Hidden Girl

Hidden Girl
salah paham



"Kenapa Tuan senyum-senyum sendiri, apa jangan-jangan Tuan sudah mulai stress karena di putusin sama Nona Rose, Gawat jika Tuan gila, dimana lagi aku bekerja dengan gaji setinggi di perusahaan Himalaya group." gumam Assisten Ken yang bergidik melihat tingkah aneh bosnya. "Uhh, kadang cinta memang agak kejam."


"Tuan, anda baik-baik saja?"


Assisten Ken berusaha menyadarkan Felix yang terus senyum-senyum sendiri.


Tapi semua itu gagal karena tidak ada jawaban dari bosnya.


Tak menyerah sampai sana Assisten Ken melambaikan tangan di depan wajah Felix dan itu juga gagal.


"Aku harus melakukan cara yang lebih ekstrim, sebelum Tuan menjadi gila."


Brakk.


Assisten Ken menggebrak meja dengan keras, untung saja meja itu tidak ambruk akibat ulah Ken yang sungguh absurd.


"Ken apa yang kau lakukan! semua orang memperhatikan kita," bentak Felix yang terkejut dengan suara keras yang berhasil menganggu khayalannya itu.


Assisten Ken tersenyum kaku, persetan dengan kemarahan bosnya dan pandangan aneh yang di tunjukan semua orang ke arahnya.


Yang terpenting adalah bosnya bisa sadar dan nggak jadi gila.


"Hehehe, Maaf Tuan tadi ada lalat jadi saya menggebrak meja untuk membunuh lalat itu."


"Mana ada restauran mahal seperti ini ada lalatnya," ujar Felix heran dengan alasan tak masuk akal Assisten Ken.


"Bisa aja kan Tuan, namanya juga hewan nggak bisa di hadang."


"Hmmm, nggak usah di bahas lagi, lanjutkan makannya."


"Baik Tuan."


"Uhhh, untung saja Tuan tak marah, tadi emang tindakan yang terlalu ekstrim, lain kali aku akan mencari cara yang lebih aman, tenang Tuan Felix.


tidak akan aku biarkan anda menjadi gila."


Imajinasi Assisten Ken ternyata lebih liar daripada author. heheheh.


"Aku harus menelepon Tuan Bayu untuk menanyakan kabar Rose."


Saat mengingat tentang Rose dia baru sadar belum menghubungi Tuan Bayu dalam 2 hari terakhir untuk menayangkan kondisi kesehatan Rose.


"Selamat siang Tuan Bayu," ujar Felix saat panggilan itu sudah tersambung.


"Selamat siang, apa kabar?" jawab Tuan Bayu ramah.


"Saya baik, bagaimana keadaan Rose, Apa dia membaik?"


Terakhir kali dia menanyakan kabar Rose, dia mendapatkan info bahwa Rose sangat frustasi dan membuat tangannya terluka, berita itu sangat menyayat hati Felix.


Yang paling melukai hatinya adalah dia tidak ada di sisi Rose saat gadis manis itu bersedih, ia ingin datang dan memeluk Rose tapi itu pasti akan lebih menyakiti Rose.


"Dia sekarang sudah lebih baik, tapi keadaan mentalnya masih belum stabil, dia suka melamun dan menangis sendiri."


Tuan Bayu menceritakan apa adanya tentang kondisi Rose, ia tidak ingin menutupi itu karena Felix berhak tau.


"Tolong jaga dia, saya akan segera menyelesaikan masalah ini, tolong jangan lelah mempercayai saya dan sekali lagi saya meminta maaf atas kekacauan yang telah terjadi."


Assisten Ken dapat melihat kesedihan dan wajah frustasi Felix saat sedang melakukan panggilan telepon dengan seseorang.


"Tadi dia senyum-senyum sendiri sekarang dia terlihat sedih, Oh Tuhan tuan sudah benar-benar gila, Tuhan tolong bantu Tuan Felix agar segera selesai dari segala masalah dengan percintaan yang rumit." Dengan sepenuh hati Assisten Ken mendoakan bosnya yang sedang dirundung masalah percintaan.


Sungguh anak buah yang baik.


takut bosnya terluka, lebih tepatnya takut bosnya gila dan dia akan kehilangan pekerjaan.


"Jangan khawatir tentang itu, yang paling terpenting sekarang rebut kembali kepercayaan Rose, hilangkan kekecewaan yang dia rasakan, sembuhkan hatinya yang sudah terlanjur terluka."


"Makasih Tuan Bayu, anda memegang ayah yang bijaksana, mungkin kata makasih tak cukup untuk membalas apa yang telah lakukan."


Tak sadar Felix meneteskan air mata saat mengatakan rasa syukur telah di pertemukan dengan orang tua sebaik Tuan Bayu.


"Wahh, apa semua ini? Tuan menangis? " Sambil makan Assisten Ken terus memperhatikan bosnya. "Hanya Nona Rose yang berhasil membuat Tuan Felix menangis di hadapan banyak orang, Nona anda berhak mendapatkan penghargaan."


"Saya tutup telepon nya, ada pekerjaan yang harus saya selesaikan setelah makan siang, tolong kuatkan Rose untuk bertahan sedikit lagi."


"Baik Tuan Felix, selamat menjalankan pekerjaan anda."


Walaupun percakapan mereka terkesan formal tapi kata-kata Tuan Bayu mampu membuat Felix lebih tenang.


*


*


Felix, Ana, dan Tuan Anderson melakukan pertemuan di sebuah Restaurant.


"Terimakasih atas kerjasama anda Tuan Anderson, berkat anda saya bisa menangkap bartender itu dan mendapatkan bukti tambahan."


Tuan Anderson menyambut dengan senyuman. "Itu bukan masalah besar Tuan Felix, istri saya juga terlibat dengan masalah ini jadi saya juga harus ikut menyelesaikan."


"Kapan kita akan mengungkapkan semua bukti ini ke Rose?" tanya Ana yang sudah tidak sabar menyelesaikan semua masalah.


"Kita lakukan besok."


"Oke aku setuju, lebih cepat lebih baik," ujar Ana.


"Saya juga bersedia ikut dan jadi saksi yang akurat, supaya Nyonya Mala tidak bisa mengelak lagi," ujar Tuan Anderson yang juga sangat gemas dengan tingkah Mala.


"Makasih untuk semuanya, mari kita makan," ujar Felix mempersilakan makan sebagai orang yang mengundang meraka.


Tawaran Felix di sambut baik oleh Ana dan Tuan Anderson.


Akhirnya meraka makan bersama dengan tenang sambil berbincang-bincang.


"Sayang, aku ke toilet dulu ya," ujar Tuan Anderson ke istrinya.


"Iya, Sayang."


Tuan Anderson segera beranjak dari sana meninggalkan Ana dan Felix berdua di meja makan.


"Ana secara pribadi aku mau bilang terimakasih ke kamu, berkat kamu dan Tuan Anderson akhirnya masalah ini ada titik terang," ujar Felix setelah Tuan Anderson pergi.


"Berhenti berterimakasih, ini juga kesalahan ku, anggap saja ini semua penembusan kesalahan yang pernah aku buat kepada mu, aku nggak mau menyakiti mu untuk kedua kalinya."


"Aku bersyukur kita bisa saling memaafkan."


Lagi-lagi Felix merasa lega sudah bisa berdamai dengan masa lalu yang pernah membuat dia terpuruk.


Di kejauhan ada yang melihat Ana dan Felix tengah bersama.


Dengan mata yang sudah berapi orang itu berjalan cepat ke arah meja dimana Ana dan Felix duduk sambil tangannya terkepal dengan wajah yang sudah memerah akibat menahan amarah.


Orang itu mengambil gelas yang berisi air lalu.


Byurr.


Dia menyiram air itu tepat di wajah Felix.


"Alice apa yang kau lakukan?" pekik Ana yang terkejut.


Dengan napas yang naik turun Alice menatap tajam kedua insan manusia yang saat ini sudah mulai dia benci.


"Diam kau pelakor!" Bentak Alice yang membuat keributan di sana.


Semua orang mengarahkan padangan meraka ke pusat keributan.


Sejenak Felix mengelap wajahnya yang basah kuyup.


"Alice jangan membuat keributan, ini tempat umum," ujar Felix berusaha bicara baik-baik.


"Beraninya kau menyuruh aku untuk diam setelah apa yang telah kau lakukan ke saudaraku!"


Happy Reading ♥️😘😘🥰


I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘😘😘