Hidden Girl

Hidden Girl
Rose terlepas



"Mama, tak bisa sayang, dia adalah penghancur keluarga kita, dia harus di musnahkan."


"Lepaskan! aku bilang lepaskan, aku akan menghitung sampai 3, jika Mama tidak melepaskannya, Mama akan melihat mayat ku saja."


"satu... dua...ti_"


"Berhenti ! " teriak Mala cepat. "Oke, Mama akan lepaskan tapi kamu juga harus lepaskan senjata itu."


"Lepaskan Rose terlebih dahulu, aku tahu Mama akan membohongi ku, aku tak akan tertipu dengan hal itu, Mama hanya punya satu kali kesempatan, Melepaskan Rose atau melihat mayatku."


Dengan perlahan Mala melepaskan kuncian tangannya dari leher Rose dan Rose langsung melorot ke bawah karena lemas.


Akhirnya Rose bisa bernapas lega setelah terlepas dari jeratan Mala.


"Buang pisau itu!" perintah Alice.


Mala yang tak bisa mengambil pilihan lain langsung melempar pisau itu ke sembarang arah.


Dengan sigap Felix langsung membantu Rose bangun dan membawa Rose sedikit menjauh dari Mala.


"Sayang, ada yang sakit?" tanya Felix sambil merapikan anak rambut Rose.


"Aku baik-baik saja."


"Alice Sayang, Mama sudah melakukan segalanya jadi sekarang singkirkan lah senjata itu," ujar Mala memohon secara baik-baik.


Memang Alice menurunkan senjata itu dari kepalanya tapi dia malah mengarahkan senjata tersebut ke arah Mala. "Cepat bawa semua pelaku, saksi dan bukti ke kantor polisi, termasuk Nyonya Mala," ujar Alice dengan tegas.


Semua tercengang dengan ucapan Alice, gadis cantik itulah secara langsung yang ingin menjebloskan Mamanya ke penjara.


Dua pengawal langsung memegang kedua tangan Mala agar wanita itu tidak bisa kabur. "Alice apa yang kamu lakukan? kenapa kamu lakukan hal ini kepada Mama?"


"Lepaskan! lepaskan!" teriak Mala memberontak.


"Nak, kamu yakin akan melakukan semua ini?" tanya Tuan Bayu menepuk pundak putrinya untuk memperhitungkan kembali dan memikirkan secara baik-baik.


"Alice yakin pa, Mama sudah melakukan kriminal jadi Mama harus menebus semua kejahatan nya di penjara." ujar Alice dengan tegas tanpa keraguan sedikitpun.


"Alice apa kamu nggak sayang Mama lagi? kenapa kamu lakukan semua ini terhadap Mama?"


"Rasa sayang Alice tak akan pernah berubah, Alice sangat menyayangi Mama tapi Mama harus di hukum atas semua hal buruk yang sudah Mama lakukan.


Alice nggak suka melihat Mama terus melakukan kejahatan, maafin Alice Ma," ujar Alice sambil meneteskan air mata.


"Cepat bawa dia!" perintah Alice.


Dua pengawal itu langsung menyeret Mala pergi. "Alice tolong Mama! Alice maafin Mama, Alice Tolong, Tolong lepasin Mama," teriak Mala histeris sambil berontak saat di tarik paksaan oleh dua pengawal itu.


Alice hanya diam membeku tak menggubris teriakan Mamanya yang memohon ampunan, tidak sedikit pun niatan dari gadis cantik itu untuk menghentikan ibu yang telah melahirkannya itu.


Sebagian orang telah pergi.


Tinggal Alice, Felix, Rose, Tuan Bayu, Ana, Tuan Anderson dan orang tua Felix yang ada disana.


Meraka akhirnya bisa bernapas lega karena masalah ini bisa terselesaikan dan sang penjahat utama telah diamankan ke kantor polisi.


Rose langsung berjongkok lalu memeluk kakaknya dengan erat. "Sabar kak, Rose mengerti apa yang kakak rasakan."


Dia mengelus punggung kakaknya dengan lembut.


"Rose aku sangat malu kepadamu, Mama sangat membuat mu menderita, aku juga marah dengan Mama tapi sebenarnya hati kecil ku tak tega untuk mengurung Mama di penjara, Maaf karena kakakmu ini masih bersimpati kepada orang yang telah menyakiti mu," Isak Tangis Alice semakin keras menandakan pikirannya sangat bertolak belakang dengan hati kecilnya, dia sangat bingung.


"Kenapa kakak meminta maaf, wajar jika Kakak merasa kasian dengan ibu kakak sendiri, sebesar apapun kesalahan nya dia tetap ibu yang telah mengandung, melahirkan dan membesarkan kakak dengan penuh kasih sayang, Apa perlu kita menjemput Mama Mala untuk kembali?"


"Makasih sudah mengerti perasaan ku tapi aku tidak akan menjemput Mama kembali, biarkan dia mendapatkan hukuman yang selayaknya, aku ingin Mama bisa berubah dan mengambil pelajaran dari kejadian ini."


"Aku akan ikut kemauan kakak, aku tahu kakak tahu yang terbaik untuk kita."


"Kau memang adik yang penurut," ujar Alice tersenyum haru.


Semuanya tersenyum melihat kekompakan kakak beradik itu.


"Pa, seandainya Mama memiliki adik seperti Rose, pasti Mama akan manjakan dia seumur hidup Mama, dia sangat manis dan baik." ujar Nayla memuji calon mantunya.


"Rose kan calon mantu kita Ma, jadi Mama nggak usah berandai, sebentar lagi Mama akan bisa memanjakan dia sepanjang hidup Mama."


"Hehehe, benar juga ya pa."


"Sayang, Alice adalah kakak yang sangat luar biasa, demi adiknya dia rela menjebloskan Mamanya sendiri ke kantor polisi, Alice adalah sosok kakak yang pasti di impi- impikan banyak orang, aku sangat bangga dengan teman ku itu," ujar Ana yang memuji kelapangan jiwa Alice yang rela mengesampingkan perasaannya demi sang adik tercinta.


"Kamu benar, semoga anak-anak kita kelak bisa memiliki persaudaraan yang erat seperti Alice dan Rose," jawab Tuan Anderson.


Dengan rasa malu yang luar biasa, Tuan Bayu membungkuk di hadapan semua orang untuk meminta maaf.


"Tuan Hima, Tuan Anderson dan semuanya saya minta maaf yang sebesar-besarnya karena istri saya telah membuat kekacauan sehingga merepotkan kalian semua dan saya mengucapkan banyak terimakasih karena sudah mau membantu menyelesaikan masalah keluarga saya.


Saya merasa sangat malu karena tidak bisa menangani masalah keluarga saya sendiri, saya merasa gagal sebagai kepala keluarga karena tidak bisa mendidik istri saya dengan baik, sekali lagi saya mohon maaf kepada kalian semua."


Tuan Hima maju lalu menepuk pundak Tuan Bayu dengan pelan.


"Kita akan menjadi keluarga untuk apa merasa sungkan, Rose sudah kami anggap sebagai anak kami sendiri, jangan menyalahkan diri sendiri."


"Benar kata Tuan Hima, jangan menyalahkan diri sendiri atas kesalahan orang lain, saya senang bisa membantu, karena masalah ini juga telah menyadarkan Ana untuk menjadi istri yang lebih baik, mari kita anggap semua ini sebagai pembelajaran," sahut Tuan Anderson ikut menimpali.


"Terimakasih, saya sangat bahagia putri saya di kelilingi orang-orang yang baik," ujar Tuan Bayu tersenyum bahagia.


"Karena masalah ini sudah selesai dan tidak ada lagi kesalahan pahaman, saya dan istri saya mohon pamit," ujar Tuan Anderson yang sadar urusan mereka sudah selesai.


"Baiklah terimakasih," ujar Tuan Bayu.


"Ana, tunggu!" panggil Alice yang melihat Ana dan Tuan Anderson akan pergi.


Dengan langkah besar Alice menghampiri Ana lalu langsung memeluk Ana sesaat. "Maaf aku telah menuduh mu yang tidak-tidak dan terimakasih atas pengorbanan yang kamu lakukan, kamu akan tetap jadi teman ku, Kan?" ujar Alice dengan penuh harap.


Happy Reading guys ♥️😘🥰🙏🙏


I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘🥰😘