Hidden Girl

Hidden Girl
Aku cinta kamu



"Sayang yakinkan hatimu dan tanya hatimu dengan baik, apa yang sesungguhnya kamu rasakan terhadap Felix, hanya sekedar kagum akan sosoknya atau memang ada cinta di dalamnya, hanya kamu yang tahu pasti bagaimana perasaan mu terhadap putra mama," ujar Mama Nayla menjelaskan, ia ingin Rose mencari sendiri apa yang dia rasakan terhadap Felix, tanpa anda unsur paksaan.


Rose terdiam menelaah perkataan panjang lebar yang di utarakan Mama Nayla. "Apakah memang itu yang namanya cinta," gumam Rose dalam hati.


Percakapan antara Mama Nayla dan Rose membuat Felix penasaran. "Apa yang mereka bicarakan?" ujar Felix karena melihat kedua wanita beda generasi itu berbicara dengan ekspresi yang begitu serius.


1 Minggu kemudian.


Di gelapnya malam Felix duduk di salah satu kursi panjang di dekat kolam renang, dia dengan seksama menyaksikan bintang-bintang yang begitu cantik menghiasai langit.


"Tuan, boleh saya ikut duduk disini?" tanya Rose menghampiri Felix yang tengah menyendiri.


"Kau boleh duduk," jawab Felix tapi tatapannya masih sibuk memandangi indahnya malam.


Hening.


Ya itu lah satu kata yang cocok untuk menggambarkan situasi mereka berdua saat ini.


"Tuan tolong lihat saya," ujar Rose yang di cuekin dari tadi, apa sih yang di pikirkan pria itu sebenarnya sampai diam membisu.


Mendengar keluhan dari Rose membuat Felix mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. "Ada apa Rose?" ujar Felix lembut sambil menatap gadis itu dengan hangat.


Cup.


Rose mengecup bibir Felix lalu meletakkan tangannya di dada Felix untuk mengecek detak jantung pria itu. "Apakah ini bisa di katakan berdegup dengan kencang" gumam Rose pelan.


Cup.


Rose kembali mengecup bibir Felix karena dia belum mendapatkan kepastian dari percobaannya yang pertama.


Felix hanya terdiam dan membiarkan Rose melakukan itu padanya, tapi sejujurnya dia bingung dengan tingkah Rose yang tiba-tiba mengecupnya dan tangan mungil itu dengan setia menyentuh dadanya. "Apa yang kau lakukan?" tanya Felix menaikan satu alisnya.


"Diam Tuan, saya sedang mengecek apakah anda mencintai saya atau tidak?" ujar Rose dengan polos apa adanya.


Felix terdiam sejenak mencerna ucapan yang di lontarkan oleh Rose, selama ini dia menahan untuk mengungkapkan cintanya, eh sekarang malah Rose yang membicarakan tentang cinta, dia sungguh tidak percaya, Rose mengangkat topik ini.


"Rose apakah kau mencintai ku?" tanya Felix.


"Tentu saja Tuan," ujar Rose tanpa ada keraguan di dalamnya.


Jawaban itu berhasil membuat mata pria tampan itu berbinar, hari yang selama ini dia tunggu akhirnya tiba, walaupun Rose yang pertama mengakui perasaannya. "Kau yakin dengan ucapan mu?" ujar Felix yang masih belum percaya dengan apa yang dia dengar tadi.


"Saya yaki_"


Tanpa pikir panjang Felix langsung mencium Rose dengan perasaan yang campur aduk ada rasa haru, senang, bahagia, dan perasaan tidak percaya. "Aku juga mencintaimu," ujar Felix setelah mencium gadis itu.


Dia menatap Rose dengan air mata yang hampir tumpah saking bahagianya, dia merasa ini adalah mimpi. "Tuan anda menangis?" ujar Rose melihat air mata mulai mengalir di wajah pria gagah itu, Felix pun tidak menyadari dia begitu melankolis sehingga sampai menangis seperti ini.


"Maaf aku terlalu bahagia," ujar Felix tidak tahu ingin berkata apa lagi dengan situasi bahagia ini.


Tangan besar Felix terangkat mencakup pipi Rose yang mungil hingga wajah kecil itu tenggelam, ia menatap gadis manis itu dengan tatapan yang dalam hingga menembus mata hati Rose yang terdalam. "Rose terimakasih sudah mau mencintai ku, jangan pernah tinggalkan pria yang tidak sempurna ini, aku sangat mencintaimu," ujar Felix penuh harapan dan haru.


"Saya juga mencintai anda," ujar Rose tersenyum manis, walaupun dia bersikap biasa saja sebenarnya dia sangat bahagia karena ternyata pria yang dia cintai juga mencintainya, Rose hanya tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya yang terlalu bahagia.


Felix memeluk erat gadis itu setelah kembali mendengar ungkapan cinta dari Rose. "Ini benar-benar nyata" gumamnya di balik pelukan hangat itu, dia sangat senang gadis yang awalnya dia anggap teman baik sekarang menjadi orang yang sangat dia cinta.


Beberapa hari kemudian.


"Luhan!" teriak Rose mencari Luhan kesana kemari.


"Iya Nona, ada apa?" ujar Luhan yang melihat wajah pucat penuh kepanikan itu.


"Kemana semua barang-barang saya? kenapa tidak ada apapun di kamar saya?" tanya Rose bertubi-tubi ingin segera di berikan penjelasan. "Apa saya di usir dari sini?" ujar Rose lagi, semakin gelisah.


"Nona tenang."


"Bagaimana saya bisa tenang, disini adalah tempat satu-satunya untuk tinggal, kemana saya akan pergi jika saya di usir," ujar Rose nyeroscos tidak memberikan Luhan kesempatan untuk menjelaskan.


"Nona tolong dengarkan saya, itu hanya pikiran anda saja, semua barang anda di pindahkan ke kamar Tuan Felix," jelas Luhan.


"Kamar Tuan?" pekik Rose.


Luhan mengangguk pelan. "Nyonya yang menyuruh pelayan untuk memindahkan semua barang anda kesana," ujar Luhan menjelaskan.


"Oke terimakasih atas infonya, saya akan ke kamar Tuan," ujar Rose lalu berlari menuju lantai atas.


"Nona hati-hati," teriak Luhan yang merasa ngeri melihat Nona mudanya berlari dengan cepat menaiki tangga.


Di dalam kamar Felix, sudah ada Mama Nayla dan putranya yang sedang berdebat. "Mama, apa ini tidak terlalu berlebihan?" ujar Felix yang melihat mamanya sibuk mengarahkan para pelayan untuk mengatur barang-barang Rose sedemikian rupa.


"Kalian itu sudah menjadi pasangan jadi harus selalu berdekatan untuk mengharmoniskan hubungan agar tetap langgeng," ujar Mama Nayla.


"Felix ngerti, tapi kita kan belum menikah dan Rose juga perlu ruang untuk sendiri, walaupun kita pasangan yang saling mencintai bukan berarti harus selalu terikat tanpa ruang pribadi sedikit pun," ujar Felix panjang lebar, pria tampan ini sangat menjunjung tinggi kenyamanan untuk Rose sang pujaan hati, ia tidak mau terlalu memaksa hal-hal yang belum di setujui oleh Rose.


"Anggap saja ini simulasi sebelum kalian menikah, Mama harap sih kamu segara cepat-cepat menikahi Rose," ujar Nayla yang berharap segera punya mantu.


"Aku akan menikahi Rose jika sudah menemukan ayahnya yang dia cari," ujar Felix.


"Makannya kamu yang cepat donk carinya, lebih gencar lagi," ujar Mama Nayla menggebu-gebu.


"Felix sedang berusaha Ma."


"Tuan, Mama," ujar Rose yang masuk ke kamar Felix dengan ngos-ngosan, kebetulan kamar Felix tidak di tutup makanya Felix dan Mama Nayla tidak mendengar pintu terbuka.


Happy Reading 🥰😘♥️ 🥰😘


I LOVE YOU 3000😘🥰♥️♥️