Hidden Girl

Hidden Girl
Tidak adil



"Terimakasih sudah mempercayai saya, kalau begitu saya permisi," pamit Felix, dia memutuskan mengalah dan pergi dari sana karena tak mau membuat Rose semakin tertekan saat melihat dirinya.


"Apa yang Papa lakukan? kenapa papa bersikap baik kepada pria yang sudah menyakiti Rose kita, dia adalah seorang penghianat pa," emosi Alice seketika memuncak lagi saat melihat sikap tenang Papanya.


"Sabar sayang, Papa mempercayai Felix, semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua seperti kamu memberikan kesempatan kedua bagi Papa yang telah mengkhianati mama mu, biarkan Felix mencari bukti untuk menyelesaikan masalah ini," ujar Tuan Bayu dengan tenang tanpa ada kemarahan sedikit pun dari cara pria paruh baya itu saat berbicara.


Alice menghentakkan kakinya kesal karena pemikiran Tuan Bayu yang tak masuk akal. "Terserah Papa, Alice mau lihat kondisi Rose."


Ayah dan putrinya itu masuk ke dalam untuk melihat keadaan Rose yang tengah sendirian melawan rasa kecewa yang di buat oleh Felix sang kekasih.


Terlihat Rose duduk termenung dengan tatapan kosong melihat ke arah tembok putih rumah sakit.


"Sayang, kamu baik-baik saja?"


Tuan Bayu duduk di tepi ranjang rumah sakit dan langsung memeluk putri bungsunya itu.


Rose menerima pelukan hangat yang di berikan oleh Tuan Bayu selaku ayah yang selalu memberikan semangat untuknya.


"Hikss, Dia sangat jahat."


Tangis Rose tak terbendung lagi setelah mengatakan itu.


"Hikss, Apa salah ku, kenapa dia melakukan penghianatan?"


Dia dalam hati yang paling dalam. Rose bertanya-tanya apa kekurangan yang membuat Felix nekat melakukan yang paling terlarang di dalam sebuah hubungan.


Tangan yang sudah mulai keriput itu terangkat untuk mengelus punggung putrinya. "Sabar sayang, di sebuah hubungan pasti akan ada masalah."


"Hiksss, Aku sangat mencintai dia, tapi kenapa Felix melakukan semua ini, hikss."


Tangis Rose tak bisa tertahan kan jika membicarakan dan mengingat tentang Felix.


"Tuhan kenapa hukuman yang kau berikan sangat berat dan menyakitkan, Apa ini balasan atas dosa orang tuaku."


" jangan terus menangisi orang seperti Felix!" sahut Alice yang dari tadi sudah tak tahan melihat adiknya menangis histeris.


Dia begitu terluka melihat sang adik terus meneteskan air mata untuk orang yang tak pantas untuk di tangis.


"Aku sangat mencintai nya kak, bagaimana caranya menghilangkan perasaan ku ini kak, tolong aku kak, sakit sekali rasanya, sangat sakit, Hikss."


"Maaf Rose, aku memang tidak mengerti bagaimana rasa sakit yang kamu alami, aku juga sakit melihat mu seperti ini."


Tak bisa Alice bantah bahwa dia belum pernah merasakan di khianati oleh orang yang dia sangat cintai.


"Jangan merasa bersalah kak, aku sangat berterima kasih di berikan kakak seperti mu yang selalu peduli dan bisa merasakan apa yang aku rasakan."


"Stop menangis lagi, wajah cantik ini tak pantas bersedih." ujar Alice sambil tersenyum sumringah untuk merubah suasana yang menyedihkan menjadi lebih baik.


Gadis itu berusaha tegar lalu membalas senyuman kakaknya. "Aku akan kuat!" ujar Rose sambil mengelap air mata yang sudah terlanjur jatuh.


"Itu baru adikku."


Tuan Bayu tersenyum bahagia melihat kedekatan yang di tunjukan ke dua anak gadis yang dia miliki, walaupun tidak di asuh bersama tapi mereka bisa saling menyayangi satu sama lain, bagi Tuan Bayu itu adalah keajaiban yang terjadi karena ikatan batin yang kuat.


*


Di malam yang dingin, Felix menguyur seluruh tubuhnya di bawah air shower yang terus mengucur dari atas lalu jatuh di atas kepalanya melewati seluruh tubuh memberikan sensasi ketenangan.


"Hiksss, Hikss."


Lagi-lagi Felix tersiksa dan tersakiti karena cinta yang dia miliki begitu besar pada seseorang, selalu ada yang merusak kebahagiaannya dalam percintaan, cinta yang di berikan oleh Felix selalu tulus tapi kenapa tuhan terus-terusan menghancurkan begitu saja, kenapa tuhan memberikan jalan kepada orang-orang jahat untuk menghancurkan percintaan yang dia bangun dengan ketulusan yang luar biasa.


"Akhhhhh, Kenapa ini selalu terjadi kepadaku, semua orang ingin merenggut wanita yang aku cintai, ini tidak adil."


Dia meluapkan semua kekesalan dengan suara keras yang beradu dengan suara gemericik air.


Buk, Buk, Felix menghantam tembok yang terbuat dari marmer itu dengan tangan kosong. "Akhhhh, ini tidak adil," Teriknya meluapkan emosi yang tadi sempat tertahan.


Darah seketika mengucur dari punggung tangan pria itu, rasa sakit sudah tidak di rasakan oleh Felix.


Lebih sakit hatinya dari sekedar luka yang tak seberapa ini.


*


Setelah keluar dari rumah sakit Rose memutus untuk mengurung diri di kamar tanpa ingin berbicara dengan siapapun, bahkan dia tidak makan atau minum sedikitpun, Rose menjadi frustasi dengan apa yang telah terjadi, ia tidak bisa melupakan semua detail adegan saat Felix bercumbu dengan Ana.


Ketegaran yang sempat di tunjukan di rumah sakit sudah sirna begitu saja saat dirinya kembali teringat dengan vidio yang hanya sepenggal tapi selalu terbayang di pikiran.


Rose duduk di depan cermin menatap wajahnya yang menyedihkan, mata sebab menjadi ciri khas wajah itu.


"Apa yang kurang dari ku? katakan apa yang kurang dariku?" teriak Rose kepada cermin.


"Kenapa kau tidak menjawab? Ahh, katakan, Apa kurang ku sehingga pria itu berkhianat, katakan, Hiksss,"


Seketika Rose kembali kehilangan kendali atas dirinya, ia kembali histeris menangisi penghianat Felix yang begitu mengguncang jiwa Rose.


"Hahahaha. Bahkan cermin sudah tidak ada di pihakku."


Kondisi Rose sudah sangat menghawatirkan, dia sekarang mulai menangis dan tertawa sendiri, emosinya naik turun seperti roller coaster, ini sungguh menakutkan, bisa saja Rose akan menyakiti dirinya sendiri.


"Apa salahku? semua orang begitu jahat, apa sebenarnya salahku? kesalahan apa yang aku buat, sejak lahir aku selalu tertolak, kenapa mereka suka sekali menolak ku dan membuang ku, hiksss."


"Ini tidak adil, sungguh tidak adil, tidak boleh, mereka tidak boleh melakukan itu kepada ku."


Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, ia berdiri lalu berjalan terhuyung seperti orang yang tak punya tenaga, jelas tidak punya tenaga, ia tidak makan seharian penuh.


Semua mencoba membujuk untuk makan tapi tak ada satupun yang mampu meluluhkan hatinya yang mulai mengeras karena patah hati.


Dia mengambil salah satu pigura yang terbuat dari kayu lalu melempar nya ke arah kaca.


"Akhhhhh." Teriak Rose dengan kencang.


Pyangg.


Suara kaca pecah itu terdengar sampai lantai bawah, dimana Tuan Bayu dan Alice sedang makan malam karena paksaan dari Mala.


"Pa, itu dari kamar Rose." ujar Alice dengan panik.


"Aku harus melihatnya."


Makanan yang belum tertelan pun terpaksa di telan paksa oleh Alice karena saking khawatir dengan kondisi Rose, ia berlari sekencang mungkin ke lantai atas di susul oleh Tuan Bayu yang juga terlihat panik.


Happy Reading ♥️😘😘🥰


I LOVE YOU 3000♥️😘🥰♥️