
"Sayang, Mereka berbohong, percayalah dengan Mama," ujar Mala dengan panik karena dia sudah terpojok, semua mengeroyoknya dengan tatapan kebencian.
Plak.
"Akhhh," pekik Mala keras, dari suara nya kalian bisa merasakan betapa kerasnya tamparan itu.
Tuan Bayu menampar istrinya dengan sekuat tenaga. "Apa lagi yang kau sangkal? kau yang pembohong!" bentak Tuan Bayu yang marah besar dengan Mala. Istrinya itu sudah membuat malu keluarga.
Semua orang menyaksikan pertengkaran mereka.
Mala memegang pipinya yang terasa panas.
Dengan air mata yang sudah menganak di sudut matanya.
"Pa maafin Mama, semua ini Mama lakukan demi keluarga kita, Mama nggak mau anak ha..ram itu menguasai keluarga kita dan membuat Alice menderita."
"Diam! semua yang kau lakukan bukan demi keluarga kita tapi demi keegoisan mu yang tak ingin menerima Rose di keluarga kita."
Kemarahan Tuan Bayu mulai memuncak setelah mendengar alasan Mala yang tak masuk akal.
"Iya bener, aku sangat membenci anak har...am itu, aku kesal melihat dia bahagia, aku benci saat melihat dia memiliki pasangan yang kaya raya sedangkan anak ku Alice tidak mendapatkan itu, aku benci saat dia lebih bahagia dibandingkan anak ku Alice, aku benci saat anak ku Alice malah sibuk memperhatikan anak har...am itu dan mengesampingkan kebahagiaannya, aku benci karena dia anaknya Michelle, Apa kau puas? aku benci semua hal tentang dia. " teriak Mala histeris sambil menunjuk Rose.
Dia yang sudah terpojok akhirnya tak lagi menutupi sifat jahat yang dia miliki.
"Kenapa Mama membencinya, Apa yang sudah Rose lakukan terhadap Mama? dia tak pernah berbuat hal jahat terhadap Mama tapi kenapa Mama sangat membencinya?" lirih Alice.
Alice mendekat ke arah Mala lalu mencengkram kedua lengan ibu yang telah melahirkan nya itu dengan keras. "Mama hanya sibuk iri dengan Rose dan lupa kehidupan apa yang sudah Rose lalui selama ini, kebahagiaan yang Rose rasakan saat ini tak sebanding dengan penderitaan nya selama 19 tahun di kurung di tengah hutan.
Mama tak pantas membandingkan penderitaan ku dengan penderitaan Rose, Semua yang Rose rasakan juga disebabkan oleh Mama yang terlalu serakah dengan merebut Papa dari ibu Rose, kenapa Mama tak pernah berubah? kenapa Mama mengulangi kesalahan Mama yang dulu? kenapa Ma? Kenapa?" teriak Alice sambil mengguncang tubuh Mala.
"Hikss, Keluarga kita seperti ini karena ulah Mama yang selalu serakah dengan segala hal, Hikss."
Tubuh Alice merosot lemah sampai ke lantai setelah mengatakan itu, dia sungguh kecewa dengan Mamanya yang tak pernah berubah.
"Kakak!" pekik Rose lalu menghampiri Alice yang sudah bersimpuh di lantai.
"Rose, aku minta maaf Hikss," Isak Alice yang langsung memeluk Rose yang sedang berjongkok di hadapannya.
"Berhenti menagis, ini bukan salah kakak," dengan gerakan pelan Rose melepas pelukannya lalu mengajak Alice berdiri tegak lagi.
"Apa yang Mama inginkan agar mau menghentikan semua ini? tak masalah jika Mama membenci aku tapi aku nggak suka melihat Ayah dan kakakku Alice menagis seperti ini, Mama nggak hanya menyakiti aku tapi menyakiti orang yang aku sayang termasuk keluarga yang Mama sayang juga," ujar Rose yang saat ini tepat berada di depan Mala, dia marah besar bahkan dia sangat ingin menampar wanita paruh baya itu tapi dia berusaha menahan amarahnya agar tidak semakin memperkeruh keadaan.
"Aku ingin kematian mu anak har..am!"
Setelah mengatakan itu Mala langsung menarik Rose lalu memutar tubuh Rose menjadi di depannya dan mengunci leher Rose menggunakan tangannya.
Tangan satunya mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya lalu mengarahkan pisau itu ke leher Rose.
Sedikit saja Rose berontak pastilah leher mulus itu akan tergores pisau yang di todongkan oleh Mala.
"Rose!" pekik semua orang berteriak histeris saat melihat Rose di todongkan senjata tajam.
"Lepaskan dia!" bentak Felix dengan keras, terlihat jelas kekhawatiran yang tercetak di wajah pria itu.
Dari berbagai arah seketika banyak pengawal yang keluar dari persembunyian mereka dan langsung menodongkan senjata api ke arah Mala.
Melihat dirinya terancam membuat Mala langsung mengancam Rose.
"Jangan bergerak, jika kau berani berontak habis riwayat mu," bisik Mala tepat di telinga Rose.
Bulu kuduk Rose langsung merinding mendengar ancaman Mala yang sungguh mengerikan.
dia seketika membeku dan menelan ludahnya dengan kasar mendapati dirinya dalam kondisi terancam.
Tak ada lagi yang bisa Rose lakukan selain mengikuti instruksi Mala.
Felix langsung maju beberapa langkah untuk mendekat ke arah Rose dan Mala.
"Berhenti! kalau tidak, akan ku bunuh dia sekarang juga," ancam Mala yang seketika membuat langkah Felix berhenti.
"Jangan sakiti dia, pengawal ku juga sudah siap membunuhmu sekarang juga," ancam Felix balik.
"Hahahha aku tidak takut, lakukan jika berani, kenapa kalian terlihat ketakutan?" tawa Mala begitu nyaring seperti nenek sihir.
"Mala hentikan semua ini, jangan mengambil tindakan yang salah, kamu bisa terseret hukum jika menyakiti Rose, ingat lah Alice anakmu akan membencimu selamanya jika menyakiti saudara yang dia sayang," ujar Tuan Bayu berusaha membujuk istrinya dengan halus, dia mencoba mengesampingkan amarah demi keselamatan Rose.
"Aku tidak peduli, anak har...am ini harus lenyap untuk selamanya," balas Mala yang sudah di kuasai oleh kebencian.
"Ma To...long lepaskan, a..ku su...lit bern...apas," ujar Rose dengan terbata-bata.
"Baguslah, kau bisa cepat mati, Hahahhaahaa," Mala malah tertawa terbahak-bahak mendengar penderitaan Rose.
Semua orang semakin panik saat mendengar keluhan Rose, mereka ingin menolong tapi takut Mala akan berbuat nekat dan benar-benar menyakiti Rose dengan pisau tersebut.
"Papa bagaimana ini? Rose bisa terluka, cepat berbuat sesuatu." ujar Mama Nayla yang mulai panik.
"Tenang Ma, kita harus hati-hati, wanita itu pasti akan nekat kalau kita langsung menyerang dia."
Melihat Mamanya yang semakin keterlaluan membuat Alice harus mengambil tindakan, dia mengambil senjata api cadangan yang ada di saku dari salah satu pengawal.
Lalu menodongkan senjata api itu tepat di kepalanya.
"Jika Rose mati, aku juga harus mati!" ujar Alice.
"Alice jangan bermain-main dengan senjata," teriak Tuan Bayu.
Alice tidak menggubris teriakan papanya. "Hari ini Mama akan siap-siap kehilangan ku jika Mama berani menyakiti saudara ku."
Mala menjadi panik melihat putrinya yang nekad. "Sayang jangan sakiti dirimu, Mama tak akan memaafkan diri Mama kalau kamu samai terluka," ujar Mala dengan sendu, kelemahan wanita paruh baya itu hanyalah Alice, dia bisa melakukan apapun demi anaknya Alice, untuk Alice lah dia hidup, jika Alice tak ada untuk apa lagi dia hidup.
"Jika Mama nggak mau kehilangan ku, lepaskan Rose sekarang juga!" teriak Alice dengan menatap
Mama nya tajam penuh kemarahan.
Happy Reading guys ♥️😘😘🥰🙏
I LOVE YOU 3000🥰😘♥️🥰🥰😘