
''Ma, gimana keadaan Rose?'' tanya Felix saat Mama Nayla terlihat menuju ke meja makan bersiap untuk makan malam bersama.
''Setelah makan dan minum obat suhu badannya sudah mulai sedikit turun,'' jawab Mama Nayla.
''Aku akan melihat Rose,'' belum habis makan yang ada di piring dia sudah mau meninggalkan meja makan saking tidak sabaran memastikan sendiri kondisi Rose.
''Lebih baik habiskan dulu makanannya, Rose sudah di jaga oleh Luhan, jadi aman terkendali,'' ujar Mama Nayla tersenyum. ''Putra Ku ini sekalinya suka perempuan pasti selalu bucin, tapi baguslah hubungan mereka semakin dekat hanya perlu selangkah lagi pasti jadi indah hubungan antara keduanya,'' gumam Nayla dalam hati.
''Iya, Ma.''
Setelah makan malam selesai Felix langsung menuju kamar Rose. ''Luhan kau bisa istirahat, aku yang akan menjaga Rose,'' perintah Felix yang baru datang.
''Iya Tuan, kalau begitu saya permisi,'' Luhan langsung beranjak dari sana setelah menerima perintah, dia tahu bosnya pasti tidak mau diganggu ingin berduaan.
Felix duduk di tepi kasur dengan hati-hati agar tidak menggangu istirahat Rose. ''Maafkan aku tidak menjaga mu dengan baik, sudah meninggalkan mu sendirian tanpa ada orang yang mengawasi,'' ujar Felix sambil membelai wajah Rose yang terlihat masih merah, Pria itu entah kenapa sangat merasa bersalah padahal ini bukan seratus persen kesalahannya, Rose saja tidak sadar dirinya sakit.
Sudah jam 10 malam, Felix masih setia duduk di tepi kasur sambil sesekali mengganti kompres yang cepat mengering akibat suhu badan Rose yang tinggi. ''Akhirnya, dia membaik,'' lega Felix saat mengecek kembali suhu badan Rose yang sudah turun.
''Tuan,'' ujar Rose, dia melihat Felix sedang sibuk memeras handuk kecil .
''Kau bangun? ada yang kau inginkan? ada yang sakit?'' tanya Felix bertubi-tubi.
''Saya sudah membaik, lebih baik anda istirahat, ini sudah malam,'' saran Rose, ia tidak enak merepotkan Felix yang dari kemarin malam selalu menjaganya. ''Anda pasti lelah, Kan?''
''Kau yakin di tinggal sendirian? kau kan belum pulih benar,'' ujar Felix yang ragu meninggalkan Rose, dia memang merasakan lelah yang amat luar biasa tapi rasa khawatir mengalahkan lelah yang dia rasakan.
Rose mengangguk ragu.
''Kau yakin?'' tanya Felix lagi, dia melihat ada tatapan tidak rela yang terpancar di mata Rose, dia tahu betul gadis ini akan manja jika sedang merasa tidak baik, seperti tadi pagi tidak mau lepas dari pelukannya.
''Iya Tuan.''
Felix berdiri ingin meninggalkan Rose tapi. ''Tuan,'' panggil Rose dengan suara pelan tapi masih di dengar oleh Felix.
Felix membalikkan badanya. ''Ada apa?'' tanya pria itu menaikkan alisnya.
''Bisakah anda tidur disini bersama saya?'' tanya Rose menatap Felix dengan puppy eyes nya.
''Benar saja, Kan? dia minta di temani,'' gumam Felix dalam hati.
Dengan pasrah dia kembali menghampiri Rose. ''Tadi katanya suruh istirahat, sekarang minta di temani,'' ejek Felix, pria ini masih saja bisa jahil pada orang yang sakit.
''Anda keberatan?'' tanya Rose sedih, dia menjadi lesu.
''Siapa bilang keberatan?''
Melihat Rose yang hampir menumpahkan air mata, dengan cepat Felix naik ke atas kasur dan merebahkan badannya di samping Rose. ''Jangan menangis sekarang aku ada di samping mu,'' ujar Felix datar.
Rose langsung membalikkan badanya lalu memeluk Felix dengan erat. ''Tuan boleh saya memeluk anda?'' ujar Rose.
Felix menarik napasnya dalam dan mengembuskan dengan kasar. ''Kau sudah memeluk ku, bagaimana bisa menolak,'' dengus Felix dengan kesabaran tingkat dewa. ''Sudah meluk baru minta ijin, dasar gadis ini,'' gerutu Felix dalam hati, tidak berani secara langsung karena nanti gadis ini pasti nangis jika dia ngomong terus terang.
''Terimakasih Tuan,'' ujar Rose langsung mengedusel kan wajahnya di dada Felix. ''Badan anda sangat nyaman,'' ujar Rose lagi secara jujur, gadis ini memang polos selalu mengucapkan apa isi pikirannya secara gamblang tanpa di buat-buat.
Orang yang di puji sampai tersipu malu, jiwa percaya dirinya sampai melayang hingga menembus awan. ''Kau bisa saja,'' ujar Felix sambil senyum-senyum malu.
Rose mendongak kan kepalanya melihat wajah Felix dengan serius. ''Tuan maaf karena selalu merepotkan anda, padahal saya sudah janji tidak akan membuat anda susah tapi dari awal kita bertemu saya selalu merepotkan anda,'' ujar Rose dengan sungguh-sungguh.
''Untung kau sadar selalu merepotkan ku,'' ujar Felix, tapi hanya mulutnya saja seperti itu, aslinya dia yang khawatir berlebihan terhadap Rose, hati dan mulut memang kadang tidak singkron.
''Jika saya sudah menemukan keluarga saya, saya janji tidak akan merepotkan anda lagi, Saya juga akan bilang sama ayah kalau anda adalah orang terbaik di dunia, anda memberikan saya kesempatan untuk merasakan bagaimana rasanya memiliki ibu, saya berharap ibu saya seperti Mama Nayla,'' ujar Rose panjang lebar memikirkan tentang kisah hidupnya kedepan jika sudah menemukan keluarganya.
Hati Felix sakit rasanya saat Rose membahas tentang perpisahan, memikirkan nya saja membuat Felix tak rela. ''Aku rela jika di repotkanmu seumur hidup,'' gumam Felix dalam hati.
''Tuan jangan lupakan saya ya jika kita suatu saat nanti berpisah,'' ujar Rose mengeratkan pelukannya ke badan Felix, sesungguhnya dia juga tidak rela akan meninggalkan keluarga yang sungguh baik hati ini, tapi mau gimana lagi tujuannya kesini memang mecari keluarga aslinya.
Kali ini Felix membalas pelukan Rose, ada rasa takut kehilangan dalam eratnya pelukan itu. ''Aku tidak akan pernah melupakan mu,'' jawab Felix.
''Terimaksih Tuan atas segalanya,'' ujar Rose.
Ucapan terimakasih Rose rasanya seperti hari ini adalah hari terakhir meraka. ''Kenapa ngomong gitu sih, rasanya kau akan meninggalkan ku dalam waktu dekat, aku sungguh tidak rela,'' ujarnya dalam hati, ada ketakutan di diri pria ini.
''Tidurlah, tidak usah membahas itu lagi, ini sudah malam, kau mau cepat sembuh kan?'' ujar Felix tidak mau melanjutkan percakapan yang membuat hati ini sakit.
''Baik Tuan, selamat malam.'' Rose langsung menurut memejamkan matanya.
Cup, Felix mengecup dahi Rose dengan kasih sayang. ''Sepertinya aku memang sudah benar-benar jatuh cinta kepadamu,'' gumam Felix dalam hati, dia menyadari perasaannya terhadap Rose, selama ini dia menolak untuk percaya tapi hari saat Rose mengucapkan perpisahan, itu rasanya sangat sakit dan sungguh tidak rela.
''Aku tidak akan melepaskan mu,'' ujar Felix sebelum ikut tidur mengarungi dunia mimpi bersama Rose.
Ceklek.
Mama Nayla membuka kamar Rose, dia rencananya akan menggantikan Felix untu menjaga Rose tapi dia malah melihat pemandangan yang menyejukkan hati , dua sejoli itu sudah tidur dengan posisi saling berpelukan. ''Semoga kalian bisa bersatu, aku sangat bahagia jika memang benar Rose adalah pelabuhan hati terakhir putra ku ini,'' ujarnya dengan mata berkaca-kaca, dia senang putranya bisa menemukan kebahagiaan baru.
Happy Reading 🥰😘🙏😘🙏
I LOVE YOU 3000🙏😘🥰🥰♥️