
Ana langsung bangun dari tempat tidur mengambil kesempatan untuk terlepas dari kekuasaan pria itu. "Maaf Felix, tapi ini demi kebaikan kita semua," ujar Ana yang melihat Felix kesakitan.
Dalam hitungan detik Ana merogoh telpon genggamnya di dalam tas yang tadi sempat terlempar.
"Angkat donk Ken," panik Ana karena panggilan nya belum mendapatkan respon dari Assisten Ken.
"Selamat Malam Nona, maaf saya tidak bersama Tuan Felix," jawab Assisten Ken yang mengira Ana akan menayangkan Felix seperti biasanya.
"Ken cepat jemput Tuan mu di Hotel XXX," ujar Ana tanpa ingin basa-basi lagi.
"Ada apa dengan Tuan?" pekik Assisten Ken.
"Cepat kesini nanti aku jelaskan, ceritanya sangat panjang."
"Baik Nona saya akan segera kesana," Dengan cepat Assisten Ken mengambil kunci mobilnya lalu pergi ke tempat tujuan yang di infokan oleh Ana.
Sudah 30 menit berlalu.
Ana mondar-mandir dengan cemas menunggu kedatangan Assisten Ken. "Aduh, Ken kok nggak dateng sih, suami ku sudah nelepon terus dari tadi," Wanita itu semakin panik saat sang suami terus menelepon tanpa henti, teleponnya terus berdering.
Ana sesekali mengecek keadaan Felix yang pingsan karena pukulannya. "Ahh, untung masih hidup," gumam Ana mengecek napas Felix, dia takut Pria itu mati karena tadi dia memukul cukup keras. "Apa dia akan gegar otak? ahh tidak mungkin separah itu, Tenangkan dirimu Ana tidak mungkin separah itu, bukitnya tidak berdarah," ujar Ana berbicara sendiri, pukulan yang dia anggap keras belum tentu terasa sesakit itu.
Tok, tok,tok.
"Itu pasti Ken." dengan cepat Ana berlari menuju pintu.
Ceklek.
"Akhirnya kau datang Ken, cepat masuk,!" ujar Ana yang merasa lega dengan kedatangan Assisten Ken.
"Ada apa ini Nona? anda apakan Bos saya?" tanya Assisten Ken langsung menuduh Ana, saat melihat bosnya tergeletak di kasur dengan keadaan berantakan.
"Ini bukan kesalahan ku, aku terpaksa memukul nya karena dia mencoba memperkosa ku."
"Jangan sembarang ngomong anda, tidak mungkin Tuan Felix melakukan itu," ujar Assisten Ken tidak percaya dengan omongan Ana, mana mungkin Tuannya memperkosa mantan kekasih yang sudah bersuami apalagi Tuanya itu memiliki dendam pribadi terhadap Ana.
"Aku juga tahu itu tidak mungkin terjadi, tapi dia sedang terpengaruh obat perang...sang yang di berikan oleh seseorang," jawab Ana segara supaya tidak ada kesalahpahaman.
"Siapa orang itu?" tanya Ken.
"Akan ku ceritakan semuanya saat Felix sadar, sekarang kau urus dia, aku mau pulang karena suami ku sudah menelepon," ujar Ana yang segera pergi dari sana.
"Nona saya harus apa?" ujar Assisten Ken saat melihat Ana sudah ada di depan pintu
"Aku juga nggak tahu, aku harus segera pulang, Byee," Setelah mengucapkan selamat tinggal dia langsung keluar dari sana.
"Aduh, ada-ada aja, lebih baik aku membawa Tuan pulang dan memanggil dokter supaya tidak salah penanganan," ujar Assisten Ken yang melihat keadaan bosnya sudah tak berdaya.
Dia mengangkat tubuh Felix dan segara pergi dari sana secepat mungkin.
2 hari kemudian.
Seperti janji Ana sebelumnya.
Felix, Ana dan Assisten Ken bertemu di Restaurant yang sudah meraka sepakati.
"Cepat jelaskan segalanya, siapa pelakunya?" tanya Felix secara langsung tanpa ingin menunggu berlama-lama.
"Sabar donk, baru juga nyampek, biarkan aku minum dulu," Setelah melepaskan dahaga nya, Ana langsung menjelaskan bagaimana dia bisa bertemu dengan Mala dan bagaimana kejadian di hotel dua hari yang lalu itu bisa terjadi, ia menjelaskan secara detail bahkan Ana mengaku sudah memukul kepala Felix.
"Jadi pelakunya adalah Mama tiri Rose," pekik Felix.
"Alice dan Rose bersaudara?" tanya Ana yang baru mengetahui fakta itu, selama ini dia mengira Alice dan Rose hanya bersahabat baik.
"Iya, kami juga baru mengetahui fakta itu sekitar 2 bulan yang lalu," jawab Felix.
"Oweee, mungkin ada masalah internal antara meraka sehingga Nyonya Mala ingin memisahkan kalian berdua," Ana sekarang punya sedikit gambaran kenapa wanita paruh baya itu menyakiti gadis baik seperti Rose.
"Apa kau benar-benar tidak terlibat dalam masalah ini?" tanya Felix belum yakin dengan Ana, seingatnya Ana sangat tergila-gila dengannya.
"Kamu bisa pegang omongan ku, bahkan aku sudah menceritakan semua tentang kita ke suamiku supaya tidak ada lagi senjata untuk Nyonya Mala menyerang ku," ujar Ana dengan jujur berusaha menyakinkan Felix.
"Apa Tuan Anderson marah besar padamu?" tanya Felix sedikit peduli dengan Ana.
"Dia tidak marah sama sekali, ia bahkan menerima kesalahan yang pernah aku perbuat dan bahkan dia mau membantu ku untuk mencari orang suruhan Nyonya Mala yang menaruh obat itu di minuman mu," jawab Ana menceritakan betapa lapang nya jiwa seorang Tuan Anderson.
"Aku senang kau bisa berubah menjadi lebih baik, tapi apa yang membuat mu merelakan ku begitu saja?" tanya Felix yang sedikit terkejut dengan perubahan Ana yang begitu cepat.
"Kejadian malam itu membuat ku tersadar bahwa aku sudah tidak memiliki perasaan cinta lagi untuk mu, hanya pikiran ku saja yang terobsesi dengan mu karena rasa bersalah yang begitu dalam di masa lalu," jawab Ana yang sekarang sudah yakin dengan perasaannya, ia sekarang hanya ingin berfokus ke keluarga kecil yang selama ini dia bangun.
Felix tersenyum lega mendengar penjelasan Ana. "Terimakasih atas segalanya," ujar Felix.
"Aku yang harusnya berterima kasih karena sudah memberikan ku kesempatan untuk berubah, yang paling terpenting sekarang adalah kita harus mencari bukti atas kejahatan yang di lakukan oleh Nyonya Mala agar bisa kita tunjukkan ke Rose dan Alice."
"Kau tenang saja, orang yang berani bermain-main dengan ku tidak akan pernah lolos," ujar Felix tersenyum miring, musuh sudah terverifikasi sekarang tinggal mencari bukti saja.
*
Disudut ruangan yang lain Mala sedang menyaksikan sebuah vidio yang akan menjadi senjatanya untuk menghancurkan hubungan Rose dan Felix.
"CK, ternyata wanita bodoh itu benar-benar melepaskan Felix," ujar Mala setelah menyaksikan seluruh rekaman yang menunjukkan Ana dan Felix pada saat di kamar itu, ternyata Mala sudah menyiapkan segalanya di kamar hotel tersebut, termasuk kamera tersembunyi untuk merekam.
"Tapi tidak masalah, aku sudah mendapatkan sepenggal Vidio yang akan membuat anak ha...ram itu menangis darah," Dia tersenyum bangga rencana yang dia susun sedemikian rupa tidak terlalu menenggak kegagalan, tapi satu yang Mala tidak tahu, Felix sudah mengetahui segalanya dan tengah mencari bukti untuk menyerangnya balik.
Saat Mala sedang menikmati keberhasilan atas kejahatan yang dia lakukan, anak buahnya masuk ke ruangan rahasia tersebut, sepertinya dengan tujuan ingin mengantarkan informasi penting.
"Permisi Nyonya, ada informasi yang ingin saya sampaikan," ujar anak buahnya yang adalah mata-mata yang disiapkan untuk mengawasi pergerakan Alice dan Rose.
"Katakan."
"Nona Alice memindahkan asetnya atas nama Nona Rose,"
"Apa!" pekik Mala langsung berdiri dengan kasar.
"Restauran yang Nona Alice bangun selama ini di pindahkan atas Nama Nona Rose," ujar sang mata-mata memperjelas.
Happy Reading guys ♥️😘😘🥰🙏
I LOVE YOU 3000🙏🥰😘♥️🥰😘