Hidden Girl

Hidden Girl
Jangan tinggalkan aku



Di dalam mobil Rose hanya terdiam enggan menceritakan apa yang terjadi antara dia dan keluarga Alice yang adalah keluarnya sendiri, ia tak ingin melibatkan Felix lagi dalam masalah ini.


"Sayang, lihat lah aku," ujar Felix.


Rose menoleh ke samping dengan tatapan mata yang sendu. "Ada apa?" ujar Rose berusaha setegar mungkin.


"Apa ini sakit?" tanya Felix mengelus pipi Rose yang memerah akibat tamparan keras yang di layangkan oleh Mala.


Rose mengangkat tangannya lalu menunjuk dadanya dengan gemetar. "Disini lebih sakit," air mata yang tak ingin dia tunjukkan akhirnya tumpah juga.


"Ada apa sebenarnya antara kamu dan keluarga Tuan Bayu?" tanya pria itu penasaran, setahu dia gadis ini tidak kenal siapapun selain orang-orang yang dia kenalkan.


Felix terdiam sebentar. "Tuan Bayu?" gumam Felix, ia teringat sesuatu. "Sayang, jangan bilang kalau Ayah mu yang bernama Bayu adalah Tuan Bayu papanya Alice," tanya Felix.


"Benar Tuan," jawab Assisten Ken karena Rose hanya diam tak mampu menjawab.


Felix langsung memeluk Rose saat mendengar jawaban dari Assisten Ken. "Menangis lah sekencang mungkin, aku tahu itu pasti sangat sakit saat kau menyimpannya sendiri, anggap saja aku dan Assisten Ken tidak ada disini" ujar Felix mengusap punggung gadis itu dengan lembut.


"Hiksss,hikssss, Hikss," akhirnya Rose menangis sejadi-jadinya mengeluarkan rasa sedih dan kecewa yang membuat dadanya sesak. "Kenapa aku harus lahir ke dunia ini, Hikss," ujar Rose dengan pilu, siapa pun yang mendengarnya pasti merasakan bagaimana sakitnya perasaan gadis ini.


"Sayang, jangan bicara seperti itu, aku ada disini untukmu," ujar Felix menenangkan gadis kecilnya.


"Meraka tidak menginginkan ku, semua bertengkar dan saling menyalahkan, semua ini terjadi karena kehadiran ku di tengah kehidupan meraka, Nona cantik pasti juga sangat kecewa sama seperti ku Hikss." dia menyalahkan dirinya sendiri atas kesalahan yang tak pernah dia perbuat, orang tua merekalah yang terlalu egois menyebabkan keluarga meraka hancur. "Jika tahu seperti ini akhirnya, aku nggak akan kabur dari rumah dan datang ke kota, biarkan lah aku tak tahu masalah ini daripada merasa bersalah hiksss," ujar Rose sambil terus menangis.


"Sudah sayang jangan menyalahkan diri mu sendiri, ini bukan salah mu," ujar Felix yang terus memberikan dukungan batin untuk orang yang dia cintai, ia sungguh tidak kuat melihat Rose terpuruk seperti ini, gadis yang dia kenal selalu ceria dan sabar berubah dalam hitungan menit.


Rose melepas pelukan Felix dengan kasar. "Tidak Tuan, saya yang bersalah," ujar Rose sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan air mata yang tak bisa di stop. "Ken cepat putra balik aku harus minta maaf ke Nona Alice," ujar Rose dengan panik.


"Ken lanjutkan perjalanan pulang," perintah Felix.


"Jangan Ken, aku harus ke sana dia tidak boleh membenci ku," teriak Rose semakin histeris.


"Rose tenang!" bentak Felix memegangi tangan gadis itu agar berhenti dengan kepanikan nya. "Kita pikirkan baik-baik, saat ini bukan waktu yang tepat, Alice sama seperti dirimu, dia masih terpukul," ujar Felix menyadarkan Rose.


''Hiksss,hiksss, kenapa harus di pikirkan, aku ingin masalahnya selesai dengan cepat," ujarnya dengan lemas, tatapan Rose sudah benar-benar kosong.


Dengan perlahan Felix kembali memeluk Rose dengan harapan gadis itu menjadi sedikit tenang. "Jangan takut, ada aku yang akan selalu menemani mu."


"Kamu harus janji nggak akan ninggalin aku seperti yang orang tuaku lakukan," ujar Rose yang memiliki ketakutan di tinggal oleh orang yang dia sayang.


"Sayang aku berjanji akan bersama mu seumur hidupku," ujar Felix sambil mengeratkan pelukan agar menghilangkan ketakutan yang ada di pikiran gadis itu.


"Terimakasih." ujar Rose.


30 menit kemudian mereka sampai di rumah, Felix menggendong Rose ke kamar karena gadis itu sedang tertidur pulas akibat lelah menangis.


"Sayang kamu harus kuat," ujar Felix setelah merebahkan tubuh gadis itu di kasur.


Cup.


*


"Ken untuk sementara kau urus pekerjaan di kantor, aku harus menemani Rose di rumah, tidak ada yang bisa menjaganya, Mama pulang ke Amerika."


"Baik Tuan, kalau begitu saya pamit," ujar Ken lalu meninggalkan kediaman mewah itu.


"Luhan siapkan kompres untuk memar Rose," perintah pria itu lalu berlalu dari sana.


"Apa yang terjadi?" gumam Luhan, dia tidak berani bertanya karena melihat wajah Felix yang tak bersahabat.


*


Di sudut rumah lain ada seorang Ayah yang sedang memohon agar bisa berbicara dengan putrinya.


"Alice, buka pintu nya Nak, biarkan papa bicara," teriak Tuan Bayu yang menggedor kamar putrinya.


Tidak ada jawaban dari dalam. "Sayang bukalah, papa janji akan jawab sejujurnya apapun pertanyaan yang ingin kamu ketahui, tidak ada lagi yang akan papa tutupi, berikan papa satu kesempatan untuk menjelaskan semuanya," teriak Tuan Bayu dari luar berusaha mendapatkan jawaban dari putri sulungnya.


Ceklek.


Alice akhirnya mau membuka pintu.


"Terimakasih sayang," ujar Tuan Bayu lalu masuk ke kamar anaknya.


"Tanyakanlah apa yang ingin kamu tahu sayang?" ujar Tuan Bayu yang mendapati putrinya tak kunjung mengeluarkan suara hanya menatap nya dengan tatapan kosong.


"Kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Alice berusaha tegar karena sebentar lagi dia akan mendengar kenyataan yang mungkin akan menyakitinya.


"Disini papa tidak ingin menjelekkan Mama tapi semua bermula karena keegoisan Mama," ujar Tuan Bayu memulai menjelaskan permasalahan.


"Ibu Rose adalah Michelle sepupu dari Mama mu, Papa dan Michelle sepasang kekasih yang amat sangat saling mencintai, kami bahkan sudah bertunangan dan dalam beberapa bulan akan menikah," pria paruh baya itu tersenyum saat mengingat masa menyenangkan bersama wanita yang dia sungguh cintai. "Tapi semuanya berubah saat Mama mu menjebak papa dengan obat perangsang, dengan tidak sadar papa melakukan hubungan badan dan akhirnya berujung kehamilan."


"Apa anak yang di kandung mama dengan hal curang itu adalah aku," tanya Alice dengan air mata yang hampir jatuh.


Tuan Bayu mengangguk pelan, air mata Alice seketika terjatuh mengetahui hal itu.


"Jangan menangis sayang, kamu tidak bersalah, yang bersalah itu kami sebagai orang tua yang terlalu egois dan hanya mementingkan perasaan kami, tanpa memikirkan anak-anak kami yang mungkin akan tersakiti suatu saat nanti," ujar Tuan Bayu mengusap lembut rambut putrinya.


"Setelah itu apa yang terjadi antara ibu Rose dan papa?" tanya Alice yang masih ingin mendengar kan cerita itu walaupun nantinya akan mendengar hal yang semakin membuatnya merasa bersalah.


"Pernikahan Papa dan Michelle di batalkan, Papa terpaksa harus menikahi Mama mu untuk bertanggung jawab atas kehamilan tersebut, setelah Papa menikah dengan Mamamu, Papa tetap menjalin hubungan dengan Michelle secara diam-diam, Michelle terus meminta Papa untuk meninggalkan nya tapi Papa tidak mau karena wanita satu-satunya yang Papa cinta hanya dia, dan setahun kemudian Michelle memutuskan menikah dengan orang lain untuk menghindari papa."


"Kenapa bisa ada Rose jika dia menikah dengan orang lain?" tanya Alice yang tidak mengerti.


Happy Reading 🥰😘♥️🥰


I LOVE YOU 3000🥰♥️♥️😘