
Tapi baru beberapa langkah dia berjalan, ada seseorang yang membekapnya dari belakang. "Hmmmmm," Felix berusaha memberontak sebisa mungkin tapi tenaganya tiba-tiba melemah karena sudah terpengaruh oleh obat bius yang orang itu gunakan.
Di sudut tempat di luar bar terdapat Mala yang sedang menyerahkan segepok uang beramplop coklat kepada lelaki yang tadi menyampur minuman untuk Felix. "Terimakasih Nyonya," ujar lelaki itu.
"Kerja mu bagus tapi ingat jangan sampai siapapun tau bahwa aku yang membayar mu," ujar Mala.
"Baik Nyonya, semuanya aman di tangan saya." Lelaki itu memastikan dengan penuh keyakinan.
"Oke, pergilah dari sini," wanita paruh baya itu mengibaskan tangan nya agar orang bayaran tersebut segera pergi dari sana sebelum ketahun oleh orang lain.
Mala tersenyum miring karena sebentar lagi akan ada kehancuran di antara hubungan Felix dan Rose. "Satu langkah lagi, semuanya akan berjalan dengan lancar," ujar Mala mengambil teleponnya di dalam tas untuk menelepon seseorang agar menuntaskan langkah terakhirnya.
Kringg.
Handphone Ana berdering saat wanita satu anak itu sedang makan malam dengan suaminya.
"Nyonya Mala?" gumam Ana.
"Siapa yang menelepon?" tanya Tuan Anderson yang melihat istrinya tidak kunjung mengangkat telepon yang terus berdering itu.
"Biasa urusan wanita, aku angkat di luar ya," ujar Ana berbohong.
"Iya sayang, senyamannya kamu saja," Tuan Anderson mengijinkan tanpa ada rasa curiga sama sekali.
Setelah sampai di luar restauran baru Ana menjawab telepon dari Mala. "Halo, ada apa Nyonya?" tanya Ana pelan sambil tengak-tengok supaya memastikan tidak ada orang yang menguping.
"Datang ke kamar No.107 di hotel XXX," jawab Mala.
"Apa maksud anda Nyonya?" Ana bingung kenapa harus di suruh ke hotel.
"Saya sudah menjebak Tuan Felix dengan obat perang...sang, cari dia kesana dan gunakan kesempatan ini untuk membuat Tuan Felix kembali ke pelukan anda," ujar Mala menjelaskan maksudnya menyuruh Ana kesana.
"Nyonya itu perbuatan kriminal, saya tidak mau melakukannya lagipula kenapa anda melakukan hal itu sebelum mendiskusikan nya dengan saya," Marah Ana karena yang di lakukan wanita itu adalah cara yang curang, Felix tidak mungkin mencintai nya kembali hanya dengan sebuah se...x.
"Hahaha, jangan munafik kamu, cepat kesana!" Bentak wanita paruh baya itu yang tiba-tiba berubah tidak sopan. "Jika tidak, akan ku buat kau kehilangan suami dan anakmu," ancam Mala dengan nada serius yang membuat bulu kuduk Ana berdiri.
"Anda sangat licik Nyonya!" ujar Ana mengepalkan tangannya menahan kemarahan, ia bisa kehilangan Tuan Anderson tapi tidak dengan anaknya.
Putranya itulah yang selama ini membuat Ana selalu berpikir dua kali untuk bercerai dengan suaminya.
"Aku tidak peduli kau menyebut ku dengan sebutan apa, sekarang semua keputusan ada di tangan mu, ingin tetap dengan kemunafikan mu atau datang kesana untuk menyelamatkan keluarga mu dari kehancuran," ujar Mala dengan teganya menjebak Ana, ibu muda ini sungguh salah sudah berurusan dengan wanita gila sekelas Mala.
"Oke, aku akan kesana," ujar Ana yang segera memutus telepon itu, ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu karena bisa saja Mala nekat dan membocorkan segalanya.
Mala tersenyum miring penuh dengan kemenangan saat berhasil mengancam Ana. "Wanita bodoh, kambing hitam yang penurut hahahah," wanita itu tertawa merayakan kehancuran yang akan sebentar lagi Rose rasakan.
"Sayang, aku harus pergi, ada teman ku yang perlu bantuan," pamit Ana dengan panik.
"Aku akan mengantarmu," ujar Tuan Anderson yang melihat kepanikan di wajah istrinya.
"Baiklah, hati-hati, jangan pulang terlalu malam."
"Makasih sayang, Bye." Setelah mendapatkan ijin Ana dengan cepat pergi dari sana menuju hotel yang di instruksikan oleh Mala.
*
Sebuah taksi berhenti di sebuah hotel bintang lima, Ana turun dari taksi dan segera masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.
Setelah sampai di kamar yang tercantum nomor 107, Ana langsung masuk tanpa ada keraguan.
Disana terdapat Felix yang sudah terletak tak berdaya di atas kasur. "Felix bangun," ujar Ana menepuk-nepuk pipi Pria itu. "Nyonya Mala memang licik, apa yang dia lakukan sampai Felix tak berdaya seperti ini," gumam Ana yang sangat marah dengan Mala.
Ana mengambil air agar bisa di cipratan kan ke wajah Felix yang terlihat sangat memerah. "Bangunlah," teriak Ana agar mengusik pria itu.
Ternyata cara Ana membuahkan hasil, Felix bangun dari pingsannya tapi kesadaran Pria itu malah menjadi Boomerang bagi Ana.
Felix menatap Ana dengan tatapan yang tak biasa, ada naf...su yang tersirat disana. "Tolong," ujar Felix dengan suara serak seperti menahan sesuatu di dalam dirinya, matanya begitu sayu sehingga membuat Ana merasa kasian.
"Sadarkan dirimu, Ayo kita pulang," ujar Ana yang menarik tangan Felix supaya bisa berdiri.
Bukannya berdiri Felix malah menarik Ana dan menindih tubuh wanita itu. "Akhhh, Felix apa yang kau lakukan, sadarlah," pekik Ana.
Felix menutup mulut Ana dengan satu jarinya. "Sutttt, Rose ku sayang, kenapa kamu begitu cerewet," ujar Felix sambil tersenyum.
"Sial, dia mengira aku Rose, bisa gawat ini," gumam Ana yang masih memiliki kesadaran penuh.
Ana berusaha mendorong dada Felix agar dia bisa terlepas dari kungkungan pria besar itu. "Lepaskan Felix, aku bukan Rose," pekik Ana yang masih belum menyerah untuk keluar dari dekapan Felix.
Merasa terganggu dengan pemberontak Ana membuat Felix menggenggam kedua pergelangan tangan Ana lalu meletakkan nya di atas kepala wanita itu dan menahannya dengan sekuat tenaga agar tidak bisa terlepas. "Kenapa kamu begitu nakal," bisik Felix tepat di telinga Ana.
Ana berdesir hebat saat Felix melakukan itu, ia terdiam terbuai dengan apa yang di lakukan Felix.
Mendapati Ana yang terdiam membuat Felix mengambil kesempatan untuk melahap bibir wanita itu secara brutal, Pria itu sudah di pengaruhi oleh bira...hi yang memuncak sehingga kehilangan akal, tidak bisa membedakan wanita yang ia cintai dengan wanita yang pernah ia cintai.
Karena terbuai dengan permainan itu, membuat Ana menyerahkan dirinya ke Felix dan membalas ciu...man pria itu.
Setelah puas bermain-main dengan bi..bir Ana, ia pindah ke bawah menye...sap ceruk leher wanita itu sambil berusaha membuka kancing baju Ana satu persatu dengan kedua tangannya.
"Kenapa tidak ada getaran cinta di hatiku, hanya hampa yang terasa, semua ini salah, aku tidak boleh jatuh dalam permainan Felix," gumam Ana yang tersadar seperti nya dia tidak memiliki rasa cinta lagi terhadap Felix.
Saat menyadari dirinya sudah tidak ada rasa, Ana langsung berusaha mengambil sebuah pas bunga yang ada di atas nakas samping tempat tidur dan membenturkannya ke kepala Felix.
"Akhhh," pekik pria itu kesakitan, Ia langsung berguling ke samping sambil memegang kepalanya yang sakit.
Happy Reading ♥️😘🥰🥰
I LOVE YOU 3000🥰😘♥️😘🥰