Hidden Girl

Hidden Girl
Belum terbiasa



"Mama, Stop!" teriak Alice membentak ibu kandungnya itu. "Alice nggak lagi mau dengar mama menyebut nya dengan panggilan anak har...am, dia saudaraku, aku akan melakukan segala cara agar menebus semua yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, siapapun yang ingin menghalangi ku tidak akan aku biarkan termasuk Mama," ujar Alice marah lalu pergi meninggalkan mamanya dengan perasaan yang sungguh kesal.


Brakk.


Alice membanting pintu dengan keras, ia tidak abis pikir dengan pikiran mamanya itu, padahal semua ini terjadi juga akibat keserakahan wanita bernama Mala itu.


Mala menghentakkan kakinya dengan kesal. "Semua ini gara-gara si anak haram itu, dia pasti sudah mempengaruhi Alice supaya mendapatkan segala hal, tidak akan aku biarkan gadis kecil itu mengendalikan segalanya,


Michelle tidak akan aku biarkan putri mu hidup dengan tenang," ujar Mala dengan tangan yang terkepal menahan amarah.


*


*


"Sayang jaga dirimu dengan baik," ujar Felix sedih melepas kepergian Rose.


"Iya sayang, berkunjung lah ke rumah kak Alice jika kamu merindukan ku," ujar Rose sambil tersenyum manis, ia ingin menghibur Felix yang terlihat sangat sedih.


"Aku akan kesana setiap hari," ujar Felix membalas senyuman Rose.


"Kau tidak boleh ke rumahku setiap hari," seloroh Alice yang mendengar percakapan keduanya.


"Rose yang menyuruh mengunjungi nya, apa urusannya dengan mu?" ikut campur saja," ujar Felix kesal dengan kakak kekasih nya itu.


"Itu kan rumahku, jadi terserah aku donk, mau menerima tamu atau tidak," jawab Alice tak mau kalah.


"Rose lihat lah kakakmu itu, selalu mengajakku bertengkar," rengek pria itu mengadu karena kalah berdebat dengan Alice.


"Rose sudah melihat ku dari tadi," ejek Alice.


"Sudahlah kak," lerai Rose, tugasnya selalu sebagai penengah jika Felix dan Alice sedang berkumpul bersama, mereka berdua bisa di definisikan sebagai anjing dan kucing yang tak pernah akur.


"Aku pergi ya," pamit Rose.


Pria itu memeluk Rose sebelum meraka berpisah dalam waktu yang tidak tahu sampai kapan, dia mencium kening Rose sebagai kenangan terakhir. "Bye, aku pasti akan sangat merindukan mu," ujar Felix melepas orang yang dia cintai itu.


Setelah acara perpisahan akhirnya mobil yang di kendarai Alice melaju meninggalkan rumah mewah itu.


Dengan sendu Felix melihat kepergian Rose. "Baru satu menit di tinggal rasanya aku sudah rindu dengan Rose," keluh Felix dengan lesu. "Ahhkkk, aku nggak bisa hidup tanpa Rose tersayang ku," teriak pria itu sambil mengusap wajahnya kasar.


"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Luhan yang dari tadi sebenarnya ada di samping bosnya tapi dia di abaikan oleh semua orang seperti tembusan pandang tidak terlihat.


"Luhan, aku ingin selalu bersama Rose tapi tak bisa," ujar pria itu lesu.


"Saya tidak bisa memberikan banyak saran tapi cara terbaik anda harus menikahi Nona Rose," jawab Luhan.


"Huhh, tidak bisa sekarang, aku harus memberikan Rose kebahagiaan dengan cara membiarkan dia merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang utuh," Setelah mengatakan itu Felix masuk dengan gontai seperti orang yang nggak makan berhari-hari.


"Cinta memang tak selamanya indah," gumam Luhan melihat punggung Tuanya yang mulai menjauh.


*


Rose berbinar saat memasuki rumah mewah itu, bukan karena kemewahannya tapi rasa bahagia yang tak terkira. "Ini seperti mimpi," gumam Rose dalam hati.


Sedangkan Tuan Bayu dan Mala sudah menunggu di ruang tamu untuk menyambut Rose. "Selamat datang sayang," ujar Tuan Bayu tersenyum hangat.


"Aku sangat bahagia," ujar Rose dengan air mata yang sudah mengambang di pelupuk matanya.


Tuan Bayu memeluk anaknya untuk menenangkan gadis manis berusia 19 tahun itu. "Ayah juga sangat senang, akhirnya kita bisa berkumpul."


"Ma, sapalah Rose," ujar Alice.


Dengan terpaksa Mala berpura-pura baik dengan tersenyum palsu di hadapan semua orang agar Alice tidak membencinya. "Halo, selamat datang," ujar Mala sambil memeluk Rose. "Aku akan mengikuti permainan mu anak har...am," gumam Mala di tengah pelukannya dengan Rose.


"Halo Nyonya," jawab Rose.


"Rose jangan panggil Mama dengan sebutan Nyonya, panggil lah dia Mama, mamaku juga mamamu" ujar Alice yang ingin keluarga mereka lebih akrab dan saling menyayangi dengan kehadiran anggota keluarga yang baru.


"Baik, kak" jawab Rose tersenyum.


"Ayo kita ke kamar mu, aku sudah menyiapkannya," ajak Alice menarik tangan adiknya itu, diikuti oleh Tuan Bayu di belakang meraka.


Pria paruh baya itu tersenyum senang melihat kedua putrinya yang akur. "Hari ini adalah hari paling bahagia semenjak Michelle meninggalkan ku pergi untuk selamanya," gumam Tuan Bayu dalam hati.


Mala mengusap semua tubuhnya seolah jijik habis berpelukan dengan Rose. "Cihh, kalau bukan demi Alice tidak sudi aku memeluk anak har...am itu," ujar Mala kesal.


*


Di ruang meeting kantor Felix.


"Ken, panggil Rose untuk makan siang," perintah Felix yang masih sibuk memainkan laptop setelah menyelesaikan meeting hari ini.


"Maaf Tuan, Nona Rose kan tidak ke kantor hari ini," jawab Assisten Ken.


Deg.


"Huhh, aku lupa lagi," gumam Felix.


Pria itu belum terbiasa dengan ketidak hadiran Rose di sisinya, seperti tadi pagi dia memanggil Rose beberapa kali agar bisa mem photo copy sebuah bekas tapi saat tidak ada yang menyahut dia baru tersadar bahwa gadis manis itu tidak ada di ruangannya.


"Ken, pesankan makanan, aku ingin makan siang di kantor saja," perintah Felix yang malas pergi kemana-mana tanpa Rose di sisinya, baru di tinggal beberapa jam sudah tidak ada gairah hidup di wajah pria itu.


"Baik Tuan," jawab Assisten Ken lalu pergi meninggalkan Felix.


Kringg


Ponsel Rose yang ada di atas kasur kamarnya berbunyi tapi sang pemilik tidak mendengar karena dia berada di kamar Alice.


"Ishh, kok nggak di angkat sih," decak Felix kesal. Padahal dia ingin mendengar suara Rose agar menambah semangatnya untuk bekerja. "Pasti ini ulah Alice," tuduh Felix yang selalu menyalahkan kakak dari kekasihnya itu.


*


"Rose mulai besok guru akan datang ke rumah untuk mengajari mu, aku sudah mendaftarkan mu agar bisa ujian kejar paket untuk mendapatkan ijazah, jika kamu berhasil dalam ujian itu, aku akan mendaftar mu di faklkutas terbaik di kota ini," jelas Alice panjang lebar dengan semangat ya menggebu-gebu.


Dia tidak sabar melihat adiknya mendapatkan pendidikan yang layak seperti dirinya.


"Benarkah?" ujar Rose takjub dengan mata yang berbinar.


"Tentu saja, makanya kau harus rajin belajar supaya kita bisa bersama-sama mengurus perusahaan Papa," ujar Alice, ia rela berbagi harta kekayaan papanya demi Rose.


Happy Reading ♥️😘😘🥰


I LOVE YOU 3000🥰😘♥️♥️😘


Please like, comment, and vote