Hidden Girl

Hidden Girl
Kesepakatan



"Anda harus berkerjasama dengan saya untuk memisahkan Tuan Felix dan kekasihnya Rose, jadi kita sama-sama di untungkan, anda bisa mendapatkan Tuan Felix dan saya mendapatkan kepuasan yang saya inginkan" jawab Mala.


"Apa keuntungan anda melakukan ini?" Ana sangat penasaran kenapa ibu dari Alice ini menginginkan perpisahan antara Felix dan Rose, apa hubungan wanita paruh baya ini dengan Felix dan Rose.


"Itu tidak penting, yang terpenting kita saling menguntungkan," jawab Mala yang tidak mungkin bodoh membuka rahasianya sendiri.


"Oke, saya akan mengikuti permainan anda tapi rencananya harus di sepakati terlebih dahulu baru kita akan jalankan" ujar Ana yang tak mau mengambil resiko jika mungkin saja wanita paruh baya ini akan nekat melakukan hal kriminal. "Saya pamit dulu, sampai jumpa lagi," Ana beranjak begitu saja meninggalkan Mala yang berdiri dengan senyuman kemenangan.


"Ternyata tidak sesulit yang aku pikirkan untuk menggapai kesepakatan dengan Ana, dia ternyata bodoh dan penakut" ujar Mala sambil menatap punggung Ana yang mulai menghilang dari pandangannya.


Ternyata selama ini Mala mencari tahu tentang kehidupan pribadi Felix, ia gencar mencari informasi tentang mantan-mantan Felix lalu menyelediki satu persatu dan akhirnya mendapati Ana yang ternyata masih memiliki perasaan dengan pria kaya raya itu.


*


Hari ini Rose dan Alice jalan-jalan di taman untuk menghabiskan waktu dengan suasana yang berbeda, Alice sangat ingin memberikan ruang untuk Rose agar mempunyai kesempatan untuk mengetahui dunia luar tidak hanya terkurung di dalam rumah.


"Rose kamu tunggu dulu disini ya, aku mau beli minuman sebentar," ujar Alice yang sudah sangat kehausan dari tadi.


"Iya kak."


Baru beberapa menit kakaknya pergi dia melihat seorang anak laki-laki yang kebingungan dan sambil menangis. "Kenapa ya anak itu?" gumam Rose.


Dia dengan ragu mencoba menghampiri anak itu. "Adik kecil kamu kenapa?" tanya Rose yang berjongkok berusaha mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak kecil.


"Hikss, Denis akut akak," jawab anak laki-laki yang usianya sekitar 3 tahun itu sambil menangis.


"Berhenti menangis sayang, ada kakak disini yang akan melindungi kamu," ujar Rose menghapus air mata anak itu, sebenarnya Rose tidak tahu harus melakukan apa karena dia belum pernah berurusan dengan anak kecil sebelumnya.


"Akak Denis mau Mama," rengeknya dengan suara serak khas habis menangis.


"Siap Mama kamu?" tanya Rose bingung, dimana dia harus mencari satu orang di taman yang sangat luas ini, Alice juga belum datang untuk bisa dia tanyai.


"Mama Deni_"


"Sayang!" Teriak seorang wanita dari arah kanan tempat meraka berdiri.


"Mama!" bocah kecil yang lucu itu berlari memeluk wanita yang dari tadi dia tangisi.


"Sayang kamu kemana saja? Mama sampai suruh semua paman pengawal untuk mencari mu," ujar wanita itu sambil mengelus rambut putranya.


"Nona Ana? adik tampan ini anak anda?" tanya Rose memotong pembicaraan antara ibu dan anak itu.


"Iya benar, Makasih ya kamu mau menolong nya," ujar Ana yang tak menyangka akan menemui Rose disini bahkan menolong anaknya juga.


"Tidak masalah Nona, saya hanya berusaha membuatnya berhenti menangis," ujar Rose jujur karena belum sempat dia membantu,


Ana sudah datang duluan.


Alice sedikit berlari kecil menghampiri Rose. "Aku kira kamu dimana," ujar Alice sedikit ngos-ngosan.


"Maaf dia tadi menolong Denis," jawab Ana dengan cepat.


"Ohhh, ada Denis ku yang tampan disini," ujar Alice lalu berjongkok dan dengan gemas mengacak rambut anak kecil yang sangat lucu itu.


"Denis angen ante," rengek Denis lalu memeluk Alice dengan hangat, anak kecil itu memiliki kepribadian yang penuh kasih sayang.


Dengan hangat Alice membalas pelukan dari Denis. "Aku juga sangat kangen dengan mu."


"Mama, Denis mau main cama akak ini dan ante Alice," rengek anak yang bernama Denis itu setelah melepas pelukan nya dengan Alice.


"Tidak usah khawatir, aku dan Rose akan senang jika bisa bermain dengan Denis. Iya Kan, Rose?"


"Iya itu benar, saya sama sekali tidak keberatan bermain dengan anak kecil yang lucu dan manis seperti anak Nona Ana," jawab Rose dengan semangat.


"Denis sayang, kita mau main apa?"


"Kejal Denis," ujar bocah itu sambil berlari menjauh dari mereka.


"Kakak akan mendapatkan mu," ujar Rose ikut berlari.


"Tante juga," teriak Alice yang seakan-akan sangat berusaha keras mengejar bocah kecil yang padahal larinya tidak seberapa.


Akhirnya terjadi permainan kejar-kejaran di antara ketiga insan manusia yang memilik rentang usia yang berbeda-beda itu, meraka sangat bersenang-senang dengan suara renyah yang keluar dari ketiganya, walaupun sederhana tapi itu bisa membuat hati seorang Ana menghangat melihat interaksi meraka.


"Seperti nya aku tidak tega menyakiti orang sebaik Rose," gumam Ana yang mengingat kesepakatan nya dengan Mala.


*


1 Minggu kemudian.


Sebuah mobil berhenti di tengah suasana malam minggu yang ramai oleh anak muda yang sedang kencan ataupun sekedar hang out bersama teman-teman menikmati waktu mereka di masa muda.


Felix turun dari mobil lalu masuk ke sebuah bar untuk menemui koleganya tanpa di temani assisten Ken, ia sudah sering mengadakan pertemuan disini sehingga tak bahaya jika kesini sendirian.


"Selamat datang Tuan," sapa koleganya yang memiliki ukuran tubuh lebih besar dari pria itu,


Pria bertato itu berdiri dari meja barnya untuk menyambut Felix.


"Tidak bosan kah anda mengundang saya kesini?" canda Felix ke koleganya yang adalah pemilik bar ini.


Pria yang bernama Alex itu tertawa kecil mendengar ucapan Felix. "Hahaha, Mana mungkin saya bosan, anda selalu membawa banyak keuntungan saat saya berkerjasama dengan anda."


"Anda bisa saja," jawab Felix tersenyum bangga.


"Buatkan minuman seperti biasa untuk Tuan Felix," ujar Alex memerintah bartender.


"Baik Tuan."


Setelah berbincang cukup lama sambil menikmati minuman.


Felix merasakan panas di seluruh badannya. "Perasaan aku tidak minum banyak? kenapa panas gini sih." gumam Felix dalam hati.


"Tuan saya permisi dulu, ada teman saya yang harus saya temui, tak masalah kan anda di tinggal sendirian?" ujar Alex merasa tidak enak tapi dia juga harus menyambut temannya yang lain sebagai pemilik bar yang baik.


"Tidak masalah, saya juga akan pulang," jawab Felix sambil membuka kancing kemejanya karena dia sudah sangat kepanasan.


"Terimakasih, kalau saya tinggal dulu," Alex pergi begitu saja dari sana tanpa memiliki kecurigaan terhadap kondisi Felix.


Pria itu segera keluar dari Bar itu saat merasakan ada gejolak yang aneh yang terjadi pada tubuhnya. "Sial, pasti ada yang menaruh sesuatu di minumanku," umpat Felix yang menyadari bahwa ada yang ingin menjebak dirinya. "Aku harus segara pulang sebelum melakukan hal di luar kendali ku," Felix secara tertatih berusaha untuk menuju parkiran.


Yang ada di pikirannya saat ini adalah Rose sang kekasih, jangan sampai dia melakukan hal yang salah yang mampu membuat Rose kecewa dan sakit hati sehingga bisa merusak hubungan mereka yang harmonis.


Happy Reading ♥️😘🥰🥰😘


I LOVE YOU 3000😘🥰♥️♥️♥️