
Rose tersipu malu karena secara tidak langsung pria tampan itu ingin menikahinya. "Kamu akan sangat direpotkan jika menikah dengan saya," ujar Rose tersenyum manis.
"Aku tidak peduli, aku ingin bersama mu hingga akhir ayat nanti, aku ingin hidup bahagia dan menua bersama mu." ujar Felix menatap Rose dengan mata penuh cinta.
"Saya ke toilet dulu," pamit Rose yang sudah di buat salah tingkah oleh mulut manis Felix.
1 Minggu kemudian.
"Felix, aku mohon ijinkan aku mengajak Rose untuk berkunjung ke mansion ku, Mama ingin mengenal Rose," Mohon Alice yang sekarang sedang mencakup kan tangannya di hadapan Felix yang tengah makan siang di restauran nya.
"Tidak akan," ujar Felix cuek.
"Rose, bantu aku," bisik Alice.
"Nona, saya sudah membujuknya dari satu minggu lalu tapi tidak berhasil, apa yang akan kita lakukan?" bisik Rose balik.
"Coba sekali lagi," bisik Alice.
"Apa yang kalian lakukan? cepat makan lalu kita akan kembali ke kantor," ujar Felix dengan nada yang sangat dingin, sedingin es batu.
"Sayang," Rose berucap dengan nada yang sehalus mungkin, dia perlahan mengusap tangan Felix. "Ijinkan aku ke rumahnya Nona cantik ya, aku mohon, tidak akan lama kok, hanya berkunjung sebentar," bujuk Rose.
"Rose sudah aku bilang tidak ya tidak," Felix sudah mulai kehilangan kesabaran tapi dia berusaha untuk tidak meluapkan amarah di depan Rose.
"Apa alasannya? Nona cantik kan teman saya, dia orang yang baik," ujar Rose yang tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu, masak cuma pergi ke rumah teman tidak boleh.
Felix terdiam, dia juga tidak memiliki alasan yang tepat kenapa dia melarang Rose untuk pergi dengan orang lain, ada feeling yang tidak enak jika dia melepas Rose kepada orang lain, antara takut kehilangan atau memang suatu hal buruk akan terjadi ke gadis yang sangat dia cinta ini, dia juga tidak mengerti dengan perasaannya yang tidak mau lepas dari Rose.
"Kenapa diam? tolong lihat saya," ujar Rose yang di diamkan oleh Felix.
Rose memohon dengan puppy eyes nya saat Felix mulai mau melihatnya. "Aku Mohon," rengek Rose dengan nada yang sangat memohon.
Pria itu tidak bisa berbuat banyak jika Rose sudah memohon seperti ini, Dia menghela napas kasar. "Baiklah, tapi Ken harus ikut dengan mu," ujar Felix, pertahanannya runtuh dan akhirnya mengijinkan mereka pergi bersama.
Rose menoleh Alice untuk mencari persetujuan, Alice yang mengerti maksud Rose langsung memberikan dua jempol. "Baik, Assisten Ken akan ikut dengan saya," Setuju Rose senang.
"Kau memang hebat," bisik Alice mengakui kemampuan Rose, kali ini Alice tahu betul apa kelemahan Felix.
Setelah beberapa menit akhirnya
meraka selesai makan siang, Assisten Ken pun sudah datang untuk menjemput, tadi dia makan di kantor karena harus menyiapkan meeting.
"Ken, ikuti Rose ke mansion Alice," perintah Felix.
"Tapi Tuan ada meeting setelah ini," ujar Assisten Ken mengingatkan.
"Aku akan menanganinya sendiri, kau cukup jaga Rose dengan baik," perintah Felix yang memang tak terbantahkan.
"Baik Tuan,"
"Alice jaga dia dengan baik, awas saja calon istri ku sampai lecet, kau tahu betul apa yang bisa aku lakukan," ancam Felix dengan tatapan yang tajam.
"Baik bos," ujar Alice tersenyum.
"Bye, Sayang," pamit Rose memeluk Felix erat seolah meraka akan berpisah untuk selamanya.
Felix dengan senang hati membalas pelukan Rose dan mencium mesra pipi gadis manis itu. "Bye sayang, selamat bersenang-senang, jangan lama-lama," ujar Felix.
"Hkmm, hkmm," Alice berdehem.
"Rose ayo, kita hanya punya sedikit waktu, nanti pak tua itu marah-marah jika kau terlambat pulang," ejek Alice.
Setelah 30 menit akhirnya meraka sampai di mansion Alice dengan Assisten Ken sebagai supir meraka, meraka turun bersamaan dari mobil.
"Wahh, rumah anda besar sekali Nona cantik," puji Rosa melihat rumah bernuansa klasik modern yang sangat megah itu, mansion Alice memiliki kemewahan sebelas duabelas dengan punya Felix.
"Ahh, biasa saja," ujar Alice dengan rendah hati. "Ayo masuk, Mama ku sudah membuatkan Strawberry cake untuk kita."
"Ken kau mau kemana?" tanya Alice yang menyadari Assisten Ken mengikuti meraka masuk.
"Ya masuk lah, mau kemana lagi," jawab Assisten Ken dengan santai.
"Kau tunggu saja di mobil," perintah Alice.
"Oh, Maaf Nona Alice saya sudah di perintahkan untuk menjaga Nona Rose jadi kemanapun Nona saya pergi saya akan mengikuti nya."
"Kan kami di dalam rumah, tidak mungkin aku menyakiti Rose," ujar Alice yang merasa sungguh tidak di berikan kepercayaan sedikit pun.
"Kalau anda tidak mengijinkan, saya akan mengajak Nona Rose untuk kembali ke kantor," ancam Assisten Ken dengan ucapan yang tak terbantahkan.
"Oke iya kau boleh masuk, kau sama saja seperti bosmu suka mengancam," gerutu Alice.
Meraka akhirnya masuk setelah sempat sedikit berdebat. "Mama aku datang," teriak Alice memanggil mamanya.
Di tempat lain Assisten Jake membuka pintu ruangan kerja bosnya dengan kasar. "Tuan gawat, saya baru saja mendapatkan informasi kalau Nona Alice mengajak Nona Rose ke mansion," ujar Assisten Jake dengan panik.
"Apa!" pekik Tuan Bayu, dia langsung bangun dari kursi kerjanya ingin cepat-cepat meninggalkan kantor dan kembali ke Mansion. "Kita harus cepat, Mala sudah tau tentang Rose dan dia mengira Rose adalah selingkuhan ku, jika mereka bertemu pasti Mala akan menyakiti Rose," ujar Tuan Bayu sambil berjalan menuju parkiran.
Assisten Jake segera melajukan mobil mewah itu dengan kecepatan tinggi.
(Kembali ke Mansion)
"Iya sayang," ujar Mala yang keluar dari dapur.
pyang.
Gelas yang di bawa Mala terjatuh saat melihat Rose, dia tercengang melihat wanita yang di bawa oleh Alice. "Ma, hati-hati," Alice menarik mamanya untuk menjauh dari pecahan gelas yang sudah berserakan di lantai. "Mama nggak apa-apa, Kan?" tanya Alice.
"Dia Rose?" tanya Mala ke anaknya.
"Iya Ma, dia adalah teman Alice yang sering Alice ceritakan."
"Halo Nyonya, saya Ro_"
Plak.
Belum sempat selesai bicara, Rose sudah di hadiahi tamparan oleh Mala. "Aaahkk," Rose meringis kesakitan akibat tamparan yang sangat kuat itu.
"Kenapa Mama menampar Rose!" teriak Alice membentak Mamanya, lalu dia menarik Mala untuk menjauh dari Rose.
"Nona anda baik-baik saja," tanya Assisten Ken cepat-cepat dia menghampiri Rose, jika wanita paruh baya itu ingin menyakiti Rose lagi, dia sudah siap siaga untuk melindungi kekasih bosnya yang sangat berharga ini.
"Alice jangan membentak Mama, jika kau tahu siapa dia, kamu juga akan melakukan hal yang sama seperti Mama," ujar Mala dengan suara yang sangat tinggi bahkan orang di luar pun bisa mendengarnya.
"Nona, lebih baik kita pergi dari sini," ujar Assisten Ken yang dengan cepat mengambil tindakan melihat betapa menyeramkan nya wajah ibu Alice yang siap menerkam Rose.
Happy Reading 🥰😘🙏♥️♥️
I LOVE YOU 3000🥰😘♥️♥️♥️🙏