Hidden Girl

Hidden Girl
Aku sangat suka



''Alice maaf tadi aku menuduh mu dan makasih sudah mau menjaga Rose,'' ujar pria itu merasa bersalah sekaligus berterimakasih kepada Alice yang mau menolong Rose.


''Tidak masalah, aku senang bisa membantu, aku kan juga temannya Rose,'' jawab Alice tersenyum.


Luar biasa Felix dan Alice saling minta maaf dan memaafkan, sebenarnya ini adalah sebuah pemandangan yang asing melihat dua musuh bebuyutan ini bisa akur, tapi ini adalah hal yang bagus.


''Eeehhh,'' lenguh Rose yang tiba-tiba terbangun.


''Rose, kamu bangun,'' ujar Felix.


Rose mendongak ke atas untuk mencari sumber suara yang dia dengar tadi. ''Kamu siapa?'' tanya Rose dengan tangan nya yang terangkat menunjuk wajah Felix menggunakan jari telunjuk nya.


''Aku Tuan Felix,'' jawab Felix dengan menatap lembut wajah Rose yang sudah memerah akibat pengaruh alkohol.


Rose berusaha mengedipkan matanya beberapa kali untuk membenarkan pengelihatan nya yang kabur, dia hanya bisa melihat wajah pria itu samar-samar.


''Hehehe, Ohh Tuan Felix, maaf ya saya tidak bisa mengenali anda,'' ujar gadis itu tertawa cengengesan.


''Tuan dimana Nona cantik? Anda bertengkar lagi kan dengan Nona cantik?'' ujar Rose dengan nada marah sambil memukul dada Felix.


Felix sedikit terkaget dan juga gemas dengan perubahan tingkah Rose yang tadinya cengengesan malah tiba-tiba berubah marah dengan suara lucu dan mulut di majukan sepanjang mungkin.


Pria itu tersenyum kecil. ''Alice ada di depan mu,'' ujar Felix menunjuk Alice.


Rose mengalihkan pandanganya ke depan, gadis itu menyipit kan matanya berusaha mengenali wajah Alice. ''Nona cantik, benarkah itu anda?'' tanya Rose dengan wajah menggemaskan.


''Iya, ini aku,'' jawab Alice segara, dia pun juga tertawa kecil dengan tingkah lucu Rose. ''Hahaha, dia sangat konyol saat sedang mabuk,''


''Dia memang selalu konyol,'' sahut Felix yang setuju dengan pernyataan Alice.


''Jangan bilang saya konyol, saya tidak suka,'' seloroh Rose lalu memeluk Felix dan mengenduselkan wajahnya di dada Felix untuk mencari kenyamanan.


''Oke, aku tidak akan menyebutmu konyol lagi,'' ujar pria itu sambil mengelus rambut Rose lembut, dia tidak segan melakukan hal romantis itu di hadapan Alice.


Alice hanya bisa tersenyum kaku menjadi obat nyamuk di antara dua sejoli itu. ''Sepertinya Felix benar-benar menyukai Rose, terlihat jelas matanya berbinar saat melihat Rose,'' gumam Alice dalam hati.


''Tuan, kamar sudah siap,'' ujar Assisten Ken yang datang setelah melakukan reservasi di lobby hotel.


''Oke, baiklah,'' jawab pria itu.


Felix mengangkat tubuh gadis itu dan menggendongnya ala bridal style. ''Tuan, turunkan, nanti saya bisa terjatuh,'' omel Rose saat tubuhnya tiba-tiba di gendong oleh Felix.


''Diam, kamu tidak akan terjatuh.''


''Hiks,hiks, saya tidak suka di gendongan,'' rengek Rose sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang mungil itu.


Pria itu tidak peduli dengan rengekan manja Rose, dia terus berjalan dan di belakangnya di ikuti oleh Alice dan Assisten Ken.


Saat sampai di depan kamar, assisten Ken dengan sigap membukakan pintu untuk tuannya, Felix merebahkan tubuh Rose secara perlahan di atas kasur hotel tersebut. ''Akhirnya gadis ini bisa diamankan,'' lega Felix.


''Sekarang Rose kan sudah aman jadi aku pulang duluan ya,'' pamit Alice.


''Oke, aku akan menyuruh Ken untuk mengantarkan mu pulang.'' ujar pria itu menawarkan tumpangan.


''Tidak usah, aku bersama sopir kesini,'' tolaknya.


''Baik Tuan,''


''Byee, jaga Rose dengan baik,'' ujar Alice lalu melangkah pergi dari sana di temani oleh assisten Ken di belakangnya.


Tinggal lah Felix dan Rose di dalam suite room itu.


Felix menelan ludahnya kasar setelah melihat paha mulus Rose yang terpampang jelas di hadapannya karena gaun hitam itu sedikit tersingkap. ''Iman ku selalu di uji oleh gadis ini,'' gumam Felix sambil merapikan gaun itu agar menutupi paha mulus Rose, pria tampan itu juga dengan senang hati melepas sandal yang di gunakan oleh Rose agar dia bisa merasa lebih nyaman.


Setelah itu Felix membuka jasnya serta dasi yang dari tadi menyekek lehernya. ''Uhh, kenapa kamar ini menjadi panas sih,'' Pria itu berjalan ke sisi lain untuk mencari remote pendingin udara, tangannya dengan lihai memencet remote itu lalu menurunkan suhu udara, dia juga membuka mini bar untuk mengambil minuman.


Lalu Felix duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya sambil meneguk air yang tadi dia ambil dari kulkas mini itu. ''Aku harus menghubungi mama, agar tidak khawatir,'' ujar pria itu lalu mengeluarkan handphone dari sakunya untuk mengirim pesan bahwa dia sedang baik-baik saja dan menginap di hotel.


Send, pesan terkirim, ''Ma, aku dan Rose tidak pulang malam ini karena kami menginap di hotel,'' itu lah pesan yang dia tulis.


Ting, Nayla membalas pesan dari putranya. ''Iya tidak masalah, tapi ingat lakukan pelan-pelan jangan terlalu keras, soalnya Rose masih muda, (di sertai emoticon menutup mulut dengan malu🤭) '' Nayla sungguh pintar menggoda anaknya.


Felix melempar ponselnya di sofa dengan kasar. ''Mama, apa-apaan sih,'' dengus pria tampan berusia 30 itu.


''Tuan,'' lenguh Rose memanggil Felix.


Felix bangun dari sofa dan menghampiri Rose. ''Iya,aku disini,'' pria itu duduk di tepi kasur lalu mendekatkan badannya untuk merapikan anak rambut Rose yang berantakan, kekesalan Felix tiba-tiba menghilang setelah melihat wajah polos Rose yang menyejukkan hati.


Felix menatap Rose dengan penuh kasih sayang. ''Kau ini selalu saja ceroboh, baru lepas pengawasan sebentar saja sudah mabuk seperti ini,'' ujar Felix mengelus pipi Rose dengan gemas. ''Uwuuuu, Rasanya aku ingin menggigit mu saking lucunya,'' Pria itu tidak henti-hentinya geregetan dengan wajah imut Rose.


Cup.


Felix mengecup bibir Rose dengan gemas, dia sudah tidak bisa menahan lebih lama lagi.


Gadis yang di kecup bibir nya seketika terbangun, tangan Rose terangkat untuk menyentuh bibir Felix. ''Bibir ini lagi, kenapa senang sekali mencium bibir ku,'' ujarnya pelan dengan mata setengah terbuka.


''Apa kau senang saat aku melakukannya,'' goda Felix.


Rose tersenyum lalu mengusap bibir pria itu secara sensual dengan jempolnya. ''Aku sangat suka, tapi bibir ini sangat jahat karena membuat jantungku berdetak begitu kencang seperti ingin lompat dari tempatnya,'' ujar Rose sambil memegang dadanya dengan tangannya yang satu lagi, wajahnya yang tadinya tersenyum berubah cemberut, tapi itu malah semakin membuat nya terlihat imut.


Felix menyingkirkan tangan Rose dengan perlahan dari bibirnya. ''Apa aku boleh melakukannya la_ ''


Belum sempat Felix selesai bicara, gadis itu sudah lebih dulu menarik leher Felix agar mendekat ke wajahnya.


Cup.


Cup.


Cup.


Mata pria itu membulat kaget saat Rose menyerang nya dengan kecupan yang bertubi-tubi. ''Anda lambat sekali,'' ujar Rose sambil tersenyum manis.


''Rose katakan, siapa orang yang ada di depan mu saat ini?'' tanya Felix di sertai oleh suara beratnya yang seksi.


Happy Reading 🥰😘♥️😘


I LOVE YOU 3000😘♥️🥰🥰