
Sesuai dengan perjanjian.
Di malam harinya Alice mengantarkan Rose kembali ke Mansion Felix.
"Kenapa malam sekali? apa kau nggak punya jam?" omel Felix sambil menyilangkan tangannya tanda bahwa di sedang marah.
Alice mengangkat tangannya untuk mengecek jam. "Kau yang tak punya jam, baru jam 8 malam sudah ngomel kayak ibuk-ibuk," gerutu Alice yang sangat tidak suka dengan sikap posesif Felix.
"My beautiful Rose jam segini biasa dia sudah istirahat, ya jelas aku ngomel, kau sudah menggangu jam istirahatnya," balas Felix tak mau kalah, dia ingin Alice tahu bahwa dirinya lah yang paling mengerti tentang Rose.
Alice menghela nafas malas. "Terserah kau, aku sudah bosan berdebat dengan mu," ujar Alice menyerah, gadis cantik itu sudah lelah terus meladeni Felix.
"Rose, aku pulang dulu ya, besok aku jemput," pamit Alice yang sudah malas melihat wajah congkak Felix.
"Hei untuk apa kau menjemputnya?" tanya Felix menatap Rose dan Alice secara bergantian.
"Tanyakan saja sendiri pada Rose, Bye aku pulang dulu," ujar Alice lalu pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan ke Pria itu.
Felix berdecak kesal dengan sikap kurang ajar Alice. "Seenaknya saja gadis jelek itu membuat janji dengan Rose," gumam Felix dalam hati sambil menatap kesal gadis menyebalkan yang sudah pergi menjauh dari tempatnya.
"Sayang, apa maksud Alice tadi?" tanya Felix sambil merengek.
"Aku baru datang kamu sudah marah-marah, harusnya kamu menyambut aku terlebih dulu bukanya malah berdebat dengan kak Alice, kamu nggak rindu ya sama aku?" balas Rose dengan omelan.
Tanpa menunggu jawaban Felix gadis itu langsung naik ke lantai atas dimana kamarnya berada. "Aku akan menelepon Mama supaya memarahi mu!" teriak Rose sambil menaiki anak tangga.
"Sial, ini semua gara-gara si Alice jelek itu," geram Felix merutuki Alice. "Sayang tunggu aku," teriak Felix sambil mengejar Rose.
Sesampai di kamar Rose duduk di sofa sambil menyilangkan tangannya tepat di depan dada dengan wajah cemberut.
"Sayang, maaf," ujar Felix yang ikut duduk di samping Rose.
Rose menggeser tubuhnya supaya menjauh dari Felix. "Aku tak perlu maaf darimu," ujar Rose dengan wajah yang sama seperti tadi, wajah cemberut dengan bibir yang di majukan sepanjang mungkin.
Tanpa pikir panjang Felix langsung memeluk Rose.
Cup, cup, cup, cup.
"Bagaimana?" ujar Felix setelah memberikan kecupan bertubi-tubi tepat di pipi Rose.
Rose berusaha menahan senyumannya tapi Felix dapat melihat kebohongan Rose. "Kalau mau senyum, ya senyum aja nggak usah malu-malu," ujar Felix menggoda Rose. "Apa hadiahnya kurang?" tanya Felix.
Rose terdiam tidak menjawab. "Ya aku ingin lebih hiks, Rose tahan dirimu jangan sampai kamu nyosor duluan," ujar Rose dalam hati.
Cup, cup,cup,cup,cup.
"Sayang," rengek Rose yang kembali di goda oleh Felix dengan memberikan banyak kecupan penuh cinta.
"Senyum dulu sayang, baru aku berhenti."
Rose memberikan senyuman kaku. "Puas," ujar Rose judes.
"Belum," jawab Felix lalu menarik pinggang ramping Rose agar mendekat kearahnya, dia menjepit dagu Rose dengan jarinya lalu memalingkan wajah Rose yang semula lurus ke depan menjadi menghadap wajahnya yang tampan.
"Sayang aku ingin lebih," ujar Felix dengan suara erotis.
"Bukankah kita sudah sering melakukan ini," jawab Felix dengan senyuman miring.
Dalam hitungan detik bibir Felix menyentuh bibir Rose yang lembut, dia dengan perlahan melahap bibir manis yang sudah di rindukan dalam beberapa hari terakhir, dia melakukannya dengan sangat lembut tanpa ada ciuman menuntut yang menggebu-gebu.
Gadis itu terpejam menikmati permainan Felix yang sudah sangat mahir dalam hal memabukkan lawan mainnya.
Beberapa menit kemudian Rose mendorong tubuh kekar Felix untuk mengakhiri ciu...man mereka karena dia kehabisan napas.
"Kenapa berhenti," rengek Felix lalu ingin nyosor lagi melanjutkan permainan menyenangkan itu.
Rose segara menahan dada kekar pria itu agar berhenti. "Sayang, aku ingin membicarakan sesuatu," ujar Rose yang membuat suasana menjadi berubah serius.
"Apa sayang?" Tanya Felix sambil mengusap lembut rambut Rose.
"Mulai besok aku akan tinggal di rumah kak Alice, aku akan kembali ke keluarga ku," ujar Rose dengan serius. "Tadi siang aku sudah membicarakan nya dengan kakak dan Ayah," lanjut Rose dengan ragu.
Deg.
Waktu yang paling di takutkan Felix akhirnya tiba, dia tidak tahu cara untuk menanggapinya, pria itu tidak memiliki hak untuk menahan Rose untuk tetap bersamanya tapi disini lain ia tidak rela di tinggal oleh Rose, hatinya begitu sakit mendengar ucapan Rose barusan.
Mereka sama-sama diam sejenak tidak tahu harus mengatakan apa, Felix menjauh dari Rose, pria itu menunduk lesu sambil mengusap rambutnya dengan kasar. "Kau tega meninggalkan ku?" tanya Felix yang mulai mengeluarkan suara.
"Aku tidak ingin pergi, tapi aku tidak bisa menolak permintaan keluarga ku, kamu tahu sendiri tujuan ku ke kota adalah mencari keluarga ku, apakah salah jika aku mengambil kesempatan yang selama ini aku impikan?" ujar Rose dengan suara yang bergetar, air mata gadis itu hampir jatuh tak kala mengungkapkan perasaannya. "Ini adalah pilihan sulit bagiku, aku sangat mencintaimu tapi aku juga mencintai keluarga ku, Hikss setidaknya aku ingin menghabiskan waktu bersama mereka walaupun hanya sebentar," Tangis Rose akhirnya pecah karena dia sudah tidak bisa menahan rasa sedihnya lagi.
Pria itu langsung memeluk kekasihnya untuk memberikan dukungan untuk gadis manis itu. "Sayang maaf," ujar Felix merasa bersalah sudah menekan Rose dengan pertanyaan nya tadi.
"Hikss, apa keputusan yang aku ambil salah?" tanya Rose sambil terisak.
"Tidak sayang, aku mengerti bagaimana perasaanmu," jawab Felix menenangkan.
"Kamu masih mencintai ku, Kan?" tanya Rose dengan sendu.
"Tentu sayang, apapun itu keputusan mu tidak bisa merubah perasaan ku padamu, kau sangat berharga di hidupku, aku bisa saja menikahi mu sekarang juga supaya kita bisa hidup bersama tapi aku akan memberimu kesempatan untuk bisa hidup bersama keluarga mu, tapi bila mereka menyakiti mu, aku tidak akan segan merebut mu dari mereka," jawab Felix dengan yakin.
"Terimakasih," ujar Rose.
"Aku juga berterima kasih karena telah hadir di hidupku," ujar Felix.
*
*
"Alice sayang, Mama nggak setuju kalau anak haram itu tinggal dengan kita," ujar Mama Mala yang melihat anaknya begitu bersemangat menyiapkan kamar khusus untuk Rose, gadis cantik itu dengan fokus memperhatikan segala detail yang harus ada di kamar itu.
"Jangan menyebut adik ku anak haram, dia juga anak Mama," balas Alice menjawab rasa keberatan Mamanya yang berlebihan.
"Dia bukan anak Mama, anak haram itu tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga kita," kekeh wanita paruh baya itu, ia sangat tidak suka jika Rose mengambil alih keluarganya.
Happy Reading ♥️😘🥰
I LOVE YOU 3000🥰🥰😘
Please like, comment and vote.