Hidden Girl

Hidden Girl
Coba dulu



''Walaupun Rose sedikit bodoh tapi dia juga perempuan yang memiliki perasaan, dia pasti mengerti dengan perasaannya sendiri, coba saja dulu bicara pelan-pelan dengan Rose,'' dukung Mama Nayla yang terus mendorong anaknya agar berani untuk maju ke depan melupakan masa lalu yang kelam.


''Felix akan berusaha Ma, tapi berikan Felix waktu,'' ujar pria itu menunduk lesu.


''Mama selalu mendukung keputusan mu, tapi mama cuma mau mengingatkan, perempuan itu perlu pengakuan, jika kamu benar-benar mencintai nya jaga juga perasaannya bukan hanya fisiknya saja, perempuan memiliki hati yang lembut, segala hal pasti mengandalkan perasaan,'' jelas Mama Nayla.


''Terimakasih ma,'' ujar Felix lalu memeluk wanita yang melahirkan nya itu.


''Iya sayang, Mama yakin kamu pasti bisa,'' Mama Nayla membalas pelukan anaknya itu.


*


''Hai bunga, apa kabar, sudah lama kita tidak pernah berbincang,'' ujar Rose berbicara dengan bunga-bunga di taman belakang. ''kalian pasti merindukan ku, Kan?'' Rose terus berbicara sambil menyiram bunga dengan gembira.


''Lalalalala,'' Rose bersenandung ria dengan kesendirian sambil melakukan hal yang dia suka.


''Ihhh kok mati,'' dengus Rose saat selang yang dia menggunakan menyiram bunga tiba-tiba tidak mengeluarkan air. ''Menggangu saja, aku harus bilang ke Luhan kalau ini rusak,'' ujar Rose ingin mencari Luhan.


Buk.


Saat Rose berbalik dia malah menabrak tubuh seseorang. ''Aduh,siap sih,'' kesal Rose, dia menoleh ke atas melihat orang yang dia tabrak. ''Heheheh, Tuan Felix,'' ujar Rose tersenyum kaku.


''Dasar anak nakal, masih sakit berani bermain air,'' ujar Felix dengan suara berat yang mengintimidasi bagi Rose.


''Saya tidak bermain air, hanya menyiram bunga-bunga ini,'' bela Rose yang takut dengan amarah Felix.


''Disini sudah ada tukang kebun yang mengurus, jadi tidak usah repot,'' ujar Felix tidak menerima alasan apapun.


''Bunga-bunga ini rindu sama saya tau, saya penghuni rumah ini jadi saya harus ikut menjaga donk,'' Rose terus memberikan alasan yang tidak masuk akal, sungguh menguji kesabaran seorang Felix yang mempunyai tingkat kesabaran setipis tisu.


Felix menarik napas dalam. ''Roooseee!'' ujar Felix penuh penekanan.


''Iya Tuan, saya mengerti,'' jawab langsung Rose saat melihat raut kekesalan di wajah pria itu.


''Ayo masuk ke kamar istirahat,'' perintah Felix.


''Saya bosan di dalam kamar,'' rengek Rose sambil menghentak-hentakkan


kedua kakinya secara bergantian, bibir Rose sudah manyun pertanda dia sedang kesal.


Felix menggelengkan-gelengkan kepalanya. ''Bisa nggak sehari saja nggak selucu ini, aku kan jadi selalu tidak bisa menolak permintaannya,'' gumam Felix dalam hati.


''Terus apa maumu?'' tanya Felix yang akhirnya pasti mengalah, ya selalu seperti ini, keras di awal luluh dengan mudah di akhir, Rose sangat pandai mengeluarkan jurus andalan.


''Duduk disini sebentar saja, saya janji setelah itu akan istirahat,'' ujar Rose bernegosiasi.


''Apa jaminannya kau bakal menepati janji?'' Felix meragukan janji gadis ini karena dia sering melanggar janjinya sendiri, mana bisa Felix percaya begitu aja.


''Temani saya disini kalau tidak percaya,'' ujar Rose memberi saran.


''Oke, deal,'' ujar Felix menjabat tangan Rose.


Mereka akhirnya duduk di kursi taman sambil menikmati kesegaran yang di keluarkan oleh tanaman di sekeliling mereka, suasananya sangat hening membuat hati keduanya tenang. ''Rose, apa kau menyayangi ku?'' tanya Felix mendadak.


''Tentu Tuan, anda salah satu orang yang penting di hidup saya, anda adalah Tuan penyelamat yang dengan senang hati menolong saya saat sendirian,'' ujar Rose penuh rasa syukur bisa bertemu dengan Felix.


''Dia hanya menganggap ku sebagai penyelamatnya, aku rasa ini bukan waktu yang tepat untuk menyatakan perasaan ke Rose, aku harus


''Ada apa dengan Tuan?'' gumam Rose melihat Felix terdiam dengan pandangan lurus ke depan. ''Tuan jangan melamun,'' Rose mengguncang tubuh Felix.


''Hentikan!'' teriak pria itu. ''aku ini hanya berpikir sejenak bukan melamun,'' ujar Felix, sejujurnya dia kaget dengan guncangan Rose yang mendadak.


''Ohh, saya kan hanya menyadarkan saja,'' ujar Rose ber oh ria.


''Kamu itu kalau berbuat berpikir dulu baik-baik, nanti kalau aku jantungan karena kaget terus pingsan, siapa yang mau tanggung jawab, kamu mana bisa mengangkat tubuh yang besar dan kekar ini,'' omel Felix panjang lebar sambil sedikit membanggakan badanya.


''Uhh, lelah berdebat dengan anda,'' ujar Rose lalu menyenderkan kepalanya ke bahu Felix.


''Kau lelah?'' tanya Felix khawatir, dia mengusap rambut Rose dengan lembut. ''Apa aku terlalu banyak bicara?'' gumamnya dalam hati, menelaah kesalahan yang dia lakukan.


''Hmmm, biarkan seperti ini sebentar saja,'' ujar Rose lalu memejamkan matanya, ia berniat untuk menenangkan diri.


''Istirahalah,'' Felix terus membelai rambut Rose agar memberikan kenyamanan untuk sang pujaan hati.


Beberapa menit kemudian, tidak ada suara sama sekali yang keluar dari Rose, pria itu hanya mendengar dengkuran kecil. ''Dia tidur? gumam Felix.


''Rose,'' panggil Felix untuk mengecek, tidak ada jawaban. ''Dia benar-benar tertidur,'' Felix langsung menggendong tubuh Rose secara perlahan agar tidak membangunkannya.


*


Malam harinya meraka menyempatkan waktu untuk berkumpul di ruang tamu.


''Sayang, kamu sudah minum obat? kamu terlihat masih pucat,'' tanya Mama Nayla khawatir dengan calon mantunya ini.


''Sudah Ma, tadi Tuan Felix yang membawakannya untuk saya, iya, Kan Tuan?'' ujar Rose melempar pertanyaan ke Felix.


''Benar Ma, dia sudah minum obat dengan teratur, memang perlu waktu memulihkan kondisi Rose,'' jawab Felix.


''Kamu harus tidur lebih awal, Felix antar Rose ke kamar,'' ujar Mama Nayla.


''Iya Ma, ayo kita ke kamar,''


Rose hanya bisa menurut dengan wanita paruh baya yang dia anggap sebagai ibunya sendiri, ia sangat hormat dengan Mama Nayla.


Sesampainya di kamar,


Felix menunduk kan badannya sedikit untuk menyelimuti Rose yang sudah siap untuk tidur. ''Selamat malam, tidur yang nyenyak, Muachh,'' ujar Felix sambil mengecup manja bibir Rose, sudah lama ia tidak merasakan kembali bibir manis itu.


Rose langsung kembali ke posisi duduk setelah mendapatkan serangan yang tak terduga, tidak tinggal diam dia menarik leher Felix dan. ''Muachh,'' Rose membalas serangan yang di berikan oleh Felix, gadis itu tersenyum manis setelah melakukan nya.


Felix menyeringai mendapatkan balasan dari Rose, lalu dia duduk di tepi kasur dan menarik pinggang gadis itu agar mendekat ke arahnya.


langkah selanjutnya ia menyatukan dahinya dengan dahi Rose. ''Kau berani memancingku gadis nakal,'' ujar Felix tepat di wajah Rose.


Terdengar suara kecapan di seluruh kamar Rose, itu artinya pria ini mulai melu...mat bibir manis Rose, kali ini dia melakukan dengan lembut tanpa ada nafsu yang menggebu-gebu, mendapatkan perlakuan yang lembut membuat Rose melayang ke atas awan merasakan sensasi yang berbeda dari sebelumnya, ia merasa Felix sedang memanjakan dirinya.


Disisi lain Felix juga merasa senang karena Rose sudah mulai bisa mengimbangi permainannya, tidak rugi selama ini dia melatih Rose.


Happy Reading 🥰😘🙏♥️😘


I LOVE YOU 3000😘♥️🙏🥰😘