
Felix sedikit menoleh kesamping untuk melihat keadaan Rose, pria itu merasa bahwa omongan yang dia lontarkan tadi terlalu kasar, dia sedang kesal dengan orang lain tapi malah menumpahkannya ke Rose yang padahal bertanya baik-baik.
'' Maaf,'' ujar Felix pelan.
''Ehhh, Apa Tuan, maaf saya tidak dengar,'' tanya gadis itu saat mendengar gumaman kecil dari Felix.
''Kau ini tuli ya!'' bentak pria itu yang malah kesal.
Ya jelas saja Rose tidak mendengar, ngomong nya pelan banget seperti tidak ada niat untuk mengucapkan nya.
''Tuan, anda marah-marah terus,'' keluh Rose, kali ini dia berani mengungkapkan kekesalan dirinya ke pria emosian itu.
''Iya aku salah, aku minta maaf karena membuat mu tidak nyaman,'' sesal pria itu, suara nya seketika menjadi merendah.
''Iya, saya maafkan tapi Tuan harus janji hari ini tidak marah-marah lagi.''
''Kok, kamu ngatur- ngatur aku, emangnya kau siapa?'' Felix seketika naik pitam saat merasa di perintah oleh Rose.
''Kalau tidak mau yang sudah, terserah anda Tuan.'' Kesabaran Rose sudah habis meladeni Felix yang angkuh, gadis itu menyerah untuk berdebat dengan Felix.
''Iya aku janji, tempat apa yang ingin kau kunjungi? mumpung kita masih punya waktu setengah hari lagi,'' tanya Felix memberikan iming-iming untuk membujuk Rose.
Felix mengacak rambutnya kasar.
''Sial, kenapa aku yang harus mengalah, seharusnya dia yang memohon kepadaku,'' gumam Felix dalam hati merutuki kebodohan nya tapi mau gimana lagi egonya yang besar itu luntur dengan sendirinya saat melihat gadis itu kesal ataupun sedih.
Rose tersenyum senang seolah menunjukkan kemenangannya.
''Saya mau ke tempat yang sering anda kunjungi ketika anda sedang sedih,'' jawab Rose.
Felix mengerutkan alisnya. ''Untuk apa kau ingin tahu?'' tanya pria itu, dia tidak menyangka dengan permintaan Rose.
''ummm.''
Rose terdiam sebentar untuk sedikit berpikir kata yang tepat untuk mengungkapkan apa sebenarnya alasan dia untuk mengetahui tempat itu.
''Anda adalah salah satu orang yang sangat berjasa di hidup saya, anda seperti cahaya yang menerangi saat saya dalam kegelapan, jadi ketika anda dalam kegelapan saya juga ingin menerangi anda dengan cara mengajak anda ke tempat yang anda senangi jika anda sedang sedih, saya tahu tidak bisa membantu banyak tapi setidaknya saya bisa mengingat kan anda,'' jawab Rose panjang lebar.
Pandangan gadis itu lurus ke depan tidak mau melihat reaksi Felix karena dia tahu perkataan nya terlalu berlebihan.
Cittt.
Felix langsung memberhentikan mobilnya dan membanting setir memutar balik untuk menuju ke tempat yang Rose ingin datangi.
Pria itu tanpa pikir panjang langsung menancap gas dengan kencang.
''Tuan, hati-hati, tidak perlu terburu-buru,'' usul Rose yang merasa sedikit takut dengan aksi brutal Felix yang menyalip beberapa kendaraan dengan sangat cepat.
''Tenang saja, aku ini jago,'' ujar Felix dengan entengnya, bahkan pria itu terlihat biasa saja dengan tindakannya yang berbahaya ini.
Rose memegangi sit belt dengan erat, ini membuat nya spot jantung, Rose sampai menutup mata tidak sanggup dengan pemandangan ekstrim yang ada di depannya.
beberapa menit kemudian.
Citttt.
Mobil yang di kendarai oleh Felix berhenti, menandakan bahwa meraka sudah sampai.
''Uhhh, akhirnya aku terbebas dari maut,'' gumam Rose lega, dia membuang napasnya kasar.
Karena takut tanpa dia sadari tangannya masih setia memegang sit belt, padahal perjalanan menegangkan itu sudah selesai.
''Ayo, turun,'' ujarnya.
''Sebentar tuan, kaki saya masih gemetar,'' ujar Rose dengan jujur.
Saking takutnya dia mengeluarkan keringat dingin, badanya juga gemetaran sampai tidak sanggup untuk beranjak dari tempat duduknya.
''Humftt haha.'' Felix menertawakan kondisi Rose saat ini, terlihat jelas keringat mengalir di dahi gadis malang itu.
''Tuan anda menertawakan saya?'' rengek Rose dengan mulut yang di manyun kan.
Felix mengeluarkan kain berbetuk persegi berwarna putih dari saku celananya lalu mendekatkan badanya ke gadis manis itu dan menahan pintu mobil dengan kakinya. ''Kau sihh, lucu sekali, masak gitu saja sudah gemetaran,'' ujar Felix sambil mengelap dahi Rose yang di penuhi dengan keringat dingin.
Gadis cantik itu bisa melihat dengan jelas wajah tampan Felix karena wajah pria itu tepat berada di depan wajahnya, membuat gadis itu sedikit gugup. ''Uhhh tuan, ini terlalu dekat,'' ucap Rose membatin dalam hati.
Dengan telaten pria kekar itu terus mengelap semua bagian wajah Rose lalu dia juga sedikit menunduk untuk mengelap leher putih mulus Rose yang juga di penuhi oleh keringat.
Dak,dik,duk.
Rose menegang saat leher nya di sentuh oleh Felix. ''Baru tadi aku spot jantung masak sekarang lagi,'' gumam Rose dalam hati saat dia merasakan jantung nya bertedak tak karuan.
''Tu ... an,'' ujar Rose terbata.
Saat mendengar suara halus Rose, pria itu langsung mengangkat kepalanya sehingga mata meraka saling beradu dengan saling menatap satu sama lain.
''Ada apa?'' tanya Felix lembut dengan suara seraknya sambil terus menatap gadis itu dengan intens.
Rose menjadi gelagapan di tatap seperti itu, pandangan matanya jadi kemana-mana karena merasa sangat gugup.
Karena sudah tidak tahan lagi terhadap kondisi kikuk ini , gadis manis itu dengan segera memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan maut yang terus di berikan oleh pria tampan itu.
Rose menelan ludahnya kasar sebelum menjawab pertanyaan Felix. ''Saya pikir, saya su...dah ti..dak ber... keringat la...gi,'' ujar Rose terbata.
Felix mengangkat tangan nya dengan perlahan lalu menjepit dagu Rose dengan jarinya dan mengarahkan wajah gadis itu kembali ke hadapan wajahnya.
''Jika berbicara tataplah mataku jangan berpaling,'' ucap Felix dengan lembut, mata pria itu berubah sayu.
Wajah Felix seketika semakin mendekat ke arah Rose sambil jarinya masih setia menjepit dagu Rose.
Sepersekian detik kemudian hidung mancung pria itu akhirnya bersentuhan dengan hidung Rose, sehingga meraka bisa merasakan deru napas satu sama lain.
Mata Rose terpejam saat bibir pria tampan itu mulai bersentuhan dengan bibirnya, dia bisa merasakan bibirnya basah saat Felix mulai me..lu..mat dengan rakus.
Felix pun ikut terpejam merasakan kenikmatan yang dia raup dari bibir manis itu.
Pria tampan itu semakin memperdalam luma..tan nya saat Rose mulai membalas ciuman itu dengan kaku, walaupun kaku Felix merasa senang Rose juga aktif membalasnya.
Meraka hanyut di dalam kenikmatan sehingga merasa dunia ini hanya milik mereka berdua.
Felix melepaskan ciuman meraka tapi Rose malah memajukan badanya dengan bibir yang nyosor seperti bebek seolah tidak rela ciuman itu berakhir.
Tapi Felix menahan dagu Rose dengan tangan nya untuk menghentikan gadis itu sehingga badan Rose kembali mundur.
Felix terkekeh melihat tingkah Rose. ''Dasar gadis mesum, apa ciumanku senikmat itu?'' ejek Felix dengan senyuman lebar yang sempurna, pria gagah itu merasa bangga dengan kemampuan nya.
Wajah Rose memerah saat di tertawakan oleh Felix. ''Apa salahnya, jika aku suka,'' gumam Rose dalam hati.
Happy Reading 🥰😘♥️🥰
I LOVE YOU 3000 🥰♥️😘♥️