
Disaat mereka sedang sibuk berbicara ternyata ada seseorang yang mengintip di balik tiang besar rumah itu. "Owee, ternyata Tuan Felix adalah kekasih anak har...am itu, pantas saja waktu itu Tuan Felix menjemput nya," ujar wanita paruh baya itu setia mengintip disana.
"Ckk, sungguh beruntung sekali dia bisa berpacaran dengan pria terkaya di kota ini tapi sayang itu tidak akan lama lagi," dia tersenyum miring membayangkan rencana yang bagus untuk menjebak Rose. "Tunggu saja permainan yang akan aku buat untuk menghancurkan hubungan mu dengan Tuan Felix," ujar wanita paruh baya itu menatap Rose dengan penuh dendam, sungguh dia tidak bisa melihat gadis lugu tersebut bahagia.
*
Alice, Rose dan Felix duduk tenang di ruang tamu sambil menikmati teh yang dibuat oleh Rose.
"Bisa nggak kau jangan jadi obat nyamuk di antara kami , aku ingin berbicara berdua dengan Rose," protes Felix yang dari tadi Alice tidak mempunyai inisiatif sendiri untuk meninggalkan meraka berdua.
"Ini kan rumahku, terserah aku donk mau diam dimana saja," sahut Alice yang selalu ingin berdebat dengan Felix.
Helaan napas yang kasar terdengar dari pria itu. "Kita ini pasangan kekasih jadi perlu ruang untuk berbicara berdua," ujar Felix menahan kekesalan, ia mencoba sekali lagi untuk meminta secara baik-baik.
"Sudahlah sayang, mungkin kakak kesepian makanya ingin bergabung dengan kita," lerai Rose memutus berdebat itu sebelum menjadi panjang lebar dan merembet kemana-mana.
Felix membuang mukanya malas tidak ingin melihat wajah Alice yang sangat menyebalkan baginya. "Sayang, siapa suruh dia jomblo dan terus menggangu kita," ujar Felix sambil mengelus pipi Rose dengan lembut dengan niatan memanas-manasi gadis lajang itu.
Kedua tangan Alice terkepal mendengar ejekan Felix. "Dengar Tuan Felix yang terhormat, saya bisa mencari pacar yang lebih dari anda," Seloroh Alice yang merasa dirinya sangat disindir keras oleh calon adik iparnya.
"Tunjukkan saja, aku lihat mantan-mantan pacarmu nggak ada yang setara ataupun lebih dari ku," balas Felix yang tahu betul tentang kehidupan percintaan masa lalu Alice.
Karena sudah tidak bisa menahan emosi, gadis cantik itu berdiri dengan kasar lalu pergi meninggalkan kedua sejoli itu. "Dasar lelaki sombong," gerutu Alice kesal setengah mati.
Melihat kelakuan kekasihnya dan kakaknya membuat Rose geleng-geleng kepala, dia hanya bisa pasrah jika keduanya tetap bertengkar walaupun susah dilerai. "Sayang, kamu senang sekali bertengkar dengan kakak ku," omel Rose.
"Lupakan dia, sekarang kita bisa berbicara dengan leluasa tanpa ada yang menguping," Setelah mengatakan itu Felix menggenggam tangan Rose dengan lembut. "Sayang, jujur kepadaku apa yang terjadi tadi pagi? kamu terdengar sedih" tanya Felix baik-baik, karena tujuannya kemari adalah untuk mengecek kondisi Rose walaupun meraka terpisah tapi Felix tidak akan melepas pengawasan terhadap kekasihnya ini.
Rose menghela napas dengan kasar. "Sebenarnya tadi pagi aku merasa gelisah jadi aku memutuskan untuk menelepon mu untuk menenangkan diri," jawab Rose menunduk lesu.
"Kenapa gelisah? apa kamu tidak senang tinggal disini?" tanya Felix berusaha terus menggali informasi.
"Kakak dan Mama sedikit berdebat karena aku, jadi ada rasa bersalah yang membuat aku menjadi gelisah," jawab Rose sedikit ragu, apakah benar keputusannya untuk melibatkan Felix lagi dalam urusan ini.
Felix mengangkat dagu gadis itu dengan pelan agar bisa menatap Rose untuk mencari kebenaran. "Apa perlu kamu kembali tinggal bersama ku?" ujar Felix menatap gadis itu dengan hangat.
"Berikan aku kesempatan untuk mencoba, dimana pun kita berada pasti ada masalah tapi aku merasa aman karena mempunyai mu di dalam hidup ku," ujar Rose memberikan senyuman manis yang sering ia tunjukan.
"Aku akan mendukung segala keputusan mu, jika ada masalah segera hubungi aku, Oke."
"Siap Tuan Felix," ujar Rose sambil tertawa untuk mencairkan suasana.
Tangan pria itu terangkat mengacak rambut Rose. "Kau selalu lucu dalam kondisi apapun," gemas Felix, ia selalu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak jatuh dengan tingkah lucu Rose.
*
*
Selama satu bulan awal kehidupan Rose dan keluarganya berjalan dengan baik tanpa ada masalah yang berarti begitu juga dengan Felix dia melalui hari-harinya dengan bekerja dan bercengkrama ria dengan Rose melalui sambungan telepon, sesekali Felix juga datang untuk mengunjungi kekasihnya untuk melepas rasa rindu yang selalu muncul walaupun baru saja bertemu.
Tapi satu bulan selanjutnya Felix dan Rose lebih jarang berkomunikasi karena kesibukan mereka masing-masing, Felix sibuk dengan pekerjaan yang padat karena peluncuran projek terbaru sedangkan Rose sibuk belajar dengan giat demi menggapai apa yang ia cita-citakan dan untuk memenuhi keinginan saudara satu-satunya itu.
Seperti pagi ini, baru lima menit mereka melakukan panggilan terpaksa di hentikan karena Felix yang harus meeting di luar kantor.
"Sayang, nanti lagi ya teleponnya, aku mau meeting dulu di luar," ujar Pria tampan itu ingin mengakhiri percakapan meraka melalui sambungan telepon.
"Iya sayang, semangat kerja nya," Rose memberikan energi kepada Felix dengan kata-kata dukungan.
Walaupun akhirnya- akhir ini mereka jarang berkomunikasi tapi hubungan meraka berjalan dengan baik dan sangat harmonis, Felix dan Rose memiliki rasa percaya yang tinggi antara satu sama lain sehingga hubungan mereka begitu kuat, sulit di runtuh kan oleh orang yang berniat jahat apalagi pelakor.
*
"Felix, tunggu aku," ujar Ana yang entah darimana datangnya menarik tangan Pria itu.
Namun secara kasar Felix menghempaskan tangan Ana hingga sedikit menyakiti wanita itu. "Akkkh, kamu sekarang kok kasar sekali," keluh Ana yang tidak pernah di perlakukan kasar semasa mereka berpacaran dulu.
"Menjauh dariku," Setelah mengatakan kata yang begitu pedas, dia langsung pergi meninggalkan Ana.
Ana ingin mengejar tapi di halangi oleh Assisten Ken. "Berhenti Nona, Tuan Felix sedang sibuk, jangan ganggu dia, silahkan anda pergi dari sini secara baik-baik," ujar Assisten Ken tegas lalu meninggalkan Ana yang sedang mematung.
"Bos dan Assisten nya sama-sama menyebalkan," gerutu Ana yang marah-marah sendiri.
"Anda masih mencintai Tuan Felix," suara seseorang terdengar dari belakang Ana.
Deg.
Jantung Ana seakan mau berhenti, ada seseorang yang mengetahui rahasianya, jika itu sampai di telinga Tuan Anderson bisa mampus dia.
Secara perlahan Ana menoleh kebelakang mencari tahu sumber suara. "Nyonya Mala!" pekik Ana, ia tahu betul siapa orang yang ada di hadapannya, Mama dari teman baiknya.
"Kenapa anda kaget Nyonya Anderson?" ujar wanita paruh baya itu tersenyum miring.
"Apa saja yang anda ketahui?" tanya Ana langsung tanpa basa-basi lagi.
"Tidak banyak tapi cukup untuk membuat mu di tendang dari keluarga Anderson," jawab Mala mengancam wanita yang seumuran dengan anaknya itu. "Jika anda mau bekerjasama dengan saya, semua rahasia anda aman," lanjut Mala langsung bernegosiasi.
"Apa yang anda mau?" tanya Ana, kalau dia meminta uang pasti Ana dengan mudah bisa memberikannya tapi tidak mungkin wanita sekelas Nyonya Mala menginginkan uang.
Happy Reading ♥️😘🥰🥰🥰
I LOVE YOU 3000😘🥰♥️♥️🥰