Hidden Girl

Hidden Girl
Alice



''Oke, Ayo ikut dengan ku, kita makan siang di luar,'' ujar Felix menarik tangan Rose.


Rose menghempaskan tangan Felix. ''Tidak mau, saya masih kesal dengan anda, saya akan makan di kantin kantor saja,'' tolak Rose mentah-mentah.


''Hahaha wekkk, kasian banget di tolak,'' ejek Alice yang mendengar itu. ''Rose, lebih baik kamu makan siang bersama ku,'' ajak Alice mengambil kesempatan.


''Maaf Nona, saya tidak bisa meninggalkan kantor tanpa seijin Tuan Felix karena ini masih jam kerja saya.'' Gadis ini memutuskan untuk menolak kedua ajakan dua insan manusia ini.


''Hahahha, Emang enak di tolak juga, kau tidak akan pernah menang dariku,'' ejek Felix balik.


Rose membungkuk kan badanya di hadapan mereka berdua. ''Saya permisi,'' pamit gadis itu lalu pergi meninggalkan meraka.


''Rose tunggu, aku ikut,'' teriak Alice mengikuti Rose.


Felix yang melihat itu tidak tinggal diam, dia juga ikut mengejar, tidak ada konsep menyerah dalam kamus seorang Felix.


Semua karyawan memperhatikan mereka berempat, ada Felix, Rose,Alice dan assisten Ken duduk di satu meja yang sama, ini pertama kalinya bagi mereka makan di kantin kantor.


Bisik-bisik karyawan mulai menggema membicarakan bos perusahaan ini yang tiba-tiba makan siang di kantin kantor, dengan cepat berita menyebar ke seluruh departemen, sehingga kantin di penuhi oleh karyawan yang hanya ingin melihat sosok Felix, bos yang belum pernah meraka lihat secara langsung sebelum nya, maklum hanya yang jabatannya sudah tinggi saja bisa berinteraksi dengan Felix.


''Wahh, dia lebih tampan secara langsung,'' ujar semua karyawan yang melihat wajah tegas nan indah itu, banyak wanita di buat meleleh oleh wajah bak pangeran yang di miliki oleh Felix.


Bahkan karyawan laki-laki pun terkesima dengan wibawa yang di miliki oleh Felix. ''Beruntung sekali menjadi orang tampan yang kaya raya,'' ujar yang lainya menimpali.


Saking semua mata tertuju kepadanya, pria itu menjadi risih tapi dia tidak akan meninggalkan tempat ini karena pria tampan itu tidak mau kalah sedikit pun dari Alice, dia harus mencari cara lain.


''Ken, tutup kantin sementara sampai kita selesai makan siang,'' perintah Felix.


''Tapi Tuan, ini jam makan siang, waktunya mereka istirahat,'' jawab assisten Ken.


''Mundurkan saja jam makan siang, gitu saja kok ribet,'' ujar pria yang bernama Felix ini.


Seenak jidat dia memundurkan jam makan siang karyawan.


''Tuan saya ingatkan itu melanggar aturan kantor,'' ujar assisten Ken mengingat kan bosnya.


''Aku bos disini jadi terserah aku donk, ngapain kamu yang ngatur sih Ken,''


''Ini tidak baik jika Tuan besar tahu jika anda salah menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi,'' kekeh assisten Ken tidak mau menjalankan perintah.


''Kalian mau bertengkar apa mau makan, aku ini sudah lapar, jika tidak ingin di lihat banyak orang keluar dari sini,'' ujar Rose dengan nada dinginnya, gadis ini sudah tidak punya tenaga lagi untuk berteriak agar menghentikan perdebatan meraka.


Assisten Ken melongo mendengar itu, apakah dia tidak salah dengar, Rose berani mengusir bos perusahaan ini dengan sangat tidak hormat. ''Wahh, nona Rose sungguh pemberani, aku penasaran dengan reaksi tuan setelah di perlakukan seperti itu,'' gumam Assisten Ken dalam hati, sambil melirik Felix untuk melihat ekspresi pria itu.


Alice menjulurkan lidahnya mengejek Felix.


Pria itu mendelik kesal melihat tingkah Alice yang begitu senang saat dirinya dimarahi. ''Meraka berdua ini sama-sama suka menghinaku, awas saja kau Alice aku akan membalas mu tapi untuk Rose, aku tidak akan membalas karena dia teman baik ku yang berharga,'' gumam Felix dalam hati.


''Maaf Rose, ayo kita mulai makan,'' ujar Felix mengalah, pria itu tidak ingin Rose semakin marah kepadanya karena itu akan membuat Alice semakin mudah untuk merebut Rose darinya.


Assisten Ken tambah heran karena bosnya itu malah minta maaf ke orang yang menghinanya. ''Sungguh luar biasa, beruntung sekali aku bisa melihat momen langka ini,'' gumam pria 32 tahun itu dalam hati, sejujurnya dia ingin tertawa tapi nyalinya tidak cukup berani untuk menertawakan pria dengan tahta tertinggi di perusahaan ini.


Setelah perdebatan yang sengit itu akhirnya Rose bisa menikmati makan siangnya dengan tenang.


''Rose, makanlah sayur yang banyak biar sehat,'' ujar Alice menaruh sayur brokoli di piring Rose.


Felix yang tak mau kalah juga menaruh daging di piring Rose. ''Kau juga harus makan daging, kalau makan sayur saja nanti kurus kerempeng seperti dia,'' ujar Felix menyindir Alice.


Dasar Felix, body Alice yang bak seorang model itu di hina kurus kerempeng, padahal banyak wanita yang menginginkan badan seperti gadis cantik ini.


''Nona, anda juga harus makan ramen ini,'' ujar assisten Ken yang juga ikut-ikutan menjulur kan tangannya memberikan makanan untuk Rose.


''Ken!'' bentak Felix dan Alice berbarengan dengan tatapan mematikan yang membuat Assisten Ken bergidik ngeri.


Ken Menarik kembali tangannya. ''Dua pawang nona Rose sungguh menakutkan,'' gumamnya dalam hati.


''Rose bagaimana dengan tawaran tadi, kamu mau, kan? pergi dengan ku nanti malam,'' ujar Alice kembali membuka topik itu.


''Aku sudah memutuskan, Rose akan pergi dengan ku nanti malam,'' jawab Felix cepat.


''Katanya tadi tidak akan mengajaknya maka dari itu aku inisiatif menawarkan, supaya Rose bisa bersenang-senang tidak hanya berkerja dengan mu saja,'' ujar Alice yang kesal dengan pria plin-plan ini.


''Aku berubah pikiran, pokoknya Rose akan pergi dengan ku, titik.'' Tegas pria itu.


''Dasar Posesif,'' keluh Alice.


*


*


*


Sore harinya Felix pulang lebih awal, karena mereka akan menghadiri pesta malam ini.


''Ken, kau boleh pulang tapi nanti jemput kami,'' perintah Felix setelah turun dari mobil.


''Baik Tuan, kalau begitu saya pamit,''


Felix dan Rose masuk ke dalam rumah secara berbarengan.


''Rose sayang, akhirnya datang juga, ayo kita pilih-pilih gaun di kamar mama,'' ujar Nayla dengan penuh semangat.


''Bagaimana mama bisa tahu?'' tanya Felix, sungguh cepat berita menyebar kalau dia akan mengajak Rose pergi ke pesta ulang tahun Ana.


Nayla tidak menjawab pertanyaan putranya, dia langsung mengajak Rose naik ke lantai 2 di mana kamarnya berada.


''Sial, ini pasti ulah Ken,'' kesal Felix.


*


*


*


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, Felix sudah menunggu dari 10 menit yang lalu di bawah, dia sudah terlihat rapi dengan setelan jas berwarna hitam yang melekat di tubuhnya yang gagah.


Ilustrasi.



''Luhan, panggil meraka, sebentar lagi Ken akan datang, uhh perempuan selalu lambat,'' keluhnya.


Happy Reading 🥰😘🙏♥️


I LOVE YOU 3000♥️🙏🙏😘🥰