
1 Minggu kemudian.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di sebuah pemakaman. Felix, Rose dan Tuan Bayu turun dari mobil itu, meraka berjalan beriringan menuju salah satu pusara makam yang terlihat sangat terawat.
Rose menaruh satu buket bunga di makam yang bertulisan nama Almarhum ibunya. "Halo bu, namaku Rose, memang kita tidak pernah saling bertemu tapi aku sangat menyayangi mu, maaf selama ini tidak pernah berkunjung tapi selanjutnya Rose akan sering-sering ke sini," ujar Rose menangis.
Felix dan Tuan Bayu menunggu di belakang Rose membiarkan gadis itu meluapkan isi hatinya ke pusara sang ibu tercinta.
"Maaf Rose pernah menyesal telah terlahir ke dunia ini tapi setelah tahu bagaimana pengorbanan ibu agar bisa melahirkan ku, aku sungguh menyesal pernah berkata seperti itu, mulai sekarang aku akan menghargai kehidupan yang sudah ibu berikan untuk ku, Terimakasih Bu, Hikss, semoga ibu bisa bahagia di surga,"
Melihat tubuh Rose yang bergetar hebat membuat Felix mendekati gadis itu. "Sayang, sudah?" tanya Felix mengusap punggung Rose.
"Ayo kita pulang," jawab Rose yang masih terisak.
Felix mengajak Rose untuk kembali ke mobil, Rose sudah duluan masuk sedangkan Felix dan Tuan Bayu masih berbincang di luar mobil. "Tuan Bayu terimakasih sudah mengantarkan kami kesini," ujar Felix ke calon ayah mertuanya itu.
"Tak masalah, Nak."
"Tolong bujuk Alice agar mau bertemu dengan Rose, sudah 1 minggu ini kami mencoba bertemu tapi Alice selalu menolak," ujar Felix meminta bantuan, karena Rose selalu merengek ingin berbicara dengan Alice untuk menyelesaikan masalah.
"Dia tidak pulang selama seminggu ini, mungkin dia tinggal di apartemennya untuk menenangkan diri."
"Apa anda tahu alamat apartemen Alice?"
"Tentu, saya akan kirim lewat pesan."
"Terimakasih Tuan Bayu," ujar Felix.
"Saya yang harus berterimakasih karena telah menjaga Rose dengan baik," ujar pria paruh baya itu, ia merasa sangat berutang budi terhadap Felix.
"Saya sangat mencintai anak anda jadi itu kewajiban saya menjaganya,"
"Anda yang terbaik," ujar Tuan Bayu mengusap lengan Felix lembut.
Felix tersenyum karena mendapatkan pengakuan dari ayah kekasihnya itu. "Ayo kita masuk mobil, Rose sudah lama menunggu kita," dengan hormat Felix membukakan pintu untuk Tuan Bayu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Rose.
"Hanya tentang pekerjaan," jawab Felix.
"Ayah, apa itu benar? kalian tidak membicarakan ku, Kan?" ujar Rose penasaran, tidak mungkin kan mereka membicarakan pekerjaan di tempat seperti ini.
"Hanya sedikit," ujar Tuan Bayu cekikikan.
"Tuh kan," rengek Rose mengeluarkan sikap kekanakannya.
Felix dan Tuan Bayu hanya bisa tertawa dengan tingkah Rose yang seketika cemberut kesal.
*
*
Pagi-pagi sekali Felix dan Rose sudah ada di sebuah gedung apartemen tempat Alice mengurung diri.
Mereka masuk ke lift menuju lantai tempat hunian mewah Alice. "Tuan saya gugup," Rose menggenggam tangan Felix kuat untuk menghilangkan kegugupannya.
"Luar biasa sekali kekuatan gadis kecil ini," gumam Felix dalam hati. merasakan tangannya yang panas karena dari tadi di remas oleh Rose. "Kamu boleh sekali gugup sayang tapi tolong selamat kan tangan ku," ujar Felix tersenyum kecut.
"Apa sih maksud mu, aku sedang gelisah tau," kesal Rose.
"Iya maaf, aku hanya asal bicara," ujar Felix tidak mau membuat prahara di saat seperti ini.
"Ihsss, Kok lift ini cepat banget sampainya," gerutu Rose semakin gelisah karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan Alice, dia belum sanggup akan mendapatkan penolakan dari kakak tirinya itu.
"Dia yang sangat ingin bertemu Alice tapi sekarang dia yang gugup kayak akan menghadapi ujian nasional saja," ujar Felix dalam hati mendengar omelan Rose yang marah dengan lift yang padahal sudah melakukan tugasnya dengan baik.
Setelah beberapa langkah akhirnya mereka berada di depan pintu berwarna coklat itu. "Jangan!" pekik Rose yang melihat Felix akan memecat bel.
"Ada apa?" tanya Felix heran.
"Aku takut," jawab Rose sambil mengigit jarinya untuk mengalihkan kegelisahan. "Apa yang harus aku katakan? bagaimana jika Nona Alice meminta ku pergi dari hidupnya, itu sangat mengerikan," ujar Rose bertubi-tubi, ia memikirkan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi, dari wajahnya saja dia sudah terlihat sangat panik.
"Tenang Rose, itu belum tentu terjadi, Apa kita pulang saja dan mencobanya di lain waktu?" tanya Felix yang menyadari Rose begitu di oleh penuhi ketakutan, Felix sadar Rose adalah tipe orang yang mudah panik.
"Aku harus mengatakan hal yang ingin aku katakan hari ini juga," jawab Rose bertekad bahkan dia sendiri yang memecat bel itu.
Ding dong.
Rose memejamkan matanya saat memencet bel tersebut. "Tenang, semua akan baik-baik saja," gumam Rose dalam hati.
Ding dong , sekali lagi dia mencoba karena pemilik apartemen belum ada yang keluar.
Ceklek.
Alice membuka pintu tanpa melihat layar monitor terlebih dulu.
Saat Alice melihat Rose dan Felix, ia langsung gelagapan dan ingin menutup pintu tapi Rose dengan cepat menahan pintu tersebut di bantu juga oleh Felix. "Saya ingin bicara," ujar Rose sambil menahan pintu sekuat tenaga.
"Pergilah, aku belum siap," ujar Alice yang tak mau kalah.
Dengan terpaksa Felix mengeluarkan tenaga dalamnya untuk mendorong pintu itu sehingga Alice terhuyung ke belakang dan pintu terbuka lebar.
Rose langsung masuk tidak menyia-nyiakannya kesempatan. "Biarkan Rose bicara, menghindar tidak akan menyelesaikan apapun," ujar Felix lalu menutup pintu agar Alice tidak bisa mengusir meraka keluar.
Alice memunggungi Rose karena tidak sanggup melihat wajah adiknya, dia terdiam tak mau berbicara.
"Apa kabar Nona," tanya Rose basa basi.
"Katakan apa yang ingin kau katakan," jawab Alice dingin.
Rose menoleh Felix yang ada di belakangnya untuk menghilangkan keraguan, Felix mengangguk menandakan dukungannya.
"Nona Alice saya minta maaf
kehadiran saya telah menghancurkan kebahagiaan anda, saya tidak pernah memiliki niat untuk menyakiti anda dan ibu anda." Rose menghentikan ucapannya untuk menarik napas dalam-dalam agar mampu melanjutkan ucapnya.
"Jika saya tahu akhirnya akan menyakiti seseorang, Hikss, saya memilih untuk tidak mengetahui siapa keluarga saya yang sebenarnya, itu sangat menyakitkan saat tahu saya terlahir dengan cara yang salah,Hikss, mohon maafkan saya dan ibu saya," ujar Rose sambil menangis, dia tak kuasa menahan lagi.
Dada Alice sangat sesak mendengar tangisan Rose, tangannya terkepal menahan semua kesedihan yang mendalam, sungguh tega dia membuat adiknya merasa bersalah seperti itu.
"Saya tidak akan merebut apapun dari anda, bila perlu saya tidak akan muncul di hadapan anda untuk selamanya, saya hanya memohon satu permintaan, tolong jangan membenci adik anda ini, jangan ada dendam di antara kita," ujar Rose pasrah dengan semua ini.
"Sayang," ujar Felix pelan memegang bahu Rose dengan lembut.
"Itu saja yang ingin saya katakan, kalau begitu saya pamit dulu, semoga anda selalu bahagia," ujar Rose lalu melangkah kan kakinya ingin pergi dari sana.
Happy Reading ♥️😘🥰🙏
I LOVE YOU 3000🥰😘♥️🙏