Hidden Girl

Hidden Girl
gagal



Rose menatap wajah pria itu sejenak. ''Tuan Felix,'' jawabnya pelan.


Felix perlahan naik ke kasur menindih tubuh mungil Rose, membuat gadis itu terjebak di bawah kungkungannya, ia hanya bertumpu kepada kedua lengannya yang kokoh untuk menyisakan jarak antara wajahnya dan wajah gadis manis itu, Rose bisa merasakan deru napas Felix yang berhembus tepat di wajahnya.


''Siapa aku? tolong sebutkan sekali lagi,'' mohon Felix dengan suara seraknya.


''Tuan Felix,'' jawab Rose dengan sangat yakin.


Felix tersenyum senang mendengarnya jawaban itu. ''Rose, jangan salahkan jika aku melakukan lebih, karena kali ini aku mungkin tidak bisa menahan diri,'' ujar Felix yang sudah di butakan oleh hasrat.


Cup.


Dengan keberanian yang luar biasa lagi-lagi Rose mengecup bibir Felix duluan, gadis ini memang menantang harimau yang sedang kelaparan.


Gairah Felix semakin meninggi saat Mendapat lampu hijau dari sang pemilik bibir, dia langsung menyambar bibir lembab semarah ceri itu dengan sangat rakus, gerakannya begitu lihai menuntun Rose untuk mengikuti permainannya yang luar biasa.


Kali ini lidah Felix mencoba menerobos masuk ke mulutnya, dapat Rose rasakan ujung lidah pria itu bersentuhan dengan lidahnya sendiri, dia menekan kepala pria itu untuk menuntut lebih.


Mendapat kode keras dari Rose semakin membuat pria itu memperdalam ciumannya, dia menyusuri semua area yang ada di dalam mulut Rose, bahkan tidak segan juga sesekali menyesap lidah gadis itu untuk memuaskannya dan membuat gadis itu semakin jatuh ke dalam genggamannya yang menggairahkan.


Merasakan badanya yang semakin memanas membuat ia mulai melepas satu persatu kancing kemejanya dengan bibir yang masih saling bertautan, setelah kemeja itu berhasil di buka di lemparlah kain putih itu ke sembarang arah.


Sungguh badan yang sempurna, terlihat jelas enam cetakan otot yang terbentuk di perutnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya kedua sejoli ini kehabisan napas dan melepaskan tautan meraka, Felix dan Rose seketika menarik udara sebanyak-banyaknya untuk menormalkan pernapasan mereka yang terganggu akibat adegan panas yang baru saja keduanya lakukan. ''Apa kamu kepanasan?'' tanya lembut Felix sambil mengelap keringat di dahi Rose dengan tangannya.


Rose hanya mengangguk pelan, dia masih fokus mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan.


Felix bangun dari tubuh Rose lalu mengangkat tubuh gadis itu untuk duduk di pahanya dengan posisi meraka yang saling berhadapan, tangannya bergerak menarik pinggang ramping Rose agar lebih menempel sempurna dengan badanya yang kekar.


''Hehhh,'' lenguh Rose saat tubuhnya yang kecil berbenturan dengan dada bidang itu.


''Sabar, aku akan membantu mu agar terlepas dari hawa panas ini,'' bisik Felix dengan suara seksi sambil perlahan menjulurkan lidahnya untuk mengusap daun telinga Rose hingga basah.


Gadis itu sedikit menggeliat karena di terpa kegelian yang laur biasa, seketika hawa aneh menjalar ke seluruh tubuhnya. ''Ehhh, Tuan.'' Ia melenguh tak karuan.


Tanpa ingin menunggu lama lagi pria itu menarik resleting milik Rose sampai bawah sehingga membuat punggung mulus Rose terekspos sempurna, dia sedikit mengelus punggung mulus itu untuk memberikan sensasi yang berbeda bagi Rose, pria ini sangat senang memberikan pengalaman yang baru untuk Rose.


Dalam sekali tarikan Felix berhasil membuat gaun hitam berenda itu melorot hingga memperlihatkan dua bongkahan kembar yang masih tertutup dengan bra, matanya membulat sempurna saat melihat benda kenyal itu terpampang jelas di hadapannya. ''Sial, kenapa aku harus menghadapi godaan sebesar ini,'' gumam Felix, sementara Rose merasa gugup saat Pria itu hanya terfokus memperhatikan bagian dadanya. ''Apa yang akan dia lakukan,'' pikir Rose sambil mengamati Pria yang sepertinya sebentar lagi akan menerkamnya.


Cup


Felix mengecup dada Rose yang sedikit menyembul di balik bra brokat itu. ''Ini baru pemanasan, sebentar lagi kau akan dimainkan,'' ujar Felix menyeringai.


Dia kembali melahap bibir Rose dengan gerakan yang semakin brutal sehubungan dengan gairah pria itu yang semakin meningkat, tangannya juga dengan lihai mere...mas-re...mas dada berukuran sedang itu, sangat pas ditangannya sehingga membuat pria itu semakin mudah bermain disana. ''Hmmmppp,'' Rose mendesah di sela-sela ciuman panas meraka.


Merasa terganggu dengan bra yang masih melekat disana, dia dengan cepat melepaskan pengait bra itu sehingga dua bongkahan kenyal itu terpampang dengan sempurna yang berhasil membuat Felix lagi-lagi menelan saliva nya dengan kasar, dengan cepat dia merubah posisi dan merebahkan tubuh Rose secara perlahan, lalu langsung melahap benda kenyal itu seperti bayi yang sedang menyusui.


''Akhhhh...,'' Rose mendesah keras, ini adalah kenikmatan aneh yang baru pertama kali dia rasakan, geli tapi tidak bisa di tolak karena tubuhnya menginginkan ini terus berlanjut.


Mendengar ******* Rose membuat Felix semakin bersemangat untuk melahap dua bongkahan yang nikmat itu, dia membiarkan lidahnya bergerilya disana, lalu mengisapnya dengan kuat sehingga tanda merah berhasil tercetak di kedua dada yang sangat membuat Felix candu.


Puas bermain disana Felix pindah ke leher jenjang milik gadis itu, dia menyapu leher itu dengan lidahnya, dengan gerakan perlahan dari bawah hingga atas menggapai dagu Rose. ''Ahhh...'' lagi-lagi Rose di buat mendesah oleh sentuhan pria itu, dia bisa merasakan lehernya yang basah dan hangat akibat terkena saliva pria itu.


Felix turun lagi ke bawah untuk menyesap leher mulus nan jenjang itu, dia terus bermain-main disana sampai mengakibatkan tercetak nya tanda merah di beberapa bagian.


Setelah itu dia kembali ******* bibir yang menjadi kesukaannya, tangan nakal itu tidak lupa menggerayangi seluruh bagian tubuh Rose lalu meremas keras kedua dada yang sangat menggemaskan untuk di mainkan.


''Hmmppp...'' Rose mendorong tubuh kekar Felix dengan sekuat tenaga hingga tautan mereka terlepas, kali ini dia tidak menikmati apa yang dilakukan oleh pria itu. ''Tuan, saya mual,'' ujar Rose sambil menutup mulutnya.


Seketika gairah pria itu menghilang saat mendengar keluhan yang di utarakan oleh Rose, dia langsung menggendong tubuh Rose untuk membawanya ke kamar mandi.


Uweek, uwekk, uweekk, uweekk.


Rose mengeluarkan semua isi perutnya di wastafel, sementara Felix dengan setia mengusap-usap punggung Rose dengan lembut.


''Sudah?'' tanya Felix sedikit khawatir.


''Kepala saya pusing,'' keluh gadis itu sambil memegang kepalanya, dengan tubuh yang lemas.


Secara reflek Felix langsung kembali menggendong tubuh Rose, tapi dia tersadar bahwa tubuh gadis ini hanya di baluti pakaian dalam saja.


Dia menurunkan Rose dan dengan sigap membalut tubuh mungil itu dengan jubah mandi yang dia dapat dari lemari hotel.


Happy Reading 🥰😘🙏😘


I LOVE YOU 3000😘🥰🥰🥰🥰