
"Tuan kenapa anda harus berpura-pura tidur?" tanya Rose yang menangkap basah kelakuan nyeleneh Felix.
Felix tidak bergeming masih keras kepala tidak mau membuka mata walaupun sudah ketahuan berpura-pura tidur.
"Mungkin Tuan memang tidur," ujar Rose pura-pura.
Ting.
Ide jahil mulai muncul di otak Rose. "Tuan anda bisa berpura-pura, saya juga bisa membohongi anda," gumam Rose dalam hati.
"Uhh, kenapa perut ini tiba-tiba sakit ya," ujar Rose mulai berakting.
Felix masih belum bergeming juga, masih keras dengan pendiriannya. "Auchh, sakitnya, Hikss,Hikss," Rose meringis sambil memegang perutnya.
Felix langsung terlonjak bangun saat mendengar Rose meringis kesakitan. "Sayang, kamu kenapa?" ujar nya dengan panik saat melihat Rose sudah guling-guling di kasur sambil memegang perut. "Kenapa tiba-tiba sakit, perutmu sakit?"
"Akhhh, Tuan anda terlalu banyak bicara cepat pegang kedua telinga anda!" bentak Rose.
"Kamu sedang sakit, apa hubungannya dengan telinga ku?" ujar Felix bingung.
"Akhhh, Lakukan saja, itu akan menghilangkan rasa sakitnya," ujar Rose membodohi Felix.
"Mana ada hal seperti itu," ujar Felix yang mengganggap ucapan Rose adalah omong kosong.
"Akhhh, aduh sakitnya, cepat lakukan, anda mau saya mati menahan sakit?" bentak Rose yang terus berakting bak artis papan atas.
Felix menjadi panik mendengar teriakkan Rose, dengan bodohnya akhirnya dia terpaksa mengikuti permintaan gadis itu, tangan kekarnya terangkat memegang telinganya sendiri. "Oke, bagaimana perutmu sudah tak sakit lagi?" ujar Felix dengan polosnya.
"Mbuahahahahha, anda percaya?" tawa Rose pecah saat melihat Felix memegang kedua telinga bak seorang murid yang sedang di hukum oleh guru, sungguh cinta membuat siapa saja menjadi bodoh seketika.
"Sial, kau membodohi ku!" umpat Felix kesal, dia tahu perkataan Rose tidak masuk akal tapi pada akhirnya ia percaya saja karena tidak tega melihat sang pujaan hati nya kesakitan. "Kau akan menerima hukumannya gadis nakal," Setelah mengatakan itu ia ingin menghujami Rose dengan gelitikan.
"Stop!" teriak Rose menghentikan tangan Felix yang hampir menyentuh perutnya.
Rose segara bangun lalu duduk berhadapan dengan Felix, dia menatap pria itu dengan tajam bak belati yang siap menebus siapapun. "Tadi itu hukuman untuk anda karena mengabaikan saya dengan berpura-pura tidur, dan satu lagi, apa anda sudah lupa bahwa tadi siang sudah membuat saya kesal," ujar Rose tegas sambil berdecak pinggang.
Felix bengong diam seribu bahasa melihat perubahan sikap Rose. "Apa itu tadi, dia memarahiku? akhirnya aku melihat sisi galak itu lagi, dia sudah mulai bisa mengungkapkan perasaan marahnya," bukannya marah pria itu malah bangga dengan Rose karena mau mulai melawan dan berterus terang, gadis itu sangat jarang terlihat marah ataupun menunjukkan kekesalan dengan kata-kata.
"Kenapa anda diam? anda marah?" rengek Rose setelah tidak mendapatkan respon, gadis itu seketika kembali ke mode manjanya.
"Aku tidak marah, aku memberikan mu kesempatan untuk meluapkan kekesalan, dan aku bangga karena kau berhasil melakukannya," ujar Felix sambil mengusap rambut Rose lembut. "Aku juga mau minta maaf karena tadi siang sudah membuat mu kesal, aku marah dengan Ana tapi malah menyakiti mu, kau mau kan memaafkan ku?" ujar Felix tersenyum hangat.
Dengan mata yang berkaca-kaca Rose langsung memeluk Felix dengan erat. " Hikss, saya selalu memaafkan anda," ujar Rose yang luluh dengan permintaan maaf Felix.
"Hei, jangan menangis," ujar Felix saat mendengar isak tangis dari gadis manis itu.
"Saya menangis bahagia Tuan, anda selalu mengerti perasaan yang saya alami," ujar Rose penuh syukur memiliki seorang Felix yang mau menerima dia apa adanya.
"Uhh, Kau sweet sekali," Felix mengeratkan pelukannya karena merasa gemas dengan Rose yang sangat pandai berkata manis. "Tapi bisakah kau berhenti memanggil ku Tuan, itu terdengar seperti kita adalah orang yang asing, kau juga berbicara begitu Formal," ujar Felix, sungguh aneh rasanya Rose terus berbicara formal kepadanya.
"Saya berbicara seperti itu kepada semua orang, apa yang salah?" ujar Rose, karena ia merasa itu memang bahasa yang dia memang pelajari dari kecil, Rose tidak tahu berbicara secara casual apalagi dengan pasangan. "Apa berbicara dengan orang yang kita cintai menggunakan bahasa yang berbeda?" gumam Rose dalam hati.
"Bukan itu maksud ku, kita ini adalah pasangan, jadi harus berbicara dengan bahasa yang lebih santai dan romantis," ujar Felix memberikan pengertian.
Rose melepaskan pelukannya dan duduk dengan tegak. "Tuan ajarkan saya bagaimana caranya berbicara dengan santai dan Romantis," ujar Rose dengan semangat 45.
Felix tersenyum lega, dia kira Rose akan marah karena tadi gadis itu tiba-tiba melepaskan pelukan tapi nyatanya dia antusias ingin belajar bagaimana berbicara santai, sungguh lucu sekali gadis yang bernama Rose ini. "Pertama-tama panggil aku SAYANG jangan Tuan, Oke" ajar Felix.
"Sa...yang," ujar Rose mengikuti apa yang di ajarkan Felix.
*
*
Besok harinya di kantor.
Kringg.
Telepon Felix berbunyi. "Mama, kok tumben telpon," gumam Felix.
"Iya Ma, ada apa?" ujar Felix mengangkat telepon dari Mama Nayla.
"Titip salam untuk Rose, Mama akan kembali ke Amerika," ujar Mama Nayla lewat sambungan telepon.
"Kok tiba-tiba Ma?"
"Papa sakit, kamu tau kan bagaimana manjanya papa jika sedang sakit, dia pasti harus di temani oleh Mama," ujar Mama Nayla membicarakan sifat kekanakan suaminya.
"Iya Ma, titip salam juga sama papa, aku kirim supir ya untuk mengantarkan mama ke bandara."
"Tidak usah, Mama sudah berada di bandara."
"Mama selalu saja tiba-tiba, datang juga nggak bilang kembali ke Amerika juga mendadak, suka sekali seperti itu," omel Felix.
"Hahaha, kamu kan tau gimana Mama, suka dengan kebebasan," ujar Mama Nayla tertawa. "Ya kalau gitu Mama tutup yang teleponnya, jangan lupa titip salam ke Rose."
"Iya Ma."
"Bye Sayang Muachh."
"Bye Ma, take care."
Tut, sambungan telepon terputus.
"Ya Tuhan, punya Mama kok gitu amat, Mama, mama," Felix geleng-geleng kepala dengan kelakuan ibu kandungnya itu.
"Ada apa?" tanya Rose.
"Mama titip salam buat kamu, dia kembali ke Amerika karena papa sakit," jawab Felix.
"Amerika?" bingung Rose.
"Iya, itu tempatnya jauh di luar negeri," jelas Felix.
"Aaa," Rose mengangguk-anggukan kepalanya walaupun tak tahu jelas tentang tempat yang di maksud Felix. "Artinya Mama nggak akan bersama kita lagi donk," ujar Rose sedih.
"Tenang, Mama pasti datang lagi,"
"Kapan?" rengek Rose.
"Pas kita menikah, Mama pasti akan datang," canda Felix sambil tertawa kecil.
Happy Reading 🥰😘🙏♥️😘
I LOVE YOU 3000😘♥️♥️♥️♥️♥️