paruh baya itu menghembuskan napas lega. Ia bersyukur Rose bisa kembali mau bicara.
"Rose minum dulu airnya," ujar Mala yang memulai akting di hadapan semua orang.
Dia menyerahkan segelas air dengan penuh perhatian.
Rose menatap Mala dengan heran, Ia tak menyangka ibu tirinya peduli kepadanya.
Selama ini Mala sama sekali tak pernah bicara padanya, ini pertama kali wanita paruh baya itu mengucapkan sepatah kata kepada Rose.
"Kenapa bengong, Ayo minumlah," ujar Mala tersenyum.
Dengan kaku Rose menerima air minum itu, situasi ini masih aneh baginya. "Makasih Ma."
Mala hanya menjawab ucapan terimakasih Rose dengan
senyuman. "Minum lah air terakhir mu sebelum kamu menjadi gila, hahahahaha." Di balik senyuman ada kebahagian untuk penderitaan Rose.
"Rose makan lah, Mama sudah menyiapkan makanan untuk mu," ujar Mala saat melihat Rose sudah menanggalkan segelas air itu.
"Maaf Ma, tapi Rose tidak lapar," ujar Rose merasa bersalah.
"Tidak tahu di untung, siapa juga yang ingin dia makan, baguslah kau tak mau makan.
Biar mati sekalian!" kesal Mala dalam hati.
"Nggak laper bagaimana? kamu itu belum makan seharian, sekarang kamu harus makan," ujar Alice sambil mengambil piring yang sudah penuh berisi makanan itu.
"Tapi Kak." rengek Rose seperti anak kecil.
"Nggak ada tapi- tapian, buka mulutmu. Aaaaaaaa."
Seperti seorang ibu, Alice berusaha membujuk Rose agar mau makan dengan cara menyuapinya.
Dengan terpaksa Rose menerima suapan dari Alice. "Bagus gitu donk, baru anak baik."
"Kak, aku bukan anak kecil," rengek Rose.
Alice dan Tuan Bayu tertawa kecil mendengar keluhan Rose yang tak mau di perlakukan seperti anak kecil tapi tingkahnya seperti anak kecil.
"Berhenti merengek, cepat makan setelah itu baru istirahat, Oke."
"Iya Kak." pasrah Rose.
"Uwekk, Jijik mendengar rengekan itu, kenapa juga Papa dan Alice menertawakan hal menjijikan itu," kesal Mala dalam hati.
*
Di mansion Felix juga terjadi hal yang sama, Luhan sedang mengobati luka yang ada di tangan Felix.
"Ada masalah apa sehingga anda seperti ini?" tanya Luhan sambil memperban tangan tuannya dengan telaten.
Dia heran karena dari tadi tak ada kata yang keluar dari mulut pria yang sudah dia rawat dari kecil itu.
"Aku kehilangan hidupku." jawab pria itu dengan lesu, tak ada gairah kehidupan dalam jiwanya.
"Maksud anda?"
Felix menarik napas dalam sebelum menceritakan semuanya kepada Luhan, setelah tenang dia mulai berbicara dan menceritakan segalanya pada Luhan.
Mendengar cerita Felix membuat Luhan tercengang hebat. "Jadi Nona Rose memutus hubungan dengan anda karena fitnah yang di buat ibu tirinya?"
Felix mengangguk pelan menanggapi ucapan Luhan.
"Luhan, aku mohon jangan beri tahu Mama tentang masalah ini."
"Baik Tuan jika itu permintaan anda."
Tangannya terangkat menepuk lengan Felix untuk memberikan semangat. "Saya yakin anda pasti bisa melewati semua ini, perjuangkan cinta anda, buktikan cinta anda lebih kuat dari apapun tak ada yang bisa menghancurkan itu, bangkitlah, serang dia balik."
"Makasih Luhan."
Felix dan Rose sama-sama terluka dalam kubangan masalah yang di buat oleh Mala, siksaan ini lebih dari apapun, tapi meraka beruntung masih ada orang terdekat yang selalu menampung kesedihan mereka dan memberikan semangat untuk meraka.
*
*
Hari-hari terus berlalu, kondisi Rose sudah mulai membaik tapi dia masih sering bengong sendirian, tiba-tiba menangis sendiri, jiwa gadis itu masih belum bisa sembuh secara total, pasti sangat susah bagi Rose bisa menyembuhkan luka di hatinya.
Masalah terbesarnya adalah Rose masih sangat mencintai Felix, Bagaimana dia bisa menyembuhkan luka jika ia tidak bisa melupakan pria itu.
"Pa, apakah baik Rose terus seperti itu? aku tak tega melihatnya." ujar Alice yang sedang memandangi adiknya yang tengah duduk melamun sendirian di salah kursi di taman rumah mereka.
"Papa juga khawatir tapi jika kita terus ikut campur dia tak akan bisa tumbuh menjadi lebih dewasa, dia tak akan pernah bisa menghadapi masalah sendiri, hidup ini sangat berat, kedepannya dia pasti akan menghadapi masalah yang lebih besar lagi, Papa mau Rose menjadi wanita yang kuat."
"Tapi nggak gini juga caranya Pa, Apa kita panggil psikolog untuk datang ke rumah? jika di biarkan seperti ini lama-lama dia bisa
gila, Alice nggak mau itu terjadi."
"Sayang, jika kamu melakukannya, itu akan menyinggung Rose, dia kan nggak gila," seloroh Mala yang tiba-tiba datang entah sejak kapan.
"Kalian sama saja!" kesal Alice lalu memilih untuk menghampiri Rose.
Rasa sayang yang dimiliki Alice untuk Rose sungguh lah besar, tak akan dia biarkan pikiran kuno orang tuanya membuat adiknya menjadi gila.
"Sial, mudah-mudahan Alice membatalkan niatnya untuk mencari Psikolog untuk Rose, bisa gagal semua rencana ku untuk membuat anak har...am itu menderita, aku belum puas jika dia belum mengakhiri hidupnya sendiri."
Happy Reading guys ♥️♥️♥️♥️♥️
I LOVE YOU 3000♥️😘🥰🥰😘😘