
"Rasanya aku tidak bisa ikut campur sejauh itu kak," jawab Rose menanggapi pernyataan kakaknya yang meminta dia ikut menangani urusan kantor.
"Rose, aku yakin kamu pasti bisa, aku akan selalu sedia membantu mu, papa juga sudah setuju dengan saran ku," ujar Alice menyakinkan Rose.
"Aku akan mengikuti apa baiknya saja," ujar Rose pasrah dengan segala kemauan kakaknya, dia yakin pasti Alice akan mengarahkan nya ke jalan yang terbaik.
"Good, itu baru adik ku," ujar Alice senang.
*
Malam harinya Felix kembali mencoba menelepon Rose.
Kring.
Rose yang mendengar ponselnya berdering langsung mencari keberadaan handphone canggih itu.
"Aaa, ternyata Felix," gumam Rose, menggeser layar ponsel itu untuk mengangkat panggilan dari Felix.
"Halo, saya_"
"Rose kamu kemana aja sih? dari tadi siang aku mencoba menelepon tapi nggak di angkat, aku menunggu kamu menghubungi duluan tau, aku kesal sekali kamu sudah mulai mengabaikan ku," cerocos Felix memotong salam dari Rose, ia sangat kesal hingga tidak bisa menahan lagi tak kala Rose akhirnya menjawab panggilan telepon darinya.
"Sabar Sayang, telepon ku tertinggal di kamar karena dari tadi aku bersama kak Alice," jawab Rose dengan suara halus tanpa ada kemarahan sama sekali.
"Kamu sudah mulai melupakan ku, aku rindu tau, sehari rasanya setahun aku nggak ketemu sama kamu, aku dengar suara kamu saja rasanya sangat membuat ku lega," rengek Felix seperti anak kecil.
Rose tertawa kecil mendengar suara manja Felix, padahal pria itu sudah berusia 30 tahun lebih. "Hahaha, kamu terlalu berlebih," ujar Rose terkekeh.
"Tertawakan dah aku sepuasnya," keluh Felix yang merasa omongannya dianggap hal tidak penting.
"Jangan marah donk, kamu sudah makan?" tanya Rose mengalihkan pembicaraan agar pria itu tidak fokus hanya mengomel saja.
"Ini lagi makan, aku akan mengalihkan sambungan panggilan suara ke panggilan video supaya kau tau betapa aku kesepian saat makan sendiri di meja makan."
Dengan segera Felix mengalihkan panggilan suara ke panggilan video, terlihatlah dengan jelas wajah Rose yang sangat di rindukan oleh Felix.
"Wajah mu kenapa cemberut gitu," ujar Rose melihat wajah Felix yang di tekuk bak baju kusut yang belum di setrika.
"Kan sudah aku bilang, aku kesepian nggak ada kamu." Seketika mulut Felix menjadi manyun setelah mengatakannya.
"Sekarang aku sudah menemanimu lewat panggilan telepon, jadi makan yang banyak."
"Oke," pasrah pria itu.
Akhirnya Felix makan dengan satu tangannya memegang telepon dan satunya lagi di gunakan untuk menyendok makanan, gini lah jadinya jika pacar LDR. "Kamu sudah makan?" tanya Felix baru ingat dengan kondisi perut kekasihnya.
"Sudah," jawab Rose.
"Baguslah meraka mau menerima mu dengan baik," ujar pria itu lega, setidaknya Rose di perlakukan dengan baik.
"Aku punya kabar bagus tau," ujar Rose.
"Apa itu?" tanya Felix sambil mengunyah makan.
"Mulai besok guru akan datang untuk mengajari ku, kalau nggak salah kata kak Alice guru itu akan membantu ku lulus ujian," jelas Rose bersemangat.
"Wahh, itu bagus, setidaknya kamu tidak bodoh lagi," Sarkas Felix bercanda.
"Sayang," rengek Rose.
"Aku bercanda, kamu nggak bodoh kok, cuma kurang pendidikan saja hehehe," ujar Felix membeberkan kenyataan dengan gamblang.
Tok, tok, "Rose keluar lah kita akan mengambil buku di perpustakaan untuk kamu belajar besok" teriak Alice dari luar kamar Rose.
"Sayang sudah dulu ya telepon nya, aku mau ngambil buku," ujar Rose.
"Tidak bisa besok apa? menganggu kita saja," gerutu Felix.
"Kakak memanggil ku sekarang," jawab Rose.
"Oke, baiklah, Bye," ujar Felix lemas.
"Bye."
Tuttt, panggilan telepon terputus.
Felix berdecak dengan kesal, bahkan Rose tidak memberi ucapan selamat tinggal dengan baik, ucapan selamat tidur kek atau ucapan mimpi yang indah seperti yang sering Rose ucapkan sebelum meraka tidur. "Si Alice jelek itu selalu saja menganggu kebahagiaan ku, dia pasti ingin menguasai Rose ku," ujar Felix lagi-lagi menyalahkan Alice.
*
*
Di pagi yang cerah keluarga Tuan Bayu makan dengan tenang berkumpul bersama di meja makan.
"Pa, aku ingin mengganti surat wasiat yang pernah papa dan mama buat," ujar Alice di tengah keheningan meraka.
"Di ubah gimana lagi sayang?" tanya Mama Mala bingung.
Alice menatap serius semua anggota keluarga yang ada di meja makan dengan intens. "Aku ingin membagi harta yang Papa punya kepada Rose," ujar Alice.
"Alice! kamu jangan asal bicara!" marah Mala dengan nada yang meninggi.
"Sayang kamu yakin?" tanya Tuan Bayu karena sebagian harta milik keluarganya adalah milik Mala juga.
"Aku yakin pah, keputusan ini sudah aku pikirkan dengan baik, Rose adalah adikku jadi dia juga memiliki hak atas harta kita," jawab Alice dengan yakin tanpa keraguan sama sekali.
"Kak, aku tidak menginginkan harta, bisa bersama kalian sudah cukup," ujar Rose yang dari tadi diam hanya mendengar kan semua orang.
"Rose kamu masih lugu tidak tahu apapun, harta itu penting untuk mu suatu saat nanti," ujar Alice yang tak ingin adiknya tidak memiliki apapun di hidupnya.
Brakk.
Mama Mala menggebrak meja dengan keras. "Mama tidak setuju! sampai kapan pun hanya kamu ahli waris kekayaan keluarga ini," ujar Mala dengan lantang tidak menerima perubahan. "Mama bisa menerima dia tinggal disini tapi tidak lebih dari itu." Setelah mengatakan itu Mala pergi meninggalkan meja makan agar dirinya tidak lepas kendali melampiaskan kemarahannya ke Rose dan itu bisa merusak reputasi nya di depan Alice dan Tuan Bayu sang suami.
"Ma, dengar penjelasan Alice," ujar Alice mengejar Mamanya.
Melihat pertengkaran antara ibu dan anak itu membuat Rose merasa bersalah, dia bingung harus berbuat apa, baru satu hari menyicipi indahnya memiliki keluarga tapi sekarang sudah timbul masalah yang disebabkan olehnya. "Ayah, bagaimana ini?" ujar Rose panik.
Tuan Bayu menggenggam tangan putrinya yang sedang panik itu. "Rose tenang, biarkan mereka berbicara berdua, jika mereka tidak bisa menyelesaikan masalah, Papa yang akan turun tangan," ujar Tuan Bayu sambil menatap Rose dengan lembut.
"Iya Pa," Rose melanjutkan sarapan dengan gelisah.
Di kamar Mala.
Di ruangan itu menggema tangisan sedih seorang wanita yang bernama Mala. "Mama benar-benar kecewa,Hikss," tangis wanita paruh baya itu pecah tak kala putri nya menyusul dia.
Dengan gerakan lembut Alice memeluk ibu kandungnya itu. "Tolong ngertiin Alice Ma, rasa bersalah selalu merasuki Alice di saat melihat Rose yang tak mempunyai apapun," ujar Alice menjelaskan kenapa dia mengambil keputusan seperti itu.
Mala melepaskan pelukan Alice dengan kasar. "Terserah kamu mau melakukan apa untuk dia tapi untuk warisan keluarga Mama tidak pernah setuju, langkahi dulu mayat Mama jika kamu mau melakukan itu," ujar Mala yang tetap kekeh atas pendirian nya, ia tak rela hak yang sepenuhnya milik Alice di bagi dengan anak yang tidak di inginkan itu.
Happy Reading ♥️😘😘🙏
I LOVE YOU 3000😘♥️🥰♥️