Hidden Girl

Hidden Girl
Saya sakit?



Cinta, kasih sayang, kebebasan, impian, kesejahteraan, pengalaman baru, semua dia dapatkan setelah bertemu dengan Felix sehingga membuat Rose sangat suka berada di dekatnya.


*


Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, Felix segera beranjak dari tempat tidur mumpung Rose melonggarkan pelukannya, dia bergerak dengan hati-hati agar Rose tidak bangun. ''Hari ini akan jadi hari pertama untuk ku terlambat bangun sepanjang hidup ini, akibat ulah gadis manja itu,'' ujar Felix berdecak kesal sambil berjalan menuju kamar mandi.


15 menit kemudian.


Ding dong, seseorang memencet bel kamar yang di huni oleh Felix dan Rose.


Rose yang mendengar itu menjadi terbangun ''Bunyi apa itu?'' ujar Rose dengan suara baru bangun tidur, ia


meregangkan badanya sambil mendengar baik-baik arah suara itu.


''Kok belum di buka-buka sih, nanti terlambat pasti aku yang di marahi,'' keluh assisten Ken, ''Apa aku gedor pintu nya,'' tiba-tiba ide muncul dari otak pria itu.


Tok,tok,tok


''Ahhh, ternyata dari pintu,'' ujar Rose mendengar pintu kamarnya di ketok, dengan malas dia bangun lalu berjalan menuju pintu, dia sungguh melupakan penampilannya yang masih berantakan.


Ceklek,


''Siapa?'' ujar Rose setelah membuka pintu kamar sambil mengucek mata membenarkan pengelihatannya.


Buk , assisten Ken menjatuhkan paperbag yang dia bawa, mulutnya terbuka lebar seolah tidak percaya dengan yang baru saja dia lihat.


Dia melihat jelas muka bantal Rose dan banyak tanda merah yang tercetak jelas di leher gadis itu. ''Assisten Ken,anda kenapa?'' tanya Rose melihat assisten Ken yang terbelalak kaget setelah melihatnya.


''No...na, an...da habis mela_''


Set,


Felix langsung menarik Rose agar bersembunyi di belakang tubuhnya. ''Untuk apa kau kesini?'' ujar Felix dengan suara datar yang mengintimidasi.


''Nyo...nya menyuruh sa...ya membawakan pakaian kerja untuk an..da,'' ujar assisten Ken terbata, dia segera mengambil paperbag yang sempat dia jatuhkan dan langsung menyerahkan nya ke Felix.


''Tunggu aku di lobby,'' perintah Felix lalu langsung menutup pintu dengan kasar.


Saking terkejutnya assisten Ken masih berdiri dengan tatapan kosong di depan kamar yang di huni oleh bosnya itu. ''Apa Tuan melakukan itu ke Nona Rose?'' gumam Assisten Ken dengan pikiran liarnya. ''Ini adalah berita besar, aku harus memberi tahu Nyonya,'' ujarnya, dengan cepat mengeluarkan ponsel dan mencari tempat yang aman untuk melakukan panggilan telepon.


''Kenapa membuka pintu sembarangan? lihatlah penampilan mu,'' marah Felix, dia saja terkejut dengan tanda merah yang banyak itu apalagi assisten Ken pastilah akan berpikiran negatif mengira merasa sudah melakukan itu. ''Apa aku seganas itu?'' ia tidak sadar dan tidak menyangka telah membuat tanda merah yang banyak di leher hingga dada Rose.


Rose menundukkan kepalanya merasa bersalah. ''Maaf.''


''Iya, cepatlah mandi, ini pakaian ganti untuk mu,'' ujar Felix memberikan salah satu paperbag itu untuk Rose.


Setelah merima itu Rose langsung berlari kecil ke kamar mandi. ''Dasar bocah itu,'' ujar Felix menggelengkan kepala.


Setelah beberapa menit Felix sudah siap dengan pakaian yang melekat rapi di tubuhnya, sementara Rose juga sudah selesai bersiap, ia bercermin untuk memastikan penampilan nya. ''Aaaaaaa,Tuan,'' teriak Rose di dalam kamar mandi.


Dengan panik Felix segera berlari menuju kamar mandi. ''Ada apa? kenapa kau berteriak?'' tanya Felix sambil mengecek tubuh Rose. ''Yang mana sakit?'' tanyanya lagi.


''Tuan, Hikss, Hikss, apa yang terjadi dengan saya, lihat lah leher ini merah-merah semua, apa saya sakit? Hikss,'' tangis Rose pecah sambil menjelaskan kondisi aneh yang belum pernah terjadi kepadanya.


''Huhhh, aku kira apa,'' lega pria itu.


''Rose tenanglah, ini biasa terjadi kok, aku juga pernah,'' Bohong Felix untuk menenangkan gadis itu.


''Bagaimana cara menghilangkan nya Hikss,'' rengek Rose.


''Berheti menangis, aku akan membelikan obat agar menghilangkannya,'' bujuk Felix sambil mengusap air mata Rose yang terlanjur berlinang membasahi pipinya.


''Bernarkah? bisa hilang?''


''Tidak sekarang tapi pasti akan hilang jika di beri obat.''


Mendapat Jawaban yang menenangkan membaut Rose merasa lega dan mulai berhenti menangis.


''Diam disini, aku akan mencari kain untuk menutupi leher mu sementara,'' Felix membongkar kembali paperbag dari mama Nayla yang di berikan untuk Rose.


Dan benar saja di dalamnya ada syal, dia tahu betul pemikiran mamanya. ''Dasar mama, pasti sudah berpikir mesum terhadap ku dan Rose,'' gumam Felix tersenyum membayangkan pemikiran liar ibunya itu.


''Iya Tuan.''


Felix dan Rose turun menuju lobby untuk mencari assisten Ken.


Assisten Ken senyum-senyum tak jelas saat melihat Felix dan Rose sudah datang mendekat. ''Ken, kau sudah mulai gila?'' ejek Felix melihat tingkah assisten Ken.


''Jelas tidak tuan, saya hanya membayangkan sesuatu,'' ujar assisten Ken menahan tawa.


''Hentikan pikiran liar mu itu, ayo kita cepat berangkat,''


*


Mobil itu akhirnya melaju untuk menuju kantor. ''Rose, kau mau pulang atau bekerja?'' tanya Felix yang sedikit khawatir karena kemarin malam Rose muntah-muntah pasti sampai sekarang masih ada efeknya.


''Saya akan bekerja Tuan,'' jawab Rose.


''Nona, anda seharusnya pulang istirahat, melakukan itu pasti melelahkan?'' ujar assisten Ken sambil menahan tawa.


''Diam kau Ken!'' bentak Felix.


''Kau yakin akan bekerja hari ini? aku sarankan untuk pulang saja,'' ujar Felix memastikan lagi.


''Saya akan bekerja, lagipula saya sudah membaik,'' jawab Rose.


''Ken, mampir ke apotek,'' perintah Felix.


''Baik Tuan,''


Setelah mampir ke apotek mereka melanjutkan perjalanan dan dalam beberapa menit mobil mereka sudah memasuki pelataran perusahaan.


*


''Duduk di sofa,'' perintah Felix saat mereka sudah di dalam ruang kerja.


Setelah Rose duduk, dia mencoba melepaskan syal yang melekat di leher Rose. ''Kenpa dibuka?'' tanya Rose sambil menahan tangan Felix.


''Aku akan mengobati mu.'' Rose seketika langsung menurunkan tangannya membiarkan Felix melepas syal yang ia gunakan.


Dengan hati-hati Felix mengoleskan salep di tanda merah itu, Rose berdesir saat merasakan tangan lembut Felix menyentuh lehernya.


''Apakah perih?'' tanya Felix.


''Ti...dak Tu...an, bolehkah saya melakukannya sendiri,'' ujar Rose gugup.


''Biarkan aku melakukannya, ini lagi sedikit,''


''Baik Tuan,'' dengan pasrah Rose membiarkan pria itu terus menyentuh lehernya walaupun rasanya sangat gugup.


''Simpan obat ini, nanti di gunakan lagi dan jangan lupa juga di oleskan di tempat lain,'' ujar Felix dengan santai.


''Tempat lain?'' tanya Rose tidak mengerti.


''Iya nanti kau lihat saja sendiri pasti ada,'' ujar pria itu tersenyum miring. ''Oke, aku akan melanjutkan pekerjaan dulu ,'' ujarnya langsung beranjak dari sofa menuju kursi kekuasaannya, Rose hanya bisa terdiam menatap punggung Felix.


Siang harinya.


''Tuan, kita harus berangkat sekarang menuju tempat meeting,'' ujar Assisten Ken.


''Oke, Ayo kita berangkat,''


''Tuan, anda mau kemana,'' tanya Rose yang datang dari toilet.


''Diamlah disini, aku ada meeting di luar,'' jawab Felix.


''Ooo,'' ujar Rose.


Happy Reading 🥰😘♥️😘


I LOVE YOU 3000😘♥️🥰🥰🙏