
Rose membeku tak bisa berkata-kata saat melihat Felix dan Ana sudah ada di depannya, dia tak menyangka mereka akan berani datang untuk menemui dirinya.
"Aku sangat merindukan mu, kenapa kau menatapku seolah-olah kamu masih sangat mencintai ku padahal disamping mu sudah ada orang yang kamu cintai, tolong hentikan ini, kenapa kau mencari ku lagi."
Di dalam hati Rose menjerit rindu terhadap Felix.
berbeda dengan wajahnya yang seketika menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Apa sih ribut-ribut?" ujar Mala tanpa tahu kejahatan yang dia perbuat akan terbongkar cepat atau lambat.
Deg.
Mala seketika membeku melihat 2 orang korban fitnah yang dia lakukan, matanya membulat menahan rasa ketakutan.
Semua rencananya pastilah akan berantakan jika Ana menyatakan yang sebenarnya.
"Kalian?" ujar Mala.
Ana langsung tersenyum miring menatap Mala dengan kilatan dendam. "Kenapa anda terkejut Nyonya Mala."
"Ya jelas saya terkejut, anda sudah berani datang kesini setelah apa yang anda lakukan terhadap putri kami."
Mala berpura-pura tenang menjawab pertanyaan Ana, padahal dalam hatinya sudah ketakutan setengah mati.
"Jangan berpura-pura naif Nyonya Mala," ujar Ana yang sudah tak tahan lagi dengan sikap Mala yang sok baik.
"Apa maksudmu? dasar perebut pacar orang," balas Mala.
Wajah Ana semakin memerah saat Mala melayangkan ucapan yang tak masuk akal, darah wanita cantik itu seketika mendidih. "Anda jangan sok baik, anda adalah penjahat sebenarnya disini!" Nada bicara Ana menjadi meninggi kepada orang yang lebih tua.
"Diam Ana!" bentak Alice.
"Beraninya kamu mengatai Mamaku penjahat, kamu kesini mau berniat apa sih sebenarnya! mau ngajak kami berantem apa menyelesaikan masalah." Nada bicara Alice ikut meninggi mendengar mamanya di rendahkan.
"Alice sudah, Mama nggak apa-apa, jangan berdebat dengan orang yang tak mempunyai perasaan seperti mereka."
Lagi-lagi Mala berakting seakan-akan dia lah yang tersakiti.
"Dasar nenek lam_"
Belum sempat Ana menyelesaikan ucapnya langsung di cegat oleh Felix.
"Tenang Ana, ingat apa tujuan kita kesini, jangan sampai terkecoh oleh wanita itu," ujar Felix tenang.
"Sekarang giliran saya yang berbicara, Apa anda keberatan Tuan Bayu?" dengan sopan Felix meminta ijin ke pemilik rumah.
"Silahkan," ujar Tuan Bayu.
Dengan langkah pelan Felix mendekat ke arah Rose, menatap gadis itu dengan serius. "Rose aku kesini untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya antara aku dan Ana, aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini, Tolong berikan aku kesempatan untuk berbicara."
Walaupun dia sudah tidak sabar membongkar kejahatan Mala, ia berusaha menahan dan meminta ijin kepada gadis manis itu terlebih dahulu, kenyamanan Rose selalu berada di nomor satu untuknya.
"Rose, jangan biarkan pria penghianat mendapatkan kesempatan kedua, sudah cukup kamu tersiksa selama ini," ujar Mala yang tiba-tiba peduli dengan anak tirinya.
"Mama, jangan ikut campur, ini urusan pribadi mereka, kita hanya boleh menjadi penengah dan pemberian solusi," ujar Tuan Bayu yang tak setuju dengan perkataan Mala yang menghakimi Felix.
"Sial, Papa apa-apaan sih sok bijaksana, bisa terbongkar semua rencana ku, semoga saja mereka tidak mempunyai bukti yang dapat memojokkannya ku, kalau cuma bicara saja siapa yang percaya, Kan?"
Rose melirik Ayahnya untuk meminta ijin, dengan cepat langsung di jawab dengan anggukan oleh Tuan Bayu yang mengerti maksud putrinya.
"Terimakasih." Felix sangat senang di berikan kesempatan oleh Rose, saking senangnya dia ingin memeluk gadis itu tapi langsung di stop oleh Rose.
"Jangan melewati batas," ujar Rose dingin.
"Maaf aku tidak sengaja."
"Oke, pertama-tama aku ingin menegaskan tidak ada hubungan percintaan apapun antar aku dan Ana, dia hanyalah matan kekasih ku yang sekarang sudah memiliki keluarga, kedua dalam vidio yang kamu tunjukkan itu tidak sepenuhnya apa yang sebenarnya terjadi, itu hanya potongan video yang membuat kamu terprovokasi, ketiga malam itu aku di pengaruhi oleh obat perang...sang yang membuat aku tak bisa mengendalikan diri sendiri.
untung saja Ana mampu menghentikan diriku dan menolongku."
Felix menjelaskan secara terperinci segalanya kepada Rose satu-persatu.
"Itu semua bener Rose, aku dan Felix tidak ada hubungan apapun, aku punya bukti yang kuat untuk menyangkalnya, kau bisa lihat sendiri rekaman full apa yang sebenarnya terjadi." ujar Ana.
"Alice bisa bantu aku agar vidio ini bisa terlihat oleh semuanya."
ujar Ana yang menyerahkan handphone nya ke Alice.
"Oke aku akan sambungkan ke TV," ujar Alice yang sebenarnya sangat malas dengan Ana tapi dia juga penasaran dengan bukti yang Ana maksud.
Klik.
Alice memencet remote untuk memulai vidio itu.
Semua mata tertuju ke arah vidio yang di sebut oleh Ana sebagai rekaman keseluruhan kejadian malam itu.
Meraka menunggu dengan penuh penasaran dan pertanyaan demi pertanyaan juga muncul di otak meraka.
Di layar Tv LED 100 inch itu terpampang jelas rekaman dari awal sampai akhir kejadian yang sebenarnya.
Felix dan Ana belum memperlihatkan bukti yang menjurus ke arahnya tapi wajah Mala sudah terlihat sangat panik.
"Dimana meraka mendapatkan rekaman itu? padahal cuma aku yang mempunyai rekaman full nya.
Sialan, pasti ada penghianat dari salah satu anak buah ku, gawat ini, apa yang harus aku lakukan untuk mempengaruhi pikiran Rose agar tidak percaya dengan bukti yang di punyai oleh Ana."
Wanita paruh baya itu berusaha menenangkan dirinya agar tidak terlihat tertekan tapi wajah panik itu dapat dilihat jelas oleh Felix dan Ana.
"Kau bisa mengelabuhi keluarga mu tapi tidak dengan ku, akan ku buat kau menangis darah di hadapan semua orang."
Felix tersenyum miring melihat ekspresi gelisah Mala.
Semua orang terkejut mengetahui fakta bahwa Ana bahkan memukul kepala Felix dengan keras untuk menghentikan kebrutalan pria itu dan disana terlihat jelas Assisten Ken juga ada di sana untuk menolong Felix.
Setelah vidio itu berakhir semua orang menatap Felix dan Ana dengan rasa malu karena telah menuduh mereka sembarangan.
Terutama Rose, dia merasa bersalah karena mudah percaya dengan potongan Video yang belum tentu kebenarannya.
"Apa kali ini aku yang salah menilai?" Gumam Rose, dia kembali mengingat betapa kerasnya dia menampar Felix dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan, apalagi dia meminta perpisahan.
"Oke, semua sudah jelas kalau aku tidak melakukan apapun dengan Felix, aku akui memang Felix sempat mencium ku tapi itu karena dia terpengaruh obat yang tak semestinya dia konsumsi.
Kalian pasti bertanya-tanya kenapa rekaman ini sampai ada? padahal tidak ada kamar hotel yang menaruh CCTV di dalam kamar apalagi menaruh kamera untuk merekam aktifitas pelanggan meraka dan kalian pasti penasaran kenapa Felix bisa mengonsumsi obat seperti itu padahal dia tahu obat perang...sang akan membuatnya tak terkendali, kalian tahu sendiri Felix bukan orang yang bodoh." Ana sedikit melirik Mala setelah mengatakan itu.
Happy Reading ♥️😘😘🙏
I LOVE YOU 3000🙏♥️🥰🥰😘