Hidden Girl

Hidden Girl
Siapa dia?



Tuan Anderson meninggalkan mereka di ikuti oleh Ana, sebenarnya wanita itu tidak rela menjauh dari Felix tapi mau gimana lagi, ini adalah acara ulang tahunya, Felix mau datang saja sudah sebuah keajaiban. ''Aku harus mencari cara lain untuk bicara dengan Felix,'' gumam Ana dalam hati, sambil memikirkan rencana yang aman tanpa ketahuan siapapun.


Rose tidak melepaskan pandangan dari Ana, sepertinya dia mengagumi kecantikan Ana yang sungguh terlihat dewasa dengan model gaun off shoulder yang menampakkan belahan dada besar yang di miliki oleh wanita seksi itu. ''Teman anda semuanya cantik Tuan,'' celetuk Rose.


Pria itu membuang napasnya kasar setelah mendengar pernyataan dari Rose. ''Semuanya dari mana, dia kan baru kenal Alice dan Ana aja,'' gumam Felix pelan tidak setuju dengan penuturan Rose.


''Rose!'' teriak seseorang yang tak lain adalah Alice, dia berjalan cepat menghampiri Rose. ''Hay, Nona cantik,'' sahut Rose saat Alice sudah ada di hadapannya. ''Rose, kamu sangat cantik, tadi aku hampir tidak mengenalimu,'' puji wanita cantik bernama Alice ini.


''Anda lebih cantik Nona,'' balas Rose dengan pujian juga. ''Terimakasih Rose, kamu adalah orang ke 20 yang bilang aku cantik malam ini,'' ujarnya dengan sangat pede.


Felix melengos kesal, rasanya dia pingin muntah mendengar omongan Alice yang dengan bangga mengakui dirinya cantik. ''Dasar perempuan Narsis, kau itu jelek,'' sindir Felix secara terus terang di hadapan Alice.


'' Menyebalkan, kau yang jelek.'' Alice menghentakkan kakinya kesal.


Baru saja dia melayang ke atas awan saat di puji cantik oleh Rose tapi seketika di jatuhkan sampai ke dasar bumi oleh Felix dengan perkataan menohok, rasanya Alice ingin membunuh pria bermulut pedas itu saat ini juga.


Alice dengan cepat mengambil handphone dari tasnya, dia membuka kamera untuk mengecek riasannya, sungguh hebat Felix bisa meruntuhkan kepercayaan diri seorang Alice dengan tingkat percaya diri yang luar biasa. ''Apa katanya tadi, Jelek? orang cantik seperti bidadari begini di bilang jelek, mata dia saja yang buta tidak bila melihat ciptaan tuhan yang agung ini,'' dengus Alice kesal.


Rose tertawa kecil melihat tingkah Alice yang terus mengecek dan memperbaiki penampilan nya, ternyata Alice sangat sensitif tentang penampilan.


''Minuman nya Tuan.'' Seorang pelayan menawarkan minuman ke Felix.


Felix mengambil satu gelas red wine dari nampan pelayan itu, ''Termakasih,''


''Anda Nona,'' pelayan itu menawarkan ke Rose.


''Dia tidak minum itu, ambilkan jus untuk nya,'' sahut Felix cepat.


''Baik Tuan.''


Setelahnya ada seorang pria tinggi berwajah bule datang menghampiri Felix ''Cheers'' ujar pria itu ramah. Felix mengangkat gelasnya lalu bersulang. ''Cheers.'' Lalu mereka menyesap minuman masing-masing.


''How are you, Mr.Felix?'' sapanya.


(Apa kabar, Tuan Felix?)


''Nice, how about you Mr.Hamson?''


(Baik, bagaimana dengan anda Mr, Hamson?) balas Felix.


''Absolutely good," ( sangat baik )


jawabnya tersenyum.


Felix melanjutkan percakapan mereka tentang perkembangan kerjasama bisnisnya yang ada di belahan dunia lain.


Rose yang tidak mengerti dengan percakapan mereka yang menggunakan bahasa inggris hanya bisa diam sambil memperhatikan sekitar.


''Rose, ayo kita pergi menyapa teman ku yang lain, percakapan pria sangat membosankan,'' seloroh Alice yang menarik tangan Rose mengacak pergi ke sisi lain.


Felix menggerakkan jari telunjuk nya untuk menginstruksi assisten Ken agar mendekat. ''Ada apa Tuan?'' tanya assisten Ken yang mengerti instruksi dari bosnya.


''Ikuti meraka,'' bisik Felix menunjuk Rose dengan lirikan mata, terlihat disana Rose tengah di larikan oleh Alice ke tempat lain.


''Baik Tuan,'' Dia segera mengikuti dua gadis muda itu.


''Benarkah?'' tanya Rose yang juga tidak menyangka meraka menyukai hal yang sama.


Alice segera mengangguk membenarkan pertanyaan Rose, dia segera mengambil 2 Strawberry cake untuk dirinya dan Rose.


''Ken, kau mau?'' tanya Alice menawarkan assisten Ken yang sedari tadi hanya diam berdiri sambil sibuk dengan ponsel pintar itu.


''Tidak Nona,'' tolaknya.


''Oke lah kalau begitu,'' ujar Alice menyuap kuenya.


''Umm, sangat enak, lebih enak dari yang sering di bawa oleh Ayah saya,'' ujar Rose mengangumi rasa dari kue yang baru saja dia cicipi.


''Ngomong-ngomong kamu tinggal dimana Rose?'' tanya Alice, karena selama ini dia hanya melihat Rose bersama Felix.


''Saya _''


''Alice kau kenal dengan Rose?'' tanya Ana yang tiba-tiba datang memotong pembicaraan meraka.


''Kenal, Owee kamu sudah tahu Rose juga ya, berarti Felix sudah mengenalkan pacar barunya ke kamu donk,'' sarkas Alice ke teman baiknya ini, dia tidak membenci Ana tapi hanya saja dia kecewa dengan sikap Ana dulu yang meninggal Felix di hari pertunangan mereka.


''Felix nggak bilang Rose pacarnya, darimana kau tahu gadis ini adalah pacar Felix?'' tanya Ana yang terlihat belum terima dengan kenyataan.


''Aku melihat meraka berkencan di restauran ku saat weekend, Oww ya sekedar informasi Rose itu bekerja dengan Felix sebagai sekretaris jadi meraka selalu bersama tak terpisahkan,'' ujar Alice dengan lantang mengompori Ana agar terbakar api cemburu dan iri dengki.


''Aaa, hanya sekedar karyawan, dia bukan saingan ku Alice, jangan coba memprovokasi ku,'' remeh Ana saat dia tahu bahwa Rose adalah sekretaris dari Felix.


''Kalau nggak percaya, coba saja tanyakan pada Felix, aku kan hanya memberi informasi, tidak bermaksud yang lain,'' ujar Alice.


''Benar, kan? Ken'' tanya Alice mengalihkan nya ke assisten Ken.


''Sejujurnya saya tidak bisa mengatakan secara gamblang tapi Nyonya Nayla selalu menyebut Nona Rose sebagai calon menantu nya,'' ujar assisten Ken yang ikut ember, bocor membongkar privasi bosnya.


''Kalian semua pembohong, aku akan bertanya ke Felix,'' kesal Ana lalu pergi dengan kekalahan.


Pukk,


Alice dan assisten Ken mengangkat tangan mereka melakukan tos sebagai tanda keberhasilan meraka untuk memanas-manasi Ana. ''Hahaha, panas dingin itu badan, siapa suruh sudah punya anak masih saja kepo sama mantan pacar,'' ujar Alice menertawakan teman baiknya itu.


''Anda benar Nona,'' setuju assisten Ken dengan pernyataan Alice.


Rose menoleh Alice dan assisten Ken secara bergantian. ''Apa yang meraka tertawakan, terlihat begitu senang,'' pikir Rose bingung.


*


Di tempat lain, Felix ingin keluar dari toilet tapi dengan cepat seseorang mendorong nya kembali masuk.


''Kurang ajar, apa yang kau lakukan?'' pekik Felix yang di dorong secara mendadak oleh orang yang tidak dia kenal, terlihat jelas orang ini memiliki perawakan seorang perempuan tapi wajahnya tidak terlihat jelas karena dia memakai masker.


Ceklek, seseorang mengunci pintu itu dari luar, entah sejak kapan pintu toilet tersebut sudah di labeli dengan kertas yang bertuliskan ''Sedang di perbaiki,''


Happy Reading 🥰🙏♥️♥️♥️♥️🙏


I LOVE YOU 3000🙏🥰😘😘