Hidden Girl

Hidden Girl
menceritakan masa lalu



"4 tahun kemudian dia bercerai dengan suaminya karena Michelle tidak bisa memberikan seorang anak, Papa yang masih mencintai Michelle kembali mengejarnya dan akhirnya kami menikah secara agama dengan diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun, suatu hari karena keajaiban tuhan Michelle akhirnya hamil tapi dia harus meninggalkan kami selamanya saat berhasil melahirkan Rose," ujar pria itu pilu, tak sadar air matanya jatuh begitu saja, wanita yang dia cintai meninggalkannya dan tak kan bisa kembali lagi.


Alice langsung memeluk papanya melihat pria paruh baya itu sangat terpukul saat menceritakan tentang kematian wanita yang sangat dia cintai. "Maaf kan Alice yang sempat tidak mau bicara sama Papa, Alice kira Mama yang paling tersakiti disini, itu sebabnya Alice sangat marah dengan penghianatan yang Papa lakukan tapi setelah mendengar semua ceritanya, Alice sadar yang paling tersakiti adalah Papa tapi Alice kecewa dengan keputusan Papa yang berbohong dengan kami," ujar Alice yang mencoba mengerti keadaan Papanya.


"Kamu berhak kecewa karena ini bukan seratus persen kesalahan Mamamu, Papa juga bersalah karena menikah secara diam-diam dan menyembunyikan status Rose yang adalah anak Papa." ujar pria paruh baya itu mengakui kesalahannya di masa lalu.


"Tentang Rose, maaf Alice butuh waktu untuk bisa menerima nya sebagai adik," ujar gadis berusia 25 tahun itu menunduk.


"Tidak masalah sayang, Papa sadar kamu masih butuh waktu, tapi tolong jangan membenci Rose karena dia tidak tahu apa-apa, dia adalah korban juga dari keegoisan Papa, dia sudah sangat menderita selama ini, kasih sayang, harta, kebebasan, tidak pernah dia rasakan, bahkan Papa jarang bertemu dengan Rose, dia bertumbuh hanya bersama pengasuhnya yang bernama Anum," ujar Tuan Bayu merasa sangat merasa bersalah kepada putri bungsunya itu.


"Maksud Papa apa? bagaimana Felix bisa bertemu dengan Rose jika dia tidak pernah mendapatkan kebebasan?" Ternyata banyak hal yang dia tidak tahu walaupun sudah mengenal Rose selama beberapa bulan.


"Papa dulu membuatkan Rose sebuah Rumah di tengah hutan yang lumayan jauh dari pemukiman warga, dari Rose baru lahir sampai dia berusia 19 tahun dia tinggal disana, bahkan dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya sekolah atau memiliki teman, selama 19 tahun dia tidak pernah keluar dari rumah itu, bahkan Papa hanya mengunjunginya selama 1 bulan sekali, Papa tidak tahu bagaimana tumbuh kembangnya karena waktu Rose kecil Papa hanya mengunjunginya selama 1 tahun sekali, Papa masih ingat jelas bagaimana wajah bahagia Rose saat Papa datang dan bagaimana wajah sedihnya saat Papa kembali pergi meninggalkannya." Pria paruh baya itu menjeda ucapannya tak sanggup menahan tangis yang sudah mau keluar, mengingat betapa menderitanya Rose.


"Pa bagaimana Rose bisa sampai disini?"


"Adikmu kabur dari sana dan di tolong oleh Tuan Felix."


"Dia begitu sangat menderita, Kenapa Papa begitu jahat kepadanya," ujar Alice dengan air mata yang mengalir begitu saja, ia merasa malu kepada Rose, ia tidak pantas membandingkan rasa kecewanya dengan penderitaan Rose selama ini, adiknya itu tidak mendapatkan apa yang dia dapatkan selama ini.


"Maafkan Papa Nak, karena begitu menyakiti kalian berdua," ujar pria paruh baya itu menunduk dengan tangisan yang tak habis-habis.


Alice memeluk tubuh papanya untuk memberikan kekuatan, mereka sama-sama menangisi kehidupan yang tidak adil ini.


(Kembali ke Mansion Felix)


Felix masuk ke kamar dengan kompres es batu di tangannya.


Dia melihat punggung Rose yang bergetar, gadis manis itu pasti sudah bangun dan kembali menangis. "Sayang," ujar Felix lembut.


"Biarkan aku sendiri," ujar Rose dengan suara serak.


Felix menghampiri Rose dan duduk di tepi ranjang. "Tidak akan, aku ingin diam disini sampai kau bangun dan mau bicara dengan ku," ujar Felix kekeh tak mau pergi dari sana.


"Kenapa kamu begitu keras kepala?" rengek Rose lalu bangun dari keterpurukannya, dengan mata yang sembab Rose menatap pria yang sangat mencintainya itu.


Felix tersenyum, dia menghapus air mata Rose yang sudah terlanjur jatuh dan merapikan rambut Rose yang berantakan. "Lihatlah wajahmu sungguh berantakan, aku tidak suka melihat mu terpuruk, hatiku sangat sakit melihat mu terus menangis tanpa henti," ujar Felix mengomel seperti ibu yang sedang memarahi anaknya, tangan Felix terangkat mengompres memar di pipi Rose.


"Bagaimana tidak menangis aku kan sedih," rengek Rose lalu memukul lengan Felix.


"Bisa-bisanya kamu bercanda," ujar Rose cemberut.


"Rose dengarkan aku baik-baik, aku pernah ada di posisi terpuruk seperti ini, kau tahu apa yang membuat aku bangkit?"


Rose menggelengkan kepalanya. "Aku bisa berdiri saat ini karena dukungan orang terdekat ku, jadi aku akan melakukan segala cara untuk memberi dukungan agar kamu bisa bangkit, tak ada masalah yang tak terselesaikan, jika kita mau berusaha semua akan bisa terlewati," ujar Felix.


"Apa yang membuat kamu terpuruk? maaf aku terlambat datang dan tidak bisa menghibur mu, tidak bisa seperti kamu yang selalu memberikan aku dukungan."


"Aku tidak ingin menceritakannya sekarang karena itu akan menambah kesedihan mu, saat waktu yang tepat pasti aku ceritakan," ujar Felix sambil mengusap rambut gadis itu lembut.


Gadis yang masih di lara kesedihan itu menggenggam tangan Felix dengan erat. "Sayang, aku ingin mengenal kamu dengan baik, aku mau kita berbagi segala hal," ujar Rose dengan tulus.


"Kau yakin?" ujar Felix ragu.


"Aku tidak terlalu sedih kok, lihat aku sudah tersenyum," Rose menunjukkan senyuman paling lebar di hadapan Felix dengan mata yang masih sebab dan hidung yang sudah sangat memerah.


"Kamu tahu Ana, Kan?" tanya Felix dengan ragu-ragu.


"Tentu aku tahu, Nona Ana sangat cantik, mudah untuk mengingat nya." jawab Rose.


"Dia adalah mantan kekasihku, dia menikah dengan Tuan Anderson saat kami sudah menyiapkan pertunangan, dia pergi begitu saja meninggalkan ku tanpa alasan di hari spesial kami," ujar Felix dengan tenang, kali ini sudah tidak lagi ada rasa yang menyakitkan saat menceritakan tentang masa lalu yang sempat menghancurkan hidupnya itu.


"Itu pasti sangat menyakitkan, pantas saja kamu begitu tidak suka saat Nona Ana dan sangat marah saat Nona Ana menghampiri kita di toko kue, maaf waktu itu aku malah ngambek sama kamu," ujar Rose merasa menyesal.


"Dulu memang menyakitkan tapi sekarang aku sudah punya kamu yang mengobati luka itu, jangan selalu meminta maaf atas apa yang bukan kesalahan mu, itu tidak baik," ujar Felix.


"Tapi kenapa kamu masih sangat membencinya?" tanya Rose.


"Aku sudah memaafkan nya atas kesalahan di masa lalu tapi aku akan sangat tidak terima jika dia mengganggu ku di saat kita sudah bahagia dan saling mencintai," jawab Felix penuh emosional.


"Aku mengerti apa yang kamu rasakan," ujar Rose tersenyum menenangkan.


"Terimakasih sayang," ujar Felix memeluk Rose penuh kasih sayang.


Happy Reading 🥰😘🙏♥️


I LOVE YOU 3000♥️♥️♥️♥️