
"Jangan ngomong gitu Ma, Alice nggak mau ada pertengkaran diantara kita," ujar gadis cantik itu dengan air mata yang hampir jatuh.
"Kalau kamu masih sayang sama Mama, Hikss, kamu seharusnya dengerin omongan Mama, Hikss," ujar Mala dengan pilu, ia menyerang perasaan Alice untuk membatalkan rencana itu, ia tahu betul putrinya memiliki perasaan yang lemah lembut.
"Hikss, Maafin Alice Ma," air mata gadis itu akhirnya tumpah mendengar ucapan pilu Mamanya yang menusuk hati.
"Sayang, Mama selalu memaafkan mu," ujar Mala mengelus rambut putrinya.
Dengan rasa haru Alice memeluk wanita yang telah melahirkannya itu. "Terimakasih Ma, Alice sangat menyayangi Mama."
"Mama juga Nak," ujar Mala dengan lembut. "Sayang, nggak ada yang boleh merebut apapun darimu, walaupun kamu dengan suka rela memberikannya, tak pernah Mama birkan anak har...am itu mempengaruhi mu," gumam Mala dalam hati sambil tersenyum miring, wanita itu sangat pintar bersandiwara untuk mencari simpati anaknya.
*
Di dalam kamar, Rose mondar mandir gelisah memikirkan kakaknya dan ibu tirinya yang sedang terlibat cekcok.
"Seandainya disini ada Felix," gumam Rose, ia merasa hanya pria tampan itu lah yang mengerti tentang dirinya.
Rose mengambil teleponnya di atas nakas lalu menelepon Felix.
kring.
Felix tersenyum senang melihat nama yang tercantum di layar teleponnya. "Tumben dia memiliki inisiatif menghubungi ku duluan," gumam Pria itu karena kekasihnya menelepon duluan. "Halo, Sayang," ujar Felix yang tengah duduk di kursi kerjanya dengan santai menyilangkan kaki.
"Iya, Sayang, Apa kabar?" Basa-basi Rose yang tak tahu harus memulai percakapan apa, mendengar suara Felix saja susah membuat dia sedikit tenang.
"Tentu buruk," rengek Felix manja.
Rose tersenyum tipis mendengar rengekan Felix. "Kenapa seperti itu?" tanya Rose.
"Karena tidak ada kamu di sisiku," ujar Felix manja.
"Aku juga merasa buruk nggak ada kamu disini," ujar Rose dengan suara lesu. "Tapi aku senang kok bisa berkumpul dengan keluarga ku." Tiba-tiba Rose mengganti nada suaranya menjadi ceria, ia tidak mau Felix berfikiran negatif tentang keluarganya.
Dahi pria itu seketika mengkerut mendengar nada bicara Rose. "Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Felix dengan nada serius.
"Aku baik," jawab Rose pura-pura tidak terjadi apapun di rumah orangtuanya.
"Rose jangan berbohong dengan ku, sudah lama kita bersama, aku mengenal baik tentang dirimu," ujar Felix tidak mudah percaya dengan omongan gadis polos dan baik hati itu.
"Aku tidak berbohong kok.
guru sudah datang jadi aku harus turun ke bawah, Byee"
Tutt, Rose dengan sepihak langsung menutup telepon yang awalnya di mulai oleh gadis manis itu.
"Pasti ada yang nggak beres dengan Rose, aku harus mencari tahu," gumam Felix.
*
"Rose, ini Nona Arin , guru yang akan mengajari mu," ujar Alice mengenalkan pengajar profesional dengan bayaran yang mahal itu.
"Salam kenal Nona Arin, saya Rose," ujar Rose menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan perempuan cantik dengan kaca mata itu.
Arin menerima jabatan tangan Rose dengan senang hati. "Salam kenal juga Nona Rose, semoga kita berkerjasama dengan baik," perempuan itu tersenyum ramah kepada Rose.
"Rose, belajar yang rajin ya, aku mau ke kantor dulu," ujar Alice berpamitan dengan adiknya itu.
"Iya kak, Bye," dengan senyum yang lebar Rose melambaikan tangan ke kakaknya.
*
"Ken, yang mana ya bunga yang di sukai Rose?" tanya Felix yang sedang bingung memilih bunga.
"Tuan, kita sudah 30 menit disini dan anda sudah mengulang pertanyaan itu sebanyak 10 kali" keluh Ken dengan malas. "Mana tahu aku bunga kesukaan Nona Rose, yang pacaran nya Nona kan bukan aku," gerutu Assisten Ken dalam hati.
"Kau tinggal jawab aja, apa susahnya sih," omel Felix balik.
"Jawaban saya tetap sama Tuan, anda lebih baik beli bucket bunga mawar merah saja sesuai dengan Nama Nona," jawab Assisten Ken yang sebenarnya sudah lelah mengulang jawaban itu.
Felix berpikir sejenak. "Hmmm Oke, aku ambil bucket bunga mawar merah ini saja," ujar Felix yang akhirnya bisa memilih.
"Baik Tuan," jawab Ken pasrah. "Ujung-ujungnya juga pilih yang ini, untuk apa menghabiskan waktu selama 30 menit untuk memilih, sungguh bos menyebalkan, untung aku di gaji besar," gerutu Assisten Ken dalam hati, bersyukur bosnya tidak bisa membaca isi hati seseorang, jika bisa sudah di pecat dari dulu si Assisten Ken.
Setelah mendapatkan pilihan yang tepat akhirnya meraka melaju menuju Mansion Alice yang tidak terlalu jauh dari sana.
15 menit kemudian.
"Selamat Sore Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya penjaga rumah ke Assisten Ken yang sedikit membuka kaca mobil.
"Bos saya adalah kolega Tuan Bayu," jawab Assisten Ken.
"Maaf, siapa Tuan anda?" tanya penjaga itu.
"Tuan Felix Emmanuel Amana," jawab Assisten Ken menyebut nama lengkap bosnya itu, mana ada orang yang tidak mengenal bosnya di kalangan pebisnis maupun rakyat biasa.
"Owee, Tuan Felix, Maaf telah menganggu waktu anda." Penjaga Mansion langsung membukakan gerbang agar mobil mewah itu bisa masuk dengan lancar.
Felix turun dari mobil dengan kaca mata hitam yang masih bertengger di matanya dan bucket bunga yang di pegang dengan baik bak barang mewah dengan harga fantastis.
Tanpa permisi Felix masuk begitu saja ke dalam rumah untuk mencari Rose, tak ada ketakutan sedikit pun di dalam jiwa pria itu saat memasuki rumah orang lain.
"Dimana Rose?" tanya Felix saat Alice menghampirinya, sebelum ke sini, Felix sudah lebih dulu menghubungi Alice.
"Sebentar lagi dia akan turun," jawab Alice malas.
"Itu dia," tunjuk Alice.
Terlihat Rose menuruni anak tangga demi anak tangga dengan perlahan.
Senyuman tercetak jelas di wajah pria itu disaat melihat gadis yang sangat dia rindukan selama dua hari 1 malam ini.
"Ini," ujar Felix menyerahkan bucket bunga mawar merah yang indah itu di saat Rose sudah ada di depannya.
"Wah, indahnya, terimakasih sayang."
Pria tampan itu tersenyum senang mendengar kekaguman Rose terhadap bunga yang dia pilih, lebih tepatnya yang Assisten Ken pilih.
"Apa kamu suka?" tanya Felix dengan mata yang berbinar.
"Tentu saja, kamu sangat mengerti apa yang aku suka," jawab Rose memberikan senyumannya yang semanis gula itu.
Di puji seperti itu membuat Felix merasa terbang ke ruang angkasa menembus awan-awan putih seputih kapas. "Hanya aku yang sangat mengerti mu bukan yang lain," ujar Felix melirik Alice untuk menyindir gadis cantik berusia 25 tahun itu.
"Untung saja kau kekasih adikku kalau tidak sudah ku wajar wajah sombong mu itu," gumam Alice dalam hati meluapkan kekesalannya kepada pria yang di cintai adiknya itu.
Happy Reading ♥️😘🥰🙏♥️
I LOVE YOU 3000♥️🥰😘♥️