Hidden Girl

Hidden Girl
Bangkitlah



Mala berdecak dengan kesal melihat keluarganya yang hanya peduli dengan Rose. "Cih, apa gunanya peduli dengan anak har..am itu, seharusnya biarkan dia mati sakit hati, lalu ikut ibunya yang perebut suami orang itu."


Mala lupa bahwa dirinyalah yang di awal merebut tunangan wanita lain yang tak lain adalah tunangan sepupunya sendiri.


Mala memang wanita yang begitu serakah, ia tidak puas.


padahal sudah membuat Rose menjadi setengah gila karena hubungannya dengan Felix yang hancur begitu saja.


"Jangan marah Mala, seharusnya kau bahagia karena anak har..am itu sudah mulai menderita, lebih baik aku sekarang menyaksikan penderitaan yang dia alami, momen membahagiakan ini tidak boleh terlewatkan begitu saja."


Wanita itu tersenyum miring lalu ikut berjalan menuju lantai 2 tanpa kepanikan tapi malah kebahagian yang terpancar dari raut wajahnya.


Duk, Duk.


Alice mengendorkan pintu kamar Rose dengan keras.


"Rose, apa yang terjadi? buka pintunya, Aku mohon bukalah."


Tidak ada sahutan dari dalam.


Itu semakin membuat Alice dan Tuan Bayu semakin panik.


"Sayang, ini ayah Nak.


bukalah kami sangat khawatir dengan mu, Ayah mohon jangan seperti ini." ujar Tuan Bayu mencoba berbicara dengan Rose.


Tapi tetap tidak ada sahutan.


"Seperti nya akan percuma menggunakan cara yang baik-baik, kita harus mendobrak pintu ini."


Alice tidak ingin membuang waktu, dia berusaha mendobrak pintu kayu yang kokoh itu.


"Alice berhenti, jangan menyakiti tubuhmu, Papa akan carikan kunci cadangan."


"Cepat Pa."


Tuan Bayu dengan cepat beranjak dari sana untuk mencari kunci cadangan kamar tersebut.


"Rose bertahanlah, jangan melakukan hal yang gegabah " teriak Alice dari luar.


Ceklek.


Meraka berhasil membuka pintu kamar Rose setelah berhasil menemukan kunci cadangan.


"Rose, apa yang kau lakukan!" pekik Alice.


Dia sungguh kaget melihat pecahan beling yang sudah berserakan di lantai.


Terlihat disana Rose yang sedang meringkuk di lantai dengan wajah yang menyatu dengan lutut.


Tubuh kurus itu bergetar hebat. Kedua tangan mungilnya menggenggam rambut panjang yang dia miliki dengan sangat erat.


sampai beberapa helai rambutnya terlepas.


Mendengar suara Alice, tak membuat gadis itu terganggu, ia fokus menyiksa dirinya sendiri.


Melihat hal itu sungguh membuat Alice merinding. "Apa yang terjadi dengan adikku? Kenapa dia jadi seperti ini."


Secara perlahan Tuan Bayu dan Alice mendekati Rose lalu berjongkok untuk mensejajarkan tubuh mereka. "Nak, kamu baik-baik saja?"


Hening tak ada jawaban.


"Rose, ayo bangun dari sini, sangat bahaya berada di kelilingi beling seperti ini." ujar Alice yang berusaha bersabar.


Tak ada sahutan dari sang pemilik tubuh, ia hanya diam dengan badan bergetar.


"Rose sadarkan dirimu!"


"Hikss, jangan menghina saudara mu dengan tindakan seperti ini, lihatlah kami, lihatlah pria yang kau sebut Ayahmu itu, dia berdiri dengan wajah yang khawatir, Apa kau tidak menyayangi kami?"


"Jawab Rose! Jawablah!" bentak Alice.


Akhirnya Rose mengangkat kepalanya yang dari tidak meringkuk , ia menatap Alice dengan tatapan kosong. "Kakak." ujar Rose dengan nada yang dingin, tak ada ekspresi senang atau sedih di wajah gadis itu, ia hanya menatap lurus tanpa menunjukan perasaan yang dia rasakan.


"Bangunlah, Nak."


Tuan Bayu membantu tubuh putrinya untuk bangun, Rose hanya menurut tanpa perlawanan.


"Alice ambilkan kotak obat untuk adikmu," ujar Tuan Bayu setelah membantu Rose duduk di sofa.


"Iya pa."


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengintip di balik pintu, orang itu tersenyum bahagia melihat kondisi Rose yang mengenaskan, ia senang melihat gadis itu di liputi penderitaan. "Ehhh, aku tidak menyangka anak ha...ram itu sangat mencintai Felix, rencana ku memang sangat tepat menyerang gadis itu dengan menggunakan Felix sebagai kambing hitam."


Dia tersenyum miring dengan kemenangan yang sudah dia dapat."Michelle lihatlah anakmu sekarang memiliki penderitaan yang sama seperti mu, aku harap kau segera membawanya ikut bersama mu, Maaf aku telah melakukan hal yang terlalu keterlaluan tapi mau gimana lagi anakmu sangat menggangguku, Hahahaha, Maaf Michelle."


Tuan Bayu mengobati luka yang ada di tangan Rose dengan kehati-hatian, ia perlahan mengoleskan obat merah ke tangan mungil yang tergores akibat pecahan beling itu.


Tak ada ringisan yang keluar dari mulut Rose walaupun luka itu sangat perih jika di oleskan obat.


Dia seperti orang yang mati rasa, bibirnya tertutup rapat tanpa suara dan hanya mengikuti perintah yang di berikan padanya.


"Apa sakit?" tanya Tuan Bayu.


Rose hanya menjawab dengan gelengan kepala dan tatapan mata yang kosong, binar mata yang dimiliki nya sudah menghilang entah kemana.


Tangan Alice terkepal marah menahan emosi saat melihat kondisi adiknya yang semakin parah hanya dalam hitungan jam. "Felix Emmanuel sialan, akan ku balas semua penderitaan yang adikku rasakan, aku akan membalas mu dengan penderitaan yang lebih parah, sebagai kakak aku sungguh tidak terima dengan semua ini."


Alice terus merutuki Felix di dalam hatinya, sekarang Alice mulai membenci temannya yang bernama Felix itu.


Tanpa Alice ketahui Felix sama sekali tidak bersalah atas semua ini, Mama yang dia sayangi lah yang melakukan hal jahat ini.


Tak bisa di bayangkan bagaimana reaksi Alice nanti saat tahu siapa dalang yang sebenarnya di balik penderitaan Rose.


"Pa, aku mau ngambil air untuk Rose dulu."


"Biar Papa saja yang ambil, ini sudah selesai kok, kamu jaga adikmu saja."


Tuan Bayu berdiri dengan perlahan lalu beranjak dari sana.


Alice dengan cepat mengantikan Papanya untuk duduk berhadapan dengan Rose.


"Rose bicaralah, jangan diam seperti ini, sangat menakutkan melihat mu diam seribu bahasa, keluarkan lah semua isi hati mu." ujar Alice dengan lembut.


Alice menggenggam tangan Rose yang tidak terluka untuk menyalurkan kekuatan untuk adiknya itu. "Aku ada disini, kakakmu ini tidak akan pernah meninggalkan mu, aku sangat menyayangi mu, tolong percaya padaku."


Tak terasa air mata Alice jatuh begitu saja. "Hikss, jangan mematung seperti ini, aku mohon."


"Kakak."


Akhirnya Rose bereaksi mendengar tangisan kakaknya yang begitu pilu.


"Iya, sayang, aku ada disini.


Jangan takut, menangislah, tidak ada yang melarang mu untuk bersedih, menangislah," ujar Alice yang melihat Rose menahan tangisannya, terlihat jelas air mata yang tertahan mengambang di pelupuk mata gadis itu dan bibirnya yang bergetar menahan tangis.


Rose dengan cepat memeluk kakaknya itu. "Hiksss, Kakak, jangan tinggalkan aku ya, aku mohon tetap bersama ku, Hikss jangan seperti yang lain yang selalu meninggalkan ku, Hikss, hiksss."


"Tenang Rose, aku ada disini bersama mu, tak akan pernah meninggalkan mu, menangislah, keluarkan semua amarah, kekecewaan dan kesedihan yang kamu punya, Menangislah."


Happy Reading ♥️😘😘🥰


I LOVE YOU 3000🥰😘😘♥️😘